Lombok Timur Adalah Bagian Dari Desa Saya!

Indonesia tidaklah diterangi oleh obor besar yang ada di Jakarta, namun diterangi oleh lilin-lilin kecil yang ada di Desa. Ungkapan yang lahir dari rahim pemikiran salah satu proklamator Bangsa Indonesia ini (Moh. Hatta), mampu mengubah paradigma dan interpretasi tentang pembangunan, dan telah “menyadarkan” para pemangku kepentingan bangsa ini (meskipun agak terlambat dan belum semuanya).

Lahirnya Undang-Undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah hukum tertulis sekaligus bukti yang cukup “sahih” dan semakin menyata-tegaskan kesadaran itu. Bahwasanya, pembangunan tidak lagi terpusat pada satu titik saja (sentralisasi) melainkan harus menyebar sampai ke plosok-plosok Desa (Desentralisasi). Selain itu, dengan adanya revolusi paradigma ini, sistem pemerintahan juga mengalami perubahan yang cukup signifikan, di mana tiap-tiap desa diberikan otonomi untuk menentukan kebijakan dan mengembangkan potensi yang ada(Buttom-Up).

Dan sekarang!!!

Sejak pemikiran itu lahir dari rahim pemikiran Moh. Hatta.

Pemerintah pusat menerjemahkan dan mengimplementasikannya, (meskipun terlambat, daripada tidak sama sekali).

Dan Sudah Genap 74 Tahun Indonesia merdeka.

Pertanyaannya?

Sudahkah semua jajaran pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kecamatan, memahami dan mengimplementasikan konsep tersebut dalam “aktivitas berkebijakan” pada instansi masing-masing? Ataukah sebaliknya, salah satu atau beberapa jajaran birokrasi tersebut masih berpikir dan berkebijakan dengan cara-cara kuno dan kaku?.

Mari sama-sama kita cermati ide yang dijadikan kebijakan oleh salah satu jajaran birokrasi tersebut.

Beberapa bulan terakhir ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur sedang giat-giatnya mempromosikan branding “Pesona Gumi Selaparang”. Branding ini diharapkan mampu mengangkat kembali harkat dan martabat pariwisata DI DAERAH INI. Sebagai penduduk yang lahir dan besar di Lombok Timur, saya pribadi awalnya merasa bangga dan mengapresiasi kerja keras ini.

Brand ini kemudian diujicobakan dalam sebuah even yang diselenggarakan untuk memperingati HUT Kab. Lombok Timur pada tanggal 25-31 Agustus 2019 dan berpusat pada satu lokasi. Even akan mengeksplor beberapa kekayaan budaya di Kabupaten Lombok Timur. Salah satunya adalah “Dulang”.

Untuk mensukseskan master plan ini Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memberikan tugas yang “agak berat” kepada bapak-bapak camat, yakni dengan memberikan titah kepada seluruh camat untuk “urungan Dulang”. Bapak-bapak camat kemudian meneruskan titah tersebut pada para Kepala Desa. Rencananya, Dulang-Dulang ini akan dikumpulkan dan diarak di sekitar kantor Bupati Lombok Timur.

Konsep dan budaya tentang Dulang ini memang ada di Lombok Timur yakni, di Desa Pengadangan Kec. Pringgasela Dan Di Desa Lenek. Di Desa Pengadangan Kirab 1000 Dulang adalah salah satu inti dari acara Betetulaq dan telah ditampilkan dalam Opening Ceremony Pesona Budaya Pengadangan. Betetulaq sendiri adalah budaya asli Desa Pengadangan yang diwariskan oleh para pendahulu desa ini. Ritual ini biasanya dilaksanakan ketika telah terjadi sebuah kejadian yang mengakibatkan masyarakat merasa takut dan gelisah. Dan untuk memohon kepada Allah SWT, supaya musibah ini tidak terjadi lagi maka dilaksanakanlah ritual ini. Ritual ini dilakukan tepat di tengah-tengah perempatan desa, dan melibatkan seluruh masyarakat. Para perempuan biasanya memasak di rumah (membuat dulang) dan seluruh laki-laki berada di Perempatan dengan menggunakan pakaian adat lengkap untuk melakukan doa bersama dipimpin oleh Kiyai Desa. Selesai do’a, datanglah para perempuan dengan membawa dulang sebagai sajian untuk “begibung” (Kirab 1000 Dulang).

Ritual ini dilakukan tiap tahun dengan dasar historis dan filosifis yang jelas dan telah menjadi nilai-nilai yang mengikat seluruh masyarakat Desa Pengadangan dalam bingkai persatuan dan kekeluargaan.

Secara administrasi Desa Pengadangan dan Lenek sudah terbukti secara Defacto dan Dejure berada di kawasan Lombok Timur. Jika mengacu pada konsep desentralisasi yang sedang digiatkan oleh pemerintah pusat, kenapa kemudian even Gumi Selaparang dengan menampilkan arak-arakan dulang ini tidak dilakukan di dua desa tersebut? Ataukah inisiator dari even ini masih berpikir lama dan berspektif usang? Tidakkah beliau-beliau itu berfikir bahwa potensi desa haruslah dikembangkan dan didukung bukan sebaliknya, ditiru dan dihimpit? Atau pemahaman mereka tentang budaya masih “kurang dididik”?

Silahkan simpulkan sendiri!

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru