Tradisi Maciro Di Pulau Maringkik


“Maciro”, itulah sebutan bagi masyarakat pesisir yang ada di Pulau Maringkik ketika sedang menanti perahu nelayan di waktu pagi. Penantian atas kedatangan perahu nelayan bukan karena merindukan sang suami atau keluarga yang sedang berlayar. Tapi suatu kearifan lokal yang mengharuskan diri mereka untuk duduk di pesisir pantai dengan tujuan untuk meminta berkah berupa hasil tangkapan ikan yang dibawa dari para nelayan.

Bagi masyarakat pesisir yang ada di Pulau Maringkik, Kecamatan Kruak, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat,”maciro” bukan merupakan suatu hal yang mengajarkan warga masyarakat untuk menjad
i pengemis. Tradisi maciro lahir atas dasar sifat kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi pada mereka. “Dalam hidup kita harus saling membahu,menopang, dan saling memberi,” itulah salah satu prinsip hidup bagi mereka yang diungkapkan H.Ahmad selaku warga Maringkik.

“Maciro”atau meminta ikan  pada nelayan adalah suatu aktifitas sehari-hari masyarakat pesisir Maringkik pada waktu pagi. Jadwal “maciro” di Pulau Maringkik tentu disesuaikan dengan waktu kedatangan perahu nelayan membawa berkah di pesisir pantai. Sebab sebelumnya, para nelayan Maringkik berangkat ke laut pada waktu malam, yaitu pada jam 10 malam, dan mereka akan kembali ke daratan pada pagi hari, yaitu pada jam 6 hingga jam 7 pagi.


“Maciro” bagi masyarakat pesisir bukanlah mencari untung atau mencari  modal. Namun mereka hanya meminta kepada para nelayan untuk dijadikan sayur atau lauk-pauk sebagai kebutuhan seharinya. Olehnya itu, dalam setiap orang (peminta), mereka hanya diberikan 3 sampai 5 ekor ikan dari setiap nelayan. Namun para ibu-ibu yang melakukan”maciro”, mereka pun juga dapat meminta ikan pada nelayan-nelayan lain.

Para nelayan tidak merasa rugi ketika memberikan sebagian rezekinya pada warga masyarakat pesisir. Hal ini sudah menjadi tradisi mereka untuk membantu warga penduduk yang tidak memiliki suami atau anggota keluarga yang berprofesi sebagai nelayan. Selain itu, mereka pun juga tetap membagi-bagi rezeki bagi nelayan lain yang tidak sempat turun ke laut.


Kedatangan perahu nelayan di pesisir pantai yang ada di Pulau Maringkik hanya sebentar saja. Kedatangan mereka adalah selain untuk menjemput sang isteri atau keluarga menuju ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) untuk menjual hasil tangkapan mereka, dan juga untuk membagi-bagi sebagian rezekinya bagi sanak saudara atau warga penduduk Maringkik yang membutuhkan ikan. Namun sebagian perahu nelayan tidak langsung pulang ke pesisir pantai yang ada di Pulau Maringkik, tapi mereka lebih awal mengantar hasil tangkapannya ke TPI yang ada di Tanjung Luar, lalu kemudian mereka pulang dengan membawa sebagian rezeki (hasil tangkapan ikan) untuk keluarga, sanak sauadara atau untuk warga Maringkik yang membutuhkan ikan.


Itulah gambaran singkat tentang salah satu kearifan lokal yang dapat disaksikan pada waktu pagi di Pulau Maringkik. Bentuk kearifan lokal yang disebut “maciro” bukanlah merupakan hal yang mengajarkan seseorang menjadi pengemis, namun mereka justru mementingkan rasa kesetia-kawanan atau kekeluargaan. Walaupun penduduk Maringkik terdiri dari berbagai suku, yakni suku bugis, makassar, mandar, bajo, ende, sumba, jawa, dan sasak namun mereka tetap mempertahankan rasa solidaritas yang tinggi dan sifat saling menolong. Hal ini pula menjadikan mereka tetap akrab dan bersatu di pulau yang terpencil ini. 

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru