Ritual Tradisi Jaring Minyak Desa Songak


Desa Songak dengan kekuatan tradisi dan budayanya menjadi Desa yang cukup unik dan mempunyai ciri khas tersendiri. Tradisi-tradisi yang dimilik oleh masyarakat Songak masih dipertahankan sampai saat ini. Menyebut Desa Songak,  orang pasti akan ingat tentang minyak Songak. Minyak songak adalah tradisi yang secara turun temurun ada di Desa ini yang pembuatannya ada di pada bulan Rabi’ul Awal tepatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awal yang bertepatan dengan angka dan bulan lahir kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW. 

Tradisi jarig minyak Desa Songak adalah salah satu dari sekian tradisi yang hidup dan masih bertahan ditengah-tengah sosial masyarakat Desa Songak yang pelaksanaannya masih bisa kita saksikan sampai saat ini. Dulu tradisi Jarig minyak di Desa Songak sebagai bagian dari maulid Adat masyarakat Desa Songak, karena ukuran masyarakat Desa Songak melaksanakan maulid tergantung pada pada minyak yang dibuat.

Ditengah arus globalisasi serta kecangnya gempuran idiologi yang sangat masif tradisi ini masih bertahan ditengah masyarakat Desa Songak. padahal berkaca diluar sana tradisi semacam ini sudah banyak yang hilang bukan sekedar hilang makna namun hilang dalam pelaksanaan juga. Karena mungkin terbentur dengan idiologi sedang berkembang saat ini. Ditubuh islam sendiri tradisi semacam ini, belakangan ini lansung di tuduh sebagai penyimpangan akidah yang sering kita dengar adalah lansung di bid’ahkan tapi dalam persoalan ini saya tidak mau terlalu jauh, yang saya yakini adalah Agama tanpa tradisi akan pincang, tradisi tanpa agama juga pincang karena Nabi Muhammad SAW adalah nabi sekaligus Rasul yang diturunkan Allah SWT untuk memprbaiki ahlak manusia.

Mengulas minyak songak pasti kita ingin tahu bahan dasar pembuatannya dari apa dibuat kok ampuh sekali ketika dibuat jadi obat, heee heee. Bahan dasar pembuatan minyak songak adalah berbahan dasar kelapa, kelapa ini dikupas dan haluskan lalu diambil air santannya. Ada juga bahan lain seperti (bahan ini kita gunakan penyebutan masyarakat Desa Songak) bahan selanjutnya adalah Sang, Jae, Kunyit, ketumbar dan ada beberapa bahan yang tidak bisa disebutakan dan menjadi rahasia masyarakat Desa Songak. bahan-bahan ini ditumbuk sampai lembut lalu disatukan dan nanti akan dicampur kedalam minyak. 

Air santan yang sudah diambil lalu dimasak, setelah beberapa lama air santan ni akan mendidih lalu saripati air santan ini disedot menggunakan semacam selang agar tidak bercampur dengan santannya lagi. Lalu setelah itu dipindahkan untuk dijadikan minyak setelah mendidih atau berubah wujud menjadi minyak. Penyampuran air kelapa yang sudah menjadi minyak dengan bahan-bahan tadi dilakukan pada saat minyak lagi mendidih dengan membacakan do’a (maaf do’a tidak bisa di share) lalu nantidibiarkan sampai dengan menyatu dan akan menjadi minyak songak.

Sebelum pencapuran bahan ada penyaringan lagi agar tidak bercampur dengan ragi (dalam bahasa Songa) dengan tai lala (sebutan bahasa Songak) minyaknya. Namun tai lala bagi masayarakat Desa Songak tidak dibuang atau disiasiakan Tai Lala ini dijadikan sebagai makanan ada yang membuat sambel dan lain sebagainya rasanya jangan ditanyak sudah pasti enak. 

Yang unik dari tradisi jarig minyak ini adalah dari awal pembuatannya, sejak dari kupas kelapa sampai dengan jadinya minyaknya harus dalam keadaan bersih dari hadast kecil dengan cara wudhu. Bahan lain yang dikerjakan oleh wanita seperti pembuatan nasi kuning (rasun dalam bahasa Songak) juga harus bebas dari dalam keadaan kotor atau menstrusasi karena para kaum hawa juga yang membuat rasun (nasi kuning) tersebut harus berwudhu dulu.

Setelah minyak songak ini jadi tidak lansung dibagi begitu saja tapi masyarakat Desa Songak akan membawa minyak ini naik ke dalam masjid bengan Desa Songak untuk dido’akan, masyarakat sama-sama berdzikir meminta keapada Allah SWT agar mengadung keberkahan dan menjadi pekerjaan yang bisa dihitung sebagai amal ibadah oleh Allah SWT. Pada tahapan ini banyak warga yang membawa gegaman (Peganagan sejenis besi, sabuk dll.) untuk ukuf, dalam pengukufan ini semua yang hadir ddialam masjid melnatukan shalawat sampai dengan selesai barang atau gegaman yang di ukuf tersebut.

Menurut cerita dari ketua lemabaga adat Darmajagat Desa Songak Bapak Guru Murdiyah, S.Ag mengungkapkan bahwa minyak songak ini sebagai bebadong (Pegangan) ketika ada musibah karena minyak songak ini berbagai banyak jenis dan julukan, setiap julukan memiliki cara pembuatan dari bahan yang berbeda-beda dan jenis do’a yang berbeda-beda, sehingga kegunaannya pun berbeda-beda”. Bahan dasar minyak Songak tidak hanya berasal dari kelapa, kalau minyak yang akan menjadi obat ya bahan dasarnya kelapa tidak untuk minyak yang ada yang bahannya dari jenis akah (akar) dan kulit kayu sehingga peroses ppembuatannya juga lama dan harus tetap berwudu atau bersih dari hadast kecil.

Pembuatan dari kelapa saja bisa memakan waktu sehari semalam, dan minyak Songak ini sebenarnya tidak bisa dilaksanakan diluar Desa Songak karena itu pesan orang tua dulu, meski kita di undang untuk membuat minyak Songak ini kalau dilura maka tidak boleh, ungkap Guru Murdiyah.

Papuq Mus nama seorang tetua didalam pembuatannya minyak ini mengungkapkan bahwa kalau orang dulu selsai dzikir do’a dan ketika selesai pembagian minyak, para orang tua dulu lansung saling hantam pakai parang yang dibawa untuk membuktikan bahwa bisa digunakan sebagai pegangan ketika terjadi peprangan.

Karena dulu masih banyak peprangan baik perang antar Desa dan anatar kampung sehingga untuk menguji minyak tersebut para orang tua dulu lansung saling coba dengan meminum minyak serta mengusap keseluruh tubuhnya lalu dihantam menggunakan parang atau pedang dan keris.

Tapi tradisi itu hilang karena memang sekrng ini bukan lagi zaman perang jadi tidak perlu untuk melakukan semacam itu. Setau saya juga sekarang jarang yang jarig minyak untuk kekebalan, memang ada minyak itu tapi jarang. Jenis minyak ini banyak sekali ada untuk Senggeger (guna-guna), minyak kebal, minyak sengurung-urung, sebengak dan lain-lain. Tapi sekrnag minyak itu sudah jarang dibuat karena kemajuan jaman dan kemajuan pola fikir mausia. 

Pemerintah Desa Songak melalui Sekretaris Desa Songak Bapak Amirin menegaskan tradisi-tradisi semacam ini akan trus di dukung oleh Desa baik pelaksanaan maupun anggarannya, karena kami mempunyai potensi tradisi dan budaya sebagai penguat kami bermasyarakat. Karena di Undang-Undang Desa nomor 6 tahun 2014 jelas menganahkan untuk membangun Desa sesuai dengan asal usul dan adat istiadat yang ada ditengah sosial masyarakat pedesaan. Maka tradisi jarig minyak ini juga merupakan kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat Desa Songak.

Namun perlu kami utarakan bahwa minyak songak tidak pernah diperjual belikan baik dipasar maupun ditempat sualan lainnya, atau mungkin ada orang yang memperjual belikannya dirumah-rumah. Karena minyak Songak adalah minyak yang dihajatkan oleh masyarakat songak dari dulu sampai sekrang mejnadi pegangan pesan orang tua dulu mengungkapkan “Nuna Denda pada kenaq-kenaq siq o periri dit kenaq-kenaq tauq o uluq minyak ote aden araq i jaug pelaij” (anak-anak ku pelihara minyak itu dan taruh ditempat yang aman agar ada yang bisa dibawa lari) Sember Murdiyah, S.Ag.,

jadi minyak ini diberikan secara tulus ikhlas oleh masyarakat Desa Songak sebagai bebadong (pegangan) ketika terjadi sesuatu mislakan ada perang atau kecelakaan bisa menjadi obat luka dan ini sudah banyak dibuktikan oleh masyarakat Desa Songak maupun masyarakat diluar Desa Songak. jadi kalau ada orang atau oknum yang memperjual belikan minyak songak kami selaku masyarakat songak tidk menjamin kulitas dan kadar isi minyak tersebut. (Efoel Avicenna).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru