STOP Salahkan Budaya Merariq

Ada banyak hal menarik tercetus saat diselenggarakannya Focus Group Discussion (FGD) oleh Bale ITE NTB (31/7). Salah satunya mencuat fakta bahwa "budaya merariq" yang selama ini sering dikambing hitamkan oleh masyarakat sebagai penyebab tingginya angka pernikahan anak, ternyata jika ditelisik lebih dalam seharusnya bukan menjadi penyebab dari maraknya perkawinan anak di NTB.

Ahmad Hidayat dari PKBI NTB salah seorang peserta FGD menjelaskan hasil penelitian yang dilakukan bersama DP3AP2KB NTB terhadap beberapa sumber tetua adat menjelaskan bahwa dalam budaya merariq, seorang perempuan baru bisa dilarikan jika sudah berhasil menenun 144 tenunan.

"144 tenunan itu jika dikalkulasikan akan membuat perempuan dapat dibawa merariq jika berusia 22 tahun," jelas Dayat.

Tidak hanya harus mampu menenun 144 tenunan berbagai corak. Merariq tidak bisa dilakukan begitu saja. Ada tata krama yang harus diikuti seperti, laki-laki harusnya menjemput perempuannya dari rumah dan harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak terlebih dahulu.

Oleh sebab itu, masyarakat seharusnya berhenti menyalahkan budaya merariq dan mulai memahami dan mengaplikasikan budaya merariq sebagaimana mestinya.

Hal tersebut dapat terwujud dalam pemberian pendidikan yang mendalam mengenai sosial budaya dan sex kepada seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya kepada anak-anak usia pelajar tetapi juga kepada orangtua dan masyarakat secara luas. (tim media)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru