Efek Positif Tradisi Suku Sasak Bagi Sumbawa Barat.

Sumbawa Barat. Kominfo - "Lebaran Ketupat" atau biasa disebut "Lebaran Topat" adalah tradisi yang berlangsung seminggu setelah perayaan Idulfitri. Tradisi turun temurun ini dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak di Lombok sejak ratusan tahun silam. Perayaan Lebaran Topat biasanya dilaksanakan dengan Tasyakuran yang dipusatkan di Pantai Duduk, Batu Layar Senggigi Lombok Barat.

Menurut masyarakat suku adat di Lombok Barat, Lebaran Topat adalah lebaran kecil setelah umat muslim di Lombok selesai menunaikan Enam hari puasa sunnah berturut-turut di bulan Syawal, Tradisi ini dinamakan Lebaran Topat karena perayaannya dengan berekreasi ke tempat wisata sambil membawa ketupat untuk disantap bersama keluarga.

Ribuan warga Suku Sasak memadati berbagai tempat wisata dan makam keramat para wali atau ulama seperti makam Loang Baloq, makam Batu Layar, Pantai Duduk, Pantai Senggigi, Pantai Ampenan dan pantai lainnya. Antusiasme warga merayakan Lebaran Topat terlihat dari ramainya pengunjung yang memadati beberapa pantai. Karena kegiatan ini condong ke kegiatan rekreatif, maka tak heran tujuan utama yang didatangi adalah pantai, namun yang masih harus diperbaiki oleh pemerintah Provinsi khususnya pemerintah Daerah Lombok Barat adalah kemacetan di beberapa titik yang masih harus diperhatikan, karena akan berimbas pada pelaksanaan acara tersebut.

Lebaran topat juga merupakan tradisi dimana telah terjadi akulturasi nilai nilai agama yang menyatu dengan nilai nilai tradisi sasak sehingga pelaksanaannya tidak mengganggu kegiatan ibadah. Dengan kata lainnya bahwa tradisi mengikuti agama, bukan sebaliknya agama mengikuti tradisi. Lebaran topat ini juga bisa di faedahkan untuk mendukung pariwisata serta sekaligus menjadi ajang promosi wisata Nusa Tenggara Barat.

Pelaksanaan Lebaran Topat ini merupakan Calender Of Event yang selalu dilaksanakan di Pantai Duduk Batu Layar. Bertahun-tahun Batu Layar telah menghipnotis masyarakat Pulau Lombok serta Masyarakat dari berbagai penjuru pulau Lombok dan Nusa Tenggara Barat. Ini tentunya dapat mendongkrak kunjungan wisatawan yang selalu ramai ke kawasan pantai Senggigi.

Tak ketinggalan penampilan kesenian yang ada di pulau Lombok seperti Tari Rudat Sasak, Peraje Topat Agung, dan Pemotongan Ketupat memeriahkan event Lebaran Topat ini. Dari jumlah wisatawan asing yang hadir mencapai ratusan orang dari berbagai negara.  Selain itu, Lebaran Topat juga telah bermetamorfosis menjadi prosesi yang tidak hanya berdimensi sakral tapi juga sosial. Saat ini even Lebaran Topat telah menjadi kekayaan budaya yang patut dipertahankan dan dikembangkan, dan nantinya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu atraksi wisata.

Tradisi ini tiap tahun selalu menyedot perhatian wisatawan lokal dan mancanegara, pengunjung Lebaran Topat pada tahun ini mencapai ribuan orang, ditambah lagi hadirnya para pejabat lingkup Pemda Lobar dan Provinsi NTB. Pemerintah Kabupaten lombok Barat menargetkan kunjungan wisata di NTB khususnya Lobar bisa mencapai empat juta wisatawan dalam 1 tahun. Hal ini juga akan mempengaruhi dan berdampak positif pada kunjungan wisatawan bagi daerah lain yang ada di NTB, khususnya di luar pulau lombok seperti Pulau Sumbawa yang tak kalah memiliki berbagai macam destinasi yang eksotik seperti destinasi yang ada di Sumbawa Barat yang sudah dikenal dunia.

Jika diperhatikan bahwa tradisi Suku Sasak tersebut sangat menyedot wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang ke Nusa Tenggara Barat, momentum ini sangat berefek positif bagi kemajuan pariwisata Pulau Sumbawa khususnya Sumbawa Barat, dimana Sumbawa Barat mempunyai beberapa spot dan destinasi terbaik seperti Gili Balu (pulau kenawa, pulau Paserang dan enam pulau-pulau kecil lainnya), Bukti Mantar, Gua Member, Pantai kertasari, Pantai Jelengah dan Pantai Sekongkang yang sudah mendunia. Hal ini terbukti, sejak diadakannya tradisi Lebaran Topat di Lombok Barat, kunjungan wisatawan ke Sumbawa Barat Khususnya Gili Balu meningkat drastis, tak tanggung-tanggung sehari setelah perayaan Lebaran Topat tercatat 400 pengunjung datang mengunjungi dan berkemah di Pulau Kenawa.

Para wisatawan mancanegara tersebut datang khusus menggunakan beberapa kapal yang datang dari Lombok Barat dan Lombok Utara, tak ketinggalan wisatawan lokal yang berasal dari Sumbawa, Lombok, Surabaya dan Jakarta juga memadati dan bercengkrama dengan alam indah pulau Kenawa. ketika pengunjung Gili Balu meningkat akan berefek baik bagi kesejahteraan masyarakat KSB khususnya masyarakat Poto Tano yang mayoritas sebagai nelayan. Ini menjadi titik awal kebangkitan pariwisata Sumbawa Barat. Kominfo Sumbawa Barat/Feryal.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru