Tradisi Menenun Di Sembalun Yang Tergerus Zaman

Hj. Merzaen sudah menenun sejak tamat SD bertahun-tahun yang lalu. Perempuan separuh baya ini menuturkan sejak 300 tahun yang lalu,  menenun telah menjadi tradisi di Sembalun yang sayangnya kini telah mulai tergerus zaman. 

Perempuan yang menjadi ketua kelompok tenun di tempatnya ini menuturkan bahwa pada zaman dahulu setiap anak gadis di sana harus bisa menenun sebagai tanda bahwa mereka tidak lagi anak-anak dan telah tumbuh dewasa. 

"Zaman dulu, setiap rumah memiliki alat tenun. Setiap hari suara tenun bersahut-sahutan terdengar dari rumah ke rumah," kenang Hj. Marzaen. 

Sayangnya, tradisi menenun kini tidak lagi dilakukan. Kebanyakan anak gadis pergi sekolah bahkan tidak sedikit yang pergi modok ke pondok pesantren sehingga tak memiliki waktu lagi untuk belajar menenun. 

"Anak sekarang juga kebanyakan malas belajar karena menenun ini susah," tuturnya. 

Meski telah tergerus zaman, Hj. Merzaen adalah salah satu perempuan yang masih menekuni tradisi menenun. Hampir setiap hari di depan rumahnya ia menenun beraneka motif kain maupun selendang. Beberapa diantaranya adalah motif khas gunung rinjani. 

"Saya tetap menenun karena saya mencintai tradisi ini. Selain itu, hanya ini yang dapat saya kerjakan untuk menghasilkan uang. Kelak saya juga berharap dapat mewarisi kain yang saya tenun kepada anak cucu saya," tambahnya.

Tenunan Hj. Merzaen sendiri dihargai berkisar dua ratua ribu sampai satu juta lebih tergantung kerumitan motif dan panjang kain. Selain itu ada kain tenunan yang umurnya sudah ratusan tahun tetapi tidak dijual karena telah menjadi warisan turun temurun. 

"Saya berharap semoga banyak pihak dapat membantu kelestarian kerajinan tenun di daerah ini," kata Hj. Merzaen diakhir wawancara. (nov)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru