"Nyesek" Budaya Masyarakat Desa Pringgasela Selatan

Desa Pringgasela Selatan merupakan desa pemekaran dari desa induk yakni Peringgasela yang memilki budaya dan tradisi menenun. Hampir disetiap rumah terpajang alat tenun, juga rangkaian benang warna warni menjadi satu kesatuan disulap menjadi sebuah motif. Desa ini resmi mekar sekitar tahun 2010 silam, dengan luasan 465 Ha jumlah penduduk 8.444 jiwa terdiri dari 3 (tiga) kekadusan dan 44 RT (profil 2011).

Tenun merupakan teradisi yang dilakuan sejak nenek moyang masyarakat Desa Peringgasela. Tenun, pembuatan kain atau sejenisnya dengan rangkaian benang menjadi satu kesatuan menggunakan alat khusus tradisional yang di sebut dengan Rerantok. Dengan kata lain tenun adalah pembuatan kain yang dibuat dengan prinsip yang sederhana, yaitu dengan menggabungkan benang secara memanjang dan melintang, bersilangnya antara benang lusi dan pakan secara berganitan. Kain tenun biasanya dibuat dari benang serat kayu, kapas, sutra dan lainnya, (Wiki Pedia 2019).

Desa Peringgasela Selatan, khusunya perempuan setiap hari melakukan aktivitas tenun di sela waktu luang. Menurut hasil pendataan sebuah komunitas yang tergabung dalam Kelompok Nine Penenun atau KNP, bahwa terdapat 343 orang penenun yang tercatat pada tahun 2016. Mereka berusia sekitar 20 – 70 tahun.

Ternyata, aktivitas tenun ini jarang digeluti oleh kaum laki-laki, hanya ada satu dua orang saja. Mungkin, mereka menganggap bahwa nyesek itu kegiatanya para kaum perempuan sebagai kegiatan rumahan. Sedangkan laki-laki adalah tulang punggung keluarga yang menghasilkan finansial untuk kebutuhan keluarga. Sehingga harus bekerja diluar rumah.

Padahal mendengar dari cerita warga setempat bahwa tenun diajarkan oleh seorang tokoh Islam (Tuan Guru). Tuan Guru adalah seorang lelaki yang memiliki pengetahuan agama islam melebihi dari masyarakat biasa. Tokoh ini bernama Lebai Nursinih, ia datang dari Sulawesi guna menyebarkan agama Islam.

Sambil memperkenalkan agama Islam ke penduduk, iapun memgajarkan pula cara bertani dan menenun. Menenun guna memanfaatkan bunga-bunga kapas yang tumbuh liar disepanjang huma. Di kumpulkan, dijemur lalu di pintal menggunakan alat sederhana yakni ganti (gantian), patuk, saka dan kanjian guna diproses menjadi benang lalu kemudian di tenun. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru