Putri Mandalika Contoh Untuk Para Pemimpin

Bau Nyale merupakan tradisi unik yang sudah menjadi budaya masyarakat di Pulau Lombok. Legenda Putri Mandalika yang berparas cantik, membuat para pangeran di berbagai kerajaan dan para pemuda terpikat. Bahkan Putra Mahkota di tiga kerjaan besar di bumi Lombok tertarik menjadikan permaisuri.


Namun, Putri Mandalika ingin melihat ketentraman dan kedamaian di pulau Lombok tanpa adanya sedikitpun perpecahan. Sang Putri menyadari jika ia menerima salahsatu lamaran, maka akan terjadi perselisihan diantara mereka.

Akhirnya ditengah kegundahan, Putri Mandalika memutuskan untuk tidak menerima pinangan putra Mahkota yang ingin mempersuntingnya. Ia memutuskan untuk menceburkan diri kelaut. Para mengawal dan masyarakat yang ingin menyelamatkan Putri Mandalika yang menyisir laut, hanya menemukan cacing laut yang berwarna-warni saat fajar menyingsing.

Sekelumit kisah ini, akhirnya dijadikan sebuah tradisi masyarakat Lombok, mencari keberadaan Putri Mandalika, dengan tema “Bau Nyale” yang menjadi tradisi tahunan berdasarkan perhitungan para leluhur dan tetua adat.

Bau Nyale berasal dari bahasa Sasak “Bau” yang berarti menangkap dan “Nyale” adalah cacing laut yang berwarna-warni. Tidak sekedar menangkap cacing laut, akan tetapi budaya menangkap “Nyale” ini mempunyai filosofi tentang cinta dan makna perjuangan rela berkorban demi masyarakat.


Seorang Putri Mandalika, yang begitu cantik dan berani mengorbankan dirinya untuk kedamaian negaranya. Keberanian inilah yang harus selalu menjadi teladan untuk masyarakat Lombok dan menjadikan hal ini sebagai budaya yang sarat makna. Masyarakat lombok masih sangat meyakini bahwa siapapun yang dapat menangkap Nyale akan beruntung.

Kisah yang dipertontonkan saat drama tetrikal di malam puncak even Festival Bau Nyale 2019,  digambarkan oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat menghadiri malam puncak acara Festival Bau Nyale 2019 di Kuta Mandalika Lombok Tengah, Minggu (24/2), sebagai cerita inspirasi tentang pengorbanan demi harga diri dan rakyatnya.

“Cerita Legenda Putri Mandalika merupakan kisah inspiratif untuk kita, bahwa pemimpin itu merupakan panutan seluruh masyarakatnya, dia tidak memperdulikan dirinya, demi kebaikan dan keamanan negeri Lombok memilih menceburkan dirinya,” jelas Wakil Gubernur NTB.

Pemimpin harus menjadikan cerita ini sebagai pegangan, bahwa pemimpin itu harus bekerja ihklas dan berkorban demi kemajuan dan kemakmuran rakyatnya. (Edy-Tim Media Diskominfotik NTB)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru