Uniknya Kreativitas Masyarakat Dalam Berburu Nyale.

Sumbawa Barat. Diskominfo - Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) melalui dinas pariwisata telah mematangkan persiapan Festival Bau Nyale (menangkap cacing laut) sejak  Jumat (22-Februari-2019) yang dipusatkan di pantai Pesin (Trophy) kecamatan Sekongkang. 

Walaupun sederhana tetapi persiapan untuk menyambut Festival yang rutin diadakan sekali setiap tahun tersebut menarik perhatian banyak warga, termasuk wisatawan manca negara. 

Pantai Tropi memang tidak terlalu terkenal seperti pantai Kuta Lombok. Akan tetapi, pemandangannya tidak kalah indah dengan ombak-ombak besarnya yang bergulung-gulung dan pasir putih yang terhampar sejauh mata memandang. Belum lagi keasrian alamnya yang alami, belum tersentuh pengembang -pengembang swasta yang kadang justru malah merusak kelestarian alam. Bau Nyale di sini juga tidak kalah serunya.

Hampir sama dengan Festival Bau Nyale yang diadakan di tempat asalnya yaitu di Pulau Lombok, Festival Bau Nyale di pantai Sekongkang – KSB ini juga sangat menarik perhatian masyarakat KSB pada umumnya. Pada Senin, (24/2) pukul 04:00 Wita masyarakat sudah bersiap-siap menuju pantai Trophy lokasi diadakannya event Bau Nyale. Tidak hanya masyarakat Sekongkang saja yang datang, tapi juga pengunjung dari luar Kecamatan sekongkang hingga turis manca negara juga datang mengikuti event tersebut.

Event Bau Nyale di Sekongkang ternyata cukup popular, padahal daerah ini bukan tempat asal tradisi menangkap Nyale tersebut. Bau Nyale di Sekongkang diadakan karena di pantai tersebut Nyale juga muncul.

Sebagian besar pengunjung datang bersama seluruh anggota keluarganya. Mereka mengerahkan seluruh tenaga yang ada agar dapat menangkap cacing sebanyak-banyaknya, membawa peralatan lengkap yang terdiri dari ember dan jaring halus. 

Namun, uniknya dengan keterbatasan alat tangkap nelayan, sehingga banyak warga yang datang dengan membawa beberapa peralatan dapur yang akan digunakan untuk menangkap Nyale seperti para ibu-ibu yang membawa baskom plastic, saringan kelapa, bahkan ada yang membawa bakul nasi dan kukusan, ini menjadi salah satu kreativitas.

Para Bapak pun tidak mau kalah, nampaknya mereka membawa apa saja yang mereka temukan di rumah yang dapat mereka gunakan untuk ‘berburu’ Nyale, mereka membawa topi caping, serta tas,  karung bekas dan kain yang dibuat menjadi seperti sebuah saringan untuk menampung Nyale. Feryal/tifa/Fitri.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru