Mpama Yang Hilang

Mpama adalah mendongeng. Mpama termasuk salah satu jenis sastra lisan Bima yang mulai hilang. Sebagai bagian dari sastra lisan, mpama biasanya diperdengarkan saat senggang, istirahat atau ada hajatan. Biasanya orang yang pintar mpama diundang khusus untuk membawakan mpama. Kebiasaan ini dilakukan pada masa lalu, namun saat ini sudah tidak pernah lagi kita mendengar orang yang membawakan mpama,kecuali kegiatan rutin tahunan lomba bercerita yang diadakan oleh Perpustakaan dan Arsip sampai ke tingkat nasional.

Anwar Hasnun membagi Mpama dalam dua jenis yaitu Mpama Kade'e dan Mpama Pehe. Kade'e adalah mendengarkan. Pehe adalah menyebut. Mpama Kade'e adalah dongeng yang biasa disampaikan untuk didengarkan seperti Wadu Ntanda Rahi, Temba Kolo, Jati Kasipahu, La Kalaki, La Bango, La Raji, Dae La Minga, La Bibano, La Hila dan masih banyak lagi.

Mpama Pehe adalah sejenis tebak tebakan atau teka teki. Biasanya dituturkan saat mandi di sungai, melepas lelah setelah bekerja di sawah atau saat berkumpul di sarangge (balai balai). Salah seorang menyebut Mpama Pehe, kemudian yang lain mencoba menebak.

Contoh Mpama Pehe: Wiwi dikancao rima ma sarere - Bibir bertemutangan meraba raba

Jawabannya : Seruling.

Nangi mpa dawara dou ma hako na - Menangis padahal gak ada orang yang mengganggu

Jawabannya : Mobil Ambulance

Pasapu Ruma ma dawa'u di beca - Sapu tangan tuhan yang tidak bisa dibasahi

Jawabannya : Daun Talas

Buja Ruma Da wa'u di reke - Tombak Tuhan yang tak dapat dihitung

Jawabannya : Ura atau hujan.

Lao Ana na, midi Ina na - anaknya pergi, induknya diam

Jawabannya : bedil.

Mpama Kade e dan Mpama Pehe tersebar di seluruh pelosok Bima. Saya menghitung ada ratusan Mpama atau cerita rakyat yang ada di Bima. Ada puluhan Mpama yang sudah ditulis, dan masih banyak yang belum ditulis. Upaya menulis kembali mpama bukanlah bentuk Plagiarisme, tetapi bentuk pelestarian terhadap tradisi tutur agar tidak hilang. Jika tidak ditulis, maka Mpama akan hilang. Sekarang saja, banyak mpama yang sudah hilang karena kelalaian kita yang tidak menulis mpama.Disamping itu, para penutur mpama atau ahli cerita telah banyak yang meninggal dunia.

Mpama Pehe sudah tidak lagi diperdengarkan atau diadakan..Karena penuturnya yang telah tiada. Alangkah ruginya kita saat ini, padahal
mpama adalah media pendidikan, media hiburan, media penyampaian pesan moral dan nilai serta sumber sejarah. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru