Muna Tembe dan Nuansa Islam Desa Leu

Tenun sarung  atau dalam Bahasa bima adalah muna tembe yang merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat bima yang sampai sekarang melekat  dan masih dilestarikan dibima, katakanlah diwilayah kecamatan bolo wilayah sila desa leu. Tradisi tenung sarung atau muna tembe ini biasanya dilakukan oleh ibu ibu rumah tangga dan perempuan yang masih bujang/lajang atau dalam Bahasa bima masih sampela, tenun sarung atau muna tembe dilakukan setiap hari kecuali hari hari yang penting tenun sarung (muna tembe) ini tidak dilakukan katakanlah pada hari idul fitri, hari pemilu dan lain-lain, tradisi Ini menjadi turun temurun dilakukan oleh masyarakat  bima umum dan masyarakat sila desa leu khususnya.

Romlah penenun sarung desa leu mengatakan sampai sekarang kami melakukan pekerjaan tenun sarung (muna tembe) ini karena kami merasa nyaman dengan pekerjaan ini, selain nyaman juga sedikit tidak bisa mencukupi ekonomi keluarga minimal bisa memberikan uang jajan anak anak kami, selain itu sarung (tembe) ini sangat banyak peminatnya dan lebih enaknya lagi dari pekerjaan ini sebelum kami mulai menenun sarung (muna tembe) para pembeli memesan duluan. Akhirnya keinginan dan semangat ketika menenun itu ada, ujarnya

Demikian Dae eno kule, Eno londe, seo epu, la si aba dan mas oyan yang merupakan sesepuh yang memiiki title khusus dalam mereka ditanda dan ditau, mengatakan bahwa tradisi tenun sarung atau muna tembe merupakan salah satu akfititas kedua yang dilakukan masyarakat desa leu setelah pulang dari sawah  dan aktifitas lain dan juga merupakan hal yang bisa bersifat memebantu yang sedikit tidak meringankan beban ekonomi, karena sarung/tembe ini bisa dijual dan kisaran harganya bisa menyampai Rp. 250.000 sampai Rp. 500.000 karena sarung atau tembe ini ada dua macam yaitu sarung nggoli (tembe nggoli) dan sarung salungka (tembe salungka) dan yang harga Rp. 250.000 ini adalah sarung nggoli sedangkan yang harga Rp. 500.000 itu adalah sarung salungka, alsannya kenapa harga sarung nggoli dengan sarung salungka ini beda harganya karena proses dalam penenunan (muna) sarung nggoli dengan sarung salungka ini lebi sulit  dan lebih lama sarung salungka dibandingkan sarung nggoli,

Selanjutnya!! Sila yang yang dikenal dengan sebutan islam dalam pendekatan historisnya memiliki perjuangan yang sama dengan bima yakni dalam memberikan perluasan atau menyebarkan islam ditanah bima(dana mambari ro mpaha) kemudian memperkokoh islam dengan tetap mempertahan warisan warisan nenek moyang itu, katakanlah seperti tenun sarung (muna tembe). Selanjutnya tuturnya mas oyan pemuda diam yang ndak bisu.  mengatakan warga desa leu sampai sekarang masih sensifif ketika sudah berbicara masalah keyakinan atau menyangkut keyakinan yang dilanggar, katakanlah dalam hal menjalankan puasa dibulan ramadhan. Ketika ada masyarakat yang tidak menjalankan puasa pada saat bulan Ramadhan maka ditegur dan bahkan dipukul,  disila leu adalah masyakat yang masih mempertahankan budaya nenek moyang  dalam hal agama agama budaya dan  juga merupakan pusat tenunan sarung (muna tembe) artinya kalau berpijak pada realitas dan kondisi yang ada maka desa leu ini adalah desa yang melestarikan budaya corak dan nuansa islamnya yang masih ada, maka bisa katakan juga bahwa aroma dan wanginya agama agama budaya  itu masih tercium didesa leu. (ujarnya)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru