Sejarah Tenun lestarikan Budaya Lokal Menjadi Aset Bangsa

Keragaman budaya merupakan kenyataan yang ada sepanjang sejarah kehidupan manusia. Keragaman budaya memberikan makna unik bagi kehidupan suatu bangsa, yang harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena kesadaran terhadap keragaman budaya memungkinkan bangsa itu memenuhi kebutuhan dan memperoleh ketahanan hidup, mencapai keterwujudan diri sebagai mahluk, mencapai kebahagiaan dan mengisi makna hidup. Ditegaskan pula dalam Pasal 1 ayat (3) dan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri DalamNegeri Nomor 52 Tahun 2007 bahwa:
Pelestarian adalah upaya untuk menjaga dan memelihara adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat yang bersangkutan, terutama nilai-nilai etika, moral dan adab yang merupakan inti dari adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat, dan lembaga adat agar keberadaannya tetap terjaga dan berkelanjutan. Pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.
Menurut Heru Nurrohman menyatakan bahwa:
Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaanya dan secara historis bangsa Indonesia berangkat dari keberagaman budaya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa. Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa yang ada di daerah tersebut. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman budaya yang tinggi. Terlihat dari banyaknya suku, ras, bahasa dan agama yang berbeda dimasing-masing wilayah Indonesia.
Keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia memiliki karekteristik yang berbeda-beda yang dipengaruhi berbagai macam-macam faktor geografis, politik, ekonomi dan agama sehingga menjadikan Indonesia negara yang kaya akan keanekaragaman budaya. Baik dari segi adat istiadat, kesenian, musik tradisonal sebagai bagian dari pengetahuan tradisional yang menjadi warisan nenek moyang yang masih diwariskan sampai sekarang. Sehingga dengan keanekaragaman seni dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia tersebut, selalu dilirik bahkan diklaim oleh bangsa lain.
Selanjutnya menurut Trisna Nurmeisarah menyatakan bahwa:
Salah satu dari warisan budaya yang dimiliki oleh Indonesia yakni keragaman kain tenunan tradisional. Melalui kain tenunan tradisional tersebut dapat kita lihat kekayaan warisan budaya yang tidak saja terlihat dari teknik produksi, aneka ragam corak serta jenis kain yang dibuat. Akan tetapi, dapat juga dikenal berbagai fungsi dari arti kain dalam kehidupan masyrakat Indonesia yang mencerminkan adat istiadat, kebudayaan dan kebiasaan budaya (cultural habit), yang bermuara pada jati diri masyarakat Indonesia.
Jelas bahwa keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia sangatlah banyak. Kain tenun tradisional merupakan salah satu budaya yang mempunyai keunikan tersendiri dengan begitu kekayaan yang di miliki Indonesia dari seni dan budaya sangatlah tinggi.
Selanjutnya Menurut Alimuddin Mesir menyatakan bahwa:
Kerajinan tenun tradisional sudah ada sejak zaman prasejarah terutama di daerah pedalaman Kalimantan dan Sulawesi. Tenun teradisional mulai berkembang setelah masuknya pedagang-pedagang dari India dan Arab yang membawa kain Tenun ke Indonesia, khususnya masyarakat pesisir. Setelah itu tenun berkembang pesat di beberapa Daerah seperti Lombok, Bima, Dompu, Bali, NTT, Lampung. Kerajinan tenun tradisional di wilayah Pulau Lombok telah ada sejak abad ke-14 Masehi. Seiring dengan berkembangnya perdagangan yang ditandai dengan banyaknya para pedagang sarung dan rempah-rempah yang berasal dari Sulawesi, Palembang, Jawa, Gersik dan Banten. Mula-mula para pedagang ini datang untuk berdagang, kemudian banyak diantara mereka yang menetap dan bertempat tinggal bahkan mendirikan perkampungan-perkampungan. Melalui para pedagang muslim ini juga, agama islam mulai memasuki Lombok dan di perkuat dengan datangnya pasukan Sunan Prapen mengislamkan raja-raja di Lombok.
Pada zaman kolinial, ketika Lombok menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Belanda, penduduk dipaksa bekerja dibidang pertanian dan pembangunan jalan-jalan dengan imbalan yang tidak sebanding. Sedangkan ibu-ibu dan gadis remaja dipaksakan nyesek (bertenun) kain Gegerot yang disebut ragi Genil atau KNIL untuk keperluan serdadu-serdadu Belanda. Pada zaman penjajahan jepang, rakyat sangat menderita. Hasil pertanian dan harta benda rakyat diambil untuk kepentingan Asia Timur Raya.Para petani diwajibkan menanam kapas dan tarum untuk bahan membuat kain. Pintalan rakyat serta hasil tenuan kain disita, para pengerajin, hanya boleh menenun untuk kepentingan jepang. Ibu-ibu dan gadis-gadis dipaksa untuk menenun kain Osap, dan Bebasak sejenis kain kapan yang sangat jarang, untuk perban tentara jepang yang terluka dan tewas di medan perang. Sejak saat itu kain tenun tradisional (gedogan) ini terkenal dan dibuat secara masal di Lombok. Kerajinan tenun tradisional (gedogan) diwarisi turun temurun dari generasi ke generasi hingga saat ini, di Kabupaten Lombok Timur mengembangkan tenun sebagai pekerjaan rumah tangga khususnya kaum ibu. Tetapi yang masih bertahan sampai saat ini terdapat di Desa Pringgasela, Kembang Kerang, Dasan Nyiur, Sukaraja dan Desa Sembalun.
Seiring perkembangan zaman kerajinan tenun tradisional di Lombok berkembang secara pesat yang dahulunya para pengerajin dipaksa bertenun untuk kepentingan jepang dan sampai sekarang ini kerajinan tenun tradisional sebagai bagian penegetahuan tradisional masih tetap di produksi sebagai pekerjaan rumah tangga masyarakat di Lombok.
Kerajinan tenun tradisional di Desa Pringgasela saja telah ada seiring dengan lahirnya Desa Pringgasela, yaitu sekitar tahun 1522. Awal keberadaannya sampai sekarang ini kerajinan kain tenun tradisional masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Desa Pringgasela, karena disamping memperhitungkan nilai estetika juga nilai guna yang bersifat praktis dapat digunakan untuk kepentingan sehari-hari dan secara historis di Desa Pringgasela pada khususnya bagi seorang gadis, menenun adalah sebuah keharusan yang harus dikuasai. Kemampuan menenun merupakan salah satu bagian dari kebudayaan kearifan lokal Desa Pringgasela. Sebelum menikah, seorang gadis harus membuat tenunan untuk calon suaminya yang nantinya selembar kain tersebut menjadi lambang cinta dan kepatuhan. Karena menenun disamping memperhitungkan nilai kearifan lokal dengan menenun juga seorang wanita bisa membantu suaminya dalam mencukupi kebutuhan hidup. Kondisi tersebut yang masih ada sampai saat ini, dimana kain tenun tradisional masih tetap dilestarikan sebagian masyarakat Desa Pringgasela khususnya kaum ibu-ibu juga sebagai salah satu mata pencarian dalam mencukupi kebutuhan hidup masyarakat.

bersambung....

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru