Nilai Luhur Tradisi Maleman Muslim Sasak


KM. Sukamulia - Tradisi Maleman adalah tradisi religi yang dilaksanakan oleh hampir seluruh masyarakat islam di pulau Lombok. Tradisi ini dilaksanakan berkaitan dengan peringatan malam diturunkannya kitab suci Al-Qur'an. Dalam pelaksanaan tradisi ini terdapat nilai luhur yang tentunya sangat penting bagi kehidupan setiap pelaksananya.

Tradisi Maleman merupakan konsep tradisional perayaan Nuzulul Qur'an dalam kalangan masyarakar pulau Lombok. Kegiatan religius yang satu ini dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Lombok. Akan sangat disayangkan apabila dikemudian hari, tradisi ini hilang akibat berkembangnya paham-paham radikal yang sedikit-dikit mengkelaim bahwa tradisi yang tidak dianjurkan oleh Al-Qur'an dan Hadits adalah bidaah dan bahkan diharamkan.

Di sebagian belahan bumi Lombok ini, ada juga yang melaksanakan tradisi maleman ini untuk menanti kedatangan Laylatul Qadar yang ditandai dengan menyalakan lampu pada malam ganjil di 10 malam terahir ramadhan. Lampu yang dinyalakan ini dikenal dengan istilah “dile malem atau dile jojor”, terbuat dari buah kemiri yang dibakar hingga menghasilkan minyak, kemudian dibalur dengan kapas dan dililitkan pada setangkai kayu kecil menyerupai sate. Lampu tersebut dipasang di pintu gerbang rumah penduduk sehingga kampung makin benderang. Namun stok buah kemiri kian habis bahkan menghilang dari pasaran maka warga menggantinya dengan obor yang terbuat dari bambu yang diisi minyak tanah dan diberi sumbu.

Sebagai seorang Muslim Sasak tentunya kita sebagai pelaku tradisi tersebut harus mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Dengan mengetahui maknanya maka kita tidak akan terombang ambing oleh perkembangan zaman dan akan terus mewariskan tradisi budaya tersebut ke generasi penerus kita. 

Hal itulah kiranya yang membuat kami terpanggil untuk menelusuri makna atau nilai yang terkandung pada Tradisi Maleman dan menulisnya supaya orang lain juga dapat mendalami makna atau nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.


Tradisi Maleman dilaksanakan pada malam-malam ganjil di Bulan Ramadhan, yakni mulai dari malam ke-17 hingga malam ke-29. Terkait dengan pelaksanaan tradisi ini, di setiap desa maleman dilaksanakan secara terjadwal, dimana masing-masing kampung diberi jadwal secara bergiliran dan jadwal itu dilaksanakan terus menerus (setiap tahun).

Tradisi Maleman dilaksanakan di hampir seluruh pulau Lombok dengan cara yang hampir sama. Pada pelaksanaannya, tradisi Maleman diawali dengan menyalakan lampu yang dibuat dari bahan kapas dan biji buah jarak yang dalam bahasa Sasak disebu Dile Jojor.


Pada pelaksanaan Tradisi Maleman, masyarakat menyalakan Dile Jojor di setiap sudut rumah dan gang perkampungan mereka. Dila Jojor dinyalakan beberapa saat sebelum adzan magrib dikumandangkan hingga menjelang datangnya waktu shalat isa. Saat Dile Jojor hendak dinyalakan, masyarakat memadamkan lampu yang ada di sekitar rumahnuya. Setelah Dile Jojor padam, lampu dinyalakan lagi.

Menurut local genius masyarakat Lombok, dinyalakannya Dila Jojor adalah perlambang turunnya Al-Qur'an yang menjadi penerang dan petunjuk bagi manusia secara universal dan secara khususnya bagi umat islam. Sesaat sebelum Dile Jojor dinyakan, lampu rumah dimatikan, hal ini dijadikan perlambangan bahwa sebelum Al-Qur'an diturunkan, manusia berada dalam keadaan gelap gulita (jahil alias bodoh).

Seiring dengan datangnya waktu magrib, di rumahnya masing-masing, warga melaksanakan kegiatan dzikir dan doa bersama keluarga mereka. Hal ini adalah perlambangan dari ungkapan rasa syukur atas diturunkannya Al-Qur'an sebagai penerang hidup umat manusia.

Usai berbuka puasa dan shalat magrib, anak-anak, remaja dan para pemuda keluar membawa Dila Jojor dan obor yang sudah dinyalakan. Mereka berkumpul dan berkeliling kampung membawa Dile Jojor dan obor sambil melantunkan syalawat dan lagu-lagu berbahasa sasak yang bersi syair kebahagiaan. Mereka berkeliling kampung hingga menjelang waktu shalat isa. Hal ini dilaksanakan sebagai perlambang bahwa turunnya Kitab Suci Al-Qur'an membawa kebahagiaan bagi umat manusia dan mensyarkan ajarannya adalah kewajiban bagi setiap umat islam.


Selesai shalat tarawih, warga berbondong-bondong membawa hidangan (sanganan: sasak) ke masjid. Hidangan yang mereka bawa itu akan disantap oleh jammah yang mengikiti pengajian Nuzulul Qur'an yang berkumpul di masjid. Pengajian dilaksanakan sebagai wadah mensyarkan betapa pentingnya menghidupkan syar dakwah, terutama dakwah mengenai pentingnya memahami dan menerapkan nilai-nilai atau kandungan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.


Pada sebagian masyarakat Lombok, pada perayaan Maleman mereka membawa hidangan ke masjid atau mushalla di kampung mereka sebelum magrib dan hidangan tersebut digunakan untuk kegiatan buka puasa bersama oleh jamaah yang hadir mengikuti kegiatan dzikir dan doa di masjid atau mushalla tersebut. Hal ini bermakna bahwa pada kegiatan Maleman warga menerapkan nilai kebersamaan dan pentingnya bersedekah kepada sesama.

Secara sederhananya, pelaksanaan Malema mengandung nilai luhur dan nilai luhur tersebut harus dilestarikan.

Nilai luhur yang pertama adalah nilai silaturrahmi, dimana pelaksanaan tradisi Maleman merupakan salah satu cara meningkatkan nilai silatur rahmi dalam kehidupan bermasyarakat.

 Nilai luhur yang kedua adalah pentingnya memahami sejarah turunnya kitab suci Al-Qur'an agar kita benar-benar menghargai dan memelihara keberadaan kitab suci tersebut dan berusaha mempelajarinya.

Nilai luhur yang ketiga adalah menanamkan kesadaran diri mengenai Al-Qur'an yang diturunkan sebagai penerang dan petunjuk hidup manusia, khususnya umat islam sehingga kita harus betul-betul mengagungkan Al-Qur'an dan menerapkan ajarannya dalam segenap aspek kehidupan.

Nilai luhur yang keempat adalah pentingnya mensyarkan segenap ajaran atau petunjuk yang terdapat dalam setiap ayat Al-Qur'an agar hidup kita (umat islam) selamat dari dunia hingga ahir masa.

Nilai yang selanjutnya adalah selaku umat islam, kita harus berbahagia dan menanamkan rasa bangga dalam mensyarkan dan mendakwahkan ajaran Al-Qur'an yang merupakan imam bagi setiap umat islam.

Demikianlah segelumit informasi yang dapat kami sampaikan mengenai nilai luhur yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi Maleman. Kami menyadari bahwa tulisan ini sangat jauh dari kesempurnaan. Semoga bermanfaat. Terimakasih atas kunjungannya dan salam dari kampung.
_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru