Menggugah Kecintaan Terhadap Mbojo

Pada acara pembukaan pemilihan Sampela Mbojo 2019, saya diberikan kesempatan untuk memaparkan secara singkat tentang sejarah dan budaya Mbojo kepada adik adik peserta.Kecintaan terhadap Mbojo tentu tidak dimaksudkan untuk membangkitkan semangat primordial yang sempit, tetapi bagaimana mencerahkan mereka untuk mengetahui dan mencintai warisan terbaik yang dimiliki Dana Mbojo.

Pewarisan dan persemaian nilai nilai kearifan lokal adalah hal terpenting sebagai cara kita memaknai sejarah dan budaya tanah ini. Maka pewarisan nila nilai positif yang telah ditorehkan oleh para leluhur adalah mata rantai peradaban yang tidak akan pernah putus sepanjang Zaman.

Dihadapan Miss Grand NTB Sidra, Kabid Ekononi Kreatif Dinas Pariwisata Kabupaten Bima Masykur Romeo dan peserta, saya kemukakan bahwa Bima tidak sekecil saat ini.Bima di masa lalu adalah Melting Pot sebagai wadah pertemuan arus peradaban dari Timur, barat dan utara. Chambert Loir mengakuai bahwa pelabuhan Bima telah menjadi pelabuhan yang ramai sejak abad ke 10 Masehi.Abad ke 15 Kerajaan Bima melakukan ekspansi ke Manggarai, Alor dan Solor. Semuanya terekam secara apik dalam berbagai catatan hingga saat ini. Era kesultanan Bima telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan peradaban Islam di tanah ini.

Kekayaan khasanah Budaya Mbojo yang berpadu dengan keindahan alam tersebar dari Tambora hingga Sape, Dari Parado hingga Sangiang adalah titipan berharga untuk kita jaga dan lestarikan. Perhelatan Pemilihan Sampela Mbojo sejak tahun 2002 telah banyak mencetak insan yang cerdas dan terampil, terutama di bidang pariwisata dan budaya.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru