Ruma Nawa

Pada suatu siang, nenek saya di Rabangodu Kota Bima pernah menegur. "Aina paki paki Oha re na liki ku lokomu. Ruma Nawa ede Ana e" artinya jangan dibuang nasi itu nanti dia akan mencubit perutmu. Sebab nasi adalah Tuhan Bagi Nyawa. " Kalimat " Na liki ku lokomu" merupakan sebuah peringatan agar kita jangan pernah menyisahkan nasi dan membuangnya cuma cuma karena sesuap nasi sangat penting bagi penyambung kehidupan. Istilah yang sering kita dengar di masa lalu adalah "Tuwu Kai nawa" atau penyambung nyawa. Istilah Ruma Nawa tentu tidaklah berlebihan, sebab hingga saat ini padi masih menjadi stapel food (makanan pokok) bagi masyarakat Indoensia dan khususnya di Bima.

Dalam filosofi hidup masyarakat Bima, padi dan beras memang diperlakukan istimewa. Ketika mulai berbulir atau yang dikenal dengan Nae Loko Fare atau padi sedang hamil dibawakan rujak atau Mangonco Fare (Menurut beberapa kalangan tradisi ini adalah warisan Hindu). Rujak itu ditabur ke seluruh areal sawah. Setiap senja para petani berjalan mengelilingi sawah sambil membelai padinya. Disamping itu padi juga dijaga dari hama tikus maupun serangan burung burung dan Babi. Bahkan di pematang sawah, petani menbangun Dangau untuk menjaga padi hingga malam hari terutama menjelang panen.

Ketika menumbuk padi menjadi beras, padi dibelai sebanyak tiga kali dengan bacaan Basmallah. Demikian pula dalam proses menampi beras atau mbedi bongi seperti yang dilakukan gadis dalam foto ini. Ketika beras hendak dimasak, ada adab yang dilakukan oleh kaum ibu ketika mengambil beras dalam TEWU (sejenis wadah penyimpanan beras). Menurut H. Muhammad Tahir Alwi, tradisi mengambil beras dalamnTewu menggunakan Cupa( sejenis gayung yang terbuat dari belahan tempurung kelapa). Cara duduk dikenal dengan "Doho Epa” (duduk manis) dengan tangan kanan memegang Cupa kemudian membaca Basmallah, lalu mengambi beras dalam Tewu. Beras yang diambil dalam Tewu tidak ditumpahkan semua ke dalam periuk, namun ditinggalkan beberapa butir untuk dimasukkan kembali ke dalam Tewu.

 Ketika beras menjadi nasi dan siap untuk dimakan, cara makan pun diatur sebagaimana cara makan sesuai yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Semua proses dan tahapan pengolahan mulai dari padi, beras hingga nasi dilakukan secara cermat dan syarat nilai filosofis.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru