Makon, Menari Di Atas Bara Api


KM. Sukamulia – Atraksi Budaya Sasak yang satu ini sangat menyita perhatian saya, bagaimana tidak atraksi Menari di Atas Bara Api bisa dikatakan sangat langka ditemukan di daerah Nusa Tenggara Barat pada khusunya. Hampir setiap rangkaian prosesinya tidak lepas dari tatapan mata saya dan penonton lainnya. Menari di Atas Bara Api yang disebut dengan tradisi Makon merupakan bagian inti dari permaian Tari Pakon yang diselenggarakan untuk kegiatan pengobatan secara tradisional oleh masyarakat Desa Ramban Biak.

Makon adalah istilah pengobatan tradisional masyarakat Desa Ramban Biak Kecamatan Aikmel dengan prosesi menari di atas bara api selama beberapa menit (anatara 6 hingga 8 menit) dengan iringan musik gamelan. Musik gamelan yang mengiringi kegiatan Makon disebut dengan nama Musik Pakon yang terdiri dari sekumpulan alat musik tradisional masyarakat Sasak. Gerak ritmis yang dilakukan oleh orang yang melakukan ritual Makon tersebut dinamakan Tari Pakon.

Kata Makon diambil dari kata Pakon, dimana Pakon merupakan bahasa masyarakat setempat (Lenek Ramban Biak) yang berarti Pikun atau berada dalam keadaan bawah sadar dan Makon berarti ritual pengobatan yang dilakukan oleh seseorang ketika ia berada di alam bawah sadar. Ritual Makon terdiri dari serangkaian prosesi yang cukup sakral yang persiapannya dilakukan selama tiga hari.

Ritual puncaknya diawali dengan menyalakan kemenyan, menyalakan api dari bahan tempurung kelapa (tangkel nyiur: bahasa Sasak).  Setelah bara api membara, orang yang akan mengikuti ritual Makan dijampi atau dibacakan mantera oleh seorang pawang (Tengkorong: bahasa Lenek Ramban Biak). Mantera atau doa yang dibacakan oleh Tengkorong membuat orang tadi terbawa ke alam bawah sadar, seolah raganya dikuasai oleh mahluk astral sehingga ritual ini juga dikenal dengan istilah kerejinan (keraskan).


Setelah berada di alam bawah sadar, dalam kendali mantera/doa yang dibacakan oleh Tengkorong tadi, orang yang mengikuti ritual Makon tersebut berjalan menuju bara api dan ia-pun menari pelan sesuai dengan ritme musik pengiring yang dimainkan oleh sekelompok pemain Musik Pakon. Penari (orang yang Makon) tersebut terus dan terus menari di atas bara api yang berkobar-kobar. Semakin kencang irama musik yang mengiringinya maka semakin cepatlah gerakan tari yang dimainkan. Suasana panggung yang remang-remang dengan aroma kemenyan seta sinar lilin yang mengelilingi panggung membuat suasana ritual Makon terasa mistis dan membuat tegang para penontonnya.

Di atas bara api, orang yang Makon menari seperti ia sedang menari di atas tanah atau lantai yang halus. Wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan ekpresi rasa sakit atau kepanasan layaknya orang menginjak bara api. Setelah hampir 8 menit menar di atas bara api, Suara Seruling mendayu-dayu dan suara itu diikuti oleh orang yang Makon keluar dari arena bara api. Setelah ia keluar, Pemain Musik Pakon mulai memainkan gending dengan irama halus yang disebut dengan Gending Pendodok Roh (Musik Pembangkit Jiwa).


Ketika Gending Pendodok Roh dimainkan, orang yang Makon tadi berangsur sadar dan menari pelan di arena tanpa bara api. Ketika para pemain gending menabuh gendingnya dengan irama yang agak berbeda yang disebut dengan istilah Gending Pakon. Gending Pakon merupakan musik coda atau ending dari Permainan Tari Pakon dan tradisi Makon. Pelan dan semakin pelan yang ahirnya suara musik berahir dan orang yang makon-pun berhenti menari. Dengan demikian selesailah ritual Makon yang merupakan ritual pengobatan yang dilaksanakan oleh masyarakat Lenek Ramban Biak secara turun temurun.