Tradisi Tetulak Pesisi


KM. Sukamulia – Tradisi Tetulak Pesisi, demikianlah warga Desa Pohgading Timur menyebut sebuah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Sukamulia dan Dusun Gegurun Desa Pohgading Timur dan sekitarnya. Tradisi ini merupakan kegiatan yang berhubungan dengan masalah pelestarian lingkungan hidup. Acara ini dilaksanakan di Pantai Pondok Kerakat Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur.

Menurut keterangan tokoh adat Dusun Sukamulia (Amaq Husni), pelaksanaan Tradisi Tetulak Pesisi dilator belakangi oleh kepercayaan nenek moyang masyarakat Dusun Sukamulia dan sekitarnya bahwa isi (penguasa) Pantai Pondok Kerakat Sukamulia kerap mencari tumbal. Masyarakat setempat meyakini bahwa di Pantai Pondok Kerakat Sukamulia terdapat seorang jin (Loq Abang) yang sangat ganas yang setiap tahunnya ia mengambil tumbal dari warga sekitar, selain itu Jin yang disebut dengan nama Loq Abang itu juga sering menebar wabah penyakit yang menyebabkan warga sekitar terkena penyakit panas yang panasnya melebihi malaria sehingga tidak jarang warga yang meninggal dunia sebab terkena wabah tersebut. Wabah yang disebarkan oleh Loq Abang biasanya menyebabkan badan orang yang terkena merasakan panas yang hebat pada seluruh bagian badannya, mengengo seperti orang kerasukan dan tidak biasa makan apa-apa selama terkena wabah tersebut.

Amaq Husni bercerita, “pada waktu saya kecil saya pernah menemukan hampir seluruh masyarakat Dusun Sukamulia terkena penyakit yang aneh, badan mereka terasa panas sekali, dalam keadaan itu mereka mengego seperti orang kerasukan dan pada waktu itu banyak sekali warga yang meninggal akibat wabah tersebut, sehari saja terkadang ada 3 sampai 4 orang yang meninggal. Penyakit yang mereka derita itu tidak dapat diatasi menggunakan obat dari dokter dan bahkan dokter sendiri menyarankan kami untuk melakukan pengubatan dengan cara bejampi (pengobatan tradisional). Saking banyaknya yang meninggal sehingga waktu itu pemakaman juga dilakukan pada malam hari. Melihat hal itu, tetua gubuk Sukamulia-pun mengajak masyarakat untuk melakukan selamatan (tetulak) di pesisi (pantai) guna memohon pertolongan kepada Yang Maha Kuasa supaya masyarakat kita dilindungi dari keganasan wabah yang disebarkan oleh Loq Abang. Pada selamatan itu, tetua Dusun Sukamulia mengajak kami untuk melarutkan sesajen dan alhamdulillah setelah tetulak itu dilakukan maka warga kita terbebas dari wabah mematikan tersebut”.

“Masyarakat kita pernah beberapa tahun tidak melaksanakan tradisi tersebut dan ternyata wabah itu kembali muncul dan setiap tahun ada saja warga sekitar yang dihanyutkan oleh ombak Pantai Pondok Kerakat dan bahkan para pengerakat (nelayan) tidak pernah mendapatkan hasil tangkapan ikan yang banyak. Kejadian-kejadian tersebut menyebabkan kami yakin bahwa jika masyarakat tidak melakukan Tetulak Pesisi setiap tahun maka Jin yang berkuasa di pantai ini akan menyebar wabah mematikan tersebut dan mencari tumbal berupa anak manusia dan umumnya yang menjadi tumbalnya adalah anak-anak hingga remaja”, tambah tokoh adat masyarakat Dusun Sukamulia tersebut.

Mengacu dari keterangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan utama dilaksanakannya tradisi Tetulak Pesisi adalah untuk memohon perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan Semesta Alam supaya masyarakat setempat tidak terkena wabah penyakit mematikan yang konon disebarkan oleh seorang Jin Jahat yang disebut dengan nama Loq Abang, untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup (pelestarian lingkungan Pantai Pondok Kerakat), serta untuk menjalin dan memper erat tali silaturrahmi antara semua anggota masyarakat.

Kata Tetulak Pesisi meruapakan dua suku kata Bahasa Sasak (Bahasa Pohgading Timur), dimana tetulak berarti selamatan atau kembali dan Pesisi berarti pantai. Dengan demikian, Tetulak Pesisi adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memohon keselamatan kepada Penguasa Alam Semesta agar supaya masyarakat setempat dihindarkan dari mara bahaya (musibah dan wabah), diberikan kemurahan rejeki dan supaya Pantai Pondok Kerakat tidak menelan korban.

Tradisi Tetulak Pesisi dilaksanakan sekali setahun, yakni pada setiap ahir tahun. Acara puncaknya dilaksanakan pada tanggal 31 Desember, tepatnya pada pukul 16.00 wita. Prosesi Tetulak Pesisi tidak jauh berbeda dengan prosesi Ritual Rebo Bontong yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Pringgabaya.


Pada puncak prosesi Tetuak Pesisi warga setempat melakukan periapan (memasak). Masakannya yang dibuat adalah sanganan yang terdiri dari nasi, sayur ares dan gulai ayam atau daging. Selain itu masyarakat membuat masakan yang disebut dengan Nasiq Bakek (Nasi Jin). Masakan yang disebut dengan Nasiq Bakek ini terdiri dari nasi putih, sayur kelor tanap garam, telur rebus, beberok terong tanpa garam, empok-empok (beras/padi goreng), lekesan dan rokok pilitan yang ditaruh di atas sebuah tepi/nyiru (alat yang digunakan untuk mengayak beras).

Untuk prosesi puncak acara Tradisi Tetulak Pesisi disiapkan juga dua sesajen. Masing-masing sesajen berisi: 1) empok-empok (beras/padi goreng), 2) kembang rampai, 3) lekesan (kelengkapan makan sirih), 4) uang logam, 5) kemenyan yang sudah dinyalakan, 6) mayang (bunga pohon pinang), 7) posostan (rokok yang dibuat dari bahan tembakau yang dipilit menggunakan daun jagung), 8) topat lepas, 9) bantal, 10) tikel dan 11) anak ayak sebagai tumbal”. Masing-masing kelengkapan dimasukkan dalam wadah yang disebut dengan rondon (anyaman daun pisang), kecuali anak ayam, topat lepas, bantal dan tikel. Semua kelengkapan itu di taruh di atas ancak saji (anyaman yang dibuat dari bambu).

Pada puncak Prosesi Tradisi Tetulak Pesisi semua masyarakat berkumpul di pantai, masing-masing warga membawa Nasiq Bakeq dan satu dulang sajian nasi yang dilengkapi sayur dan ikan yang akan menjadi sanganan para kiyai, tokoh masyarakat dan tokoh adat yang melakukan dzikir dan doa pada puncak pelaksanaan tradisi tersebut ke tempat pelaksanaan acara (Pantai Pondok Kerakat), para kiyai, tokoh masyarakat dan tokoh adat berkumpul di pantai.


Tepat pada pukul 16.30 wita (waktu sandikala: bahsa Sasak), tetua adat memimpin warga untuk melepas sesajen yang sudah disiapkan. Ketika akan melepas sesajen, tetua adat memimpin masyarakat memanjatkan doa selamet dengan doa sebagai berikut: “Eee nenek dikaji sik kuasa, Allah Tuha Semesta Alam, kami mohon keselametan, lindungin kami lekan mara bahaya dait wabah penyakit, limpahang rezekin kami lekan isin leut niki. Eee inaq amaq kami sik endak kami gitak, kami sembahang sesaji niki jari tumbal dait tanda perdamaian te pada, endak gamak de ganggu anak jari, papu jari atau sanak kadang kami sik bekedek lek pesisi niki dait silak gamak te pada bareng-bareng idup berdampingan serte saling peliharak aget te pada selamet dunia lan aherat”. Doa tersebut diamine oleh seluruh warga yang berkumpul di tempat itu.


Setelah selesai memanjatkan doa, ketua adat yang memimpin doa tersebut melepas anak ayam, menaburkan bunga rampai dan uang logam yang telah disiapkan di Ancak Saji yang dilepas di pinggir pantai. Anak ayam dan uang logam itu dikejar-kerjar dan diperebutkan oleh warga yang sedang berkumpul. Sesajen yang satunya dilarutkan ke dalam lautan.