Kekuatan dan Kearifan Budaya Bima

KM TNC. Budaya dan adat seringkali menyimpan kearifan tersendiri. Sebut saja filsafat lumbung padi di Bima yang biasa yang bisa disebut “Lengge” dan “Jompa“. Kedua benda tersebut adalah tempat menyimpan bahan makanan, mulai dari padi sampai jagung. Bedanya, usia lengge sudah jauh lebih tua. Sedangkan jompa lebih modern, meski tetap berbentuk rumah panggung.

Lengge terbuat dari kayu berbentuk panggung ukuran dua kali dua dengan kubah kerucut. Atap dan dindingnya menyatu ditutup rumbia. Terdiri dari tiga tingkat, pertama kolong bangunan, kedua bagian dalam yang dulu digunakan untuk rumah tinggal dan bagian pucuk yang berfungsi sebagai lumbung.

Jompa pada dasarnya hampir serupa. Hanya saja atapnya sudah diganti menjadi seng atau genteng. Tapi yang jelas, kedua jenis bangunan ini bebas paku. Sebagai gantinya digunakan pasak kayu. Bentuk rumah panggung seperti ini ternyata menyimpan tujuan. Menghindari serbuan tikus.

“Sederhana saja. Cukup dengan kayu berbentuk segiempat yang dipasang diantara tiang dan bangunan yang di sangga. Hasilnya, tikus tak bisa naik ke atas karena kepalanya selalu terbentur kayu.” terang M. Ali, salah satu tetua Desa Maria.

Dalam tutur sejarah, lengge dan jompa memang menyimpan banyak kearifan. Lewat sistem lumbung ini, nenek moyang mereka mengajarkan kesederhanaan dan tidak serakah. Zaman dulu, warga hanya boleh mengambil bahan makanan untuk keperluan satu minggu.

Cara penjagaannya pun mencerminkan rasa saling percaya. Konon, lumbung dibiarkan begitu saja, hanya dijaga satu juru kunci yang memiliki ilmu. Sekarang pun, lengge dan jompa masih dijaga juru kunci. Hanya saja sekelilingnya sudah mulai dibangun pagar, plus dipasangan kunci gembok.

Terlepas dari itu, pada masanya penyimpanan padi harus melalui beberapa proses. Intinya menunjukkan rasa syukur, dilanjutkan dengan harapan agar musim panen berikutnya akan mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru