Tradisi Di Lare-lare Istana Bima

Lare- Lare atau pintu gerbang Istana Bima ternyata menyimpan kenangan sejarah di masa silam. Lare-Lare tidak hanya sebagai pintu masuk para tamu agung istana Bima, tetapi menyimpan sebuah tradisi masa silam yang dikenal dengan istilah Nge' e Ada.

Nge e Ada adalah tradisi bersalaman dengan Sultan sebelum seseorang berangkat ke Mekkah baik untuk berhaji, bermukim maupun menuntut ilmu. Nge'e Ada adalah ketentuan yang tidak tertulis dalam pemerintahan kesultanan Bima terutama pada masa penerintahan Sultan Muhammad Salahuddin. Ada sanksi secara sosial dan budaya jika seseorang tidak melakukan Ngge'e Ada yaitu duduk di Lare-Lare selama tiga hari.

Sepulang dari Mekkah, orang-orang yang melakukan Nge e Ada mendapat gelar " Ruma Haji " sebagaimana gelar yang disandang oleh beberapa ulama tersohor seperti Tuan Guru Haji Abbas, Tuan Guru Haji Malik, Tuan Guru Haji Abu Bakar dan lain lain.

Gelar seperti itu diperoleh sebelum tahun 1951 yaitu sebelum Sultan Muhammad Salahuddin wafat. Setelah itu, gelar Ruma Haji tidak ada lagi karena menurut masyarakat Bima" Ruma Sangaji Mbojo" sudah tidak ada lagi. Sejak saat itulah gelar untuk orang orang yang telah berhaji berganti dengan Abu untuk laki laki dan Umi untuk perempuan.

Ketaatan masyarakat Bima terhadap sultan Muhammad Salahuddin cukup tinggi. Tidak afdol jika setiap naik haji dan sepulang haji atau bersekolah di Mekkah tidak bersalaman atau Nge' e Ada dengan sultan. Maka dari itulah mereka harus duduk di Lare - Lare selama tiga hari untuk diterima sultan yang bergelar Ma Kakidi Agama itu.

Sumber : Prof. Dr.Abdul Gani Abdullah, Peradilan Agama Dalam Pemerintahan Islam Di Kesultanan Bima(1947-1957).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru