Nyiru Sebagai Media Silaturrahim Perempuan Sasak

Menggali kearifal lokal sasak tiada matinya. Kalau dilihat sekilas, beberapa kearifan lokal masyarakat suku sasak di pulau Lombok ini mungkin terkesan biasa saja tidak ada yang istimewa. Tapi setelah direnungi dan dianalisis ternyata kearifan lokal kita sangat kaya serta sarat akan makna. Pun local wisdom yang melekat terhadap perempuan sasak itu sendiri yang selama ini tidak banyak diulas, dibahas, apalagi ditulis. Salah satunya adalah Nyiru.

Nyiru merupakan suatu aktifitas yang dilakukan oleh dedare sasak (gadis sasak) dengan membawa sesuatu barang dalam bentuk apa saja seperti sabun, handuk, jajan, gelas,piring (sandang, pangan, papan). Untuk diberikan kepada saudara, teman, sahabat, atau tetangga sesama perempuan yang menikah, dan diantar ke tempat (rumah suami) dimana perempuan sasak tersebut menikah. Hal yang sama akan dilakukan apabila yang nyiru nantinya menikah, serta membawa hal yang serupa.

Nyiru penyambung dan perekat antar perempuan sasak

Sebelum saya menikah, tradisi nyiru ini saya anggap biasa saja meskipun sudah dilakukan secara turun temurun. Juga walaupun sering mengunjungi teman yang menikah dan membawakan sesuatu sebagai buah tangan, saya belum menganggap sebagai suatu hal yang istimewa selain untuk mendengarkan cerita bagaimana rasanya menjadi pengantin dan proses-prosesnya menyesuaikan diri di lingkungan yang baru.

Setelah menikah, saya baru menyadari bahwa ini bukan sekedar tradisi membawa dan dibawakan barang, bukan pula hanya sekedar mendengar cerita, tapi lebih dari itu, ini tentang menyambung dan mempererat tali silaturrahim. Hal tersebut berawal ketika teman-teman yang telah saya kunjungi kembali mengunjungi dan membawakan hal serupa seperti yang saya bawa dulu, dan yang belum menikah juga ikut mengunjungi dan membawakan sesuatu, artinya nanti saya akan mengunjungi mereka kembali ketika mereka menikah. Ternyata sebagai seorang pengantin baru yang berada dilingkungan baru, dikunjungi teman adalah hal yang sangat membahagiakan.

 Apalagi mengingat medan menuju rumah suami yang sangat full of adventure dan mendebarkan bagi yang belum terbiasa ketika melewati jurang grepek dan jembatan gantung yang sudah rapuh dan bolong-bolong (Alhamdulillah sekarang jembatan bolongnya sudah bisa diajak ngebut sesuka hati), namun tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap mengunjungi saya.

Ikatan dan ingatan yang membuat mereka hadir. Bahwa dulu mereka pernah dikunjungi maka akan menjadi beban moral untuk tidak mengunjungi kembali. Sehingga secara otomatis tali silaturrahim face to face (bertatap muka) akan terus terikat dan berjalan, dimana di era digital ini menjadi barang mewah. Dengan adanya teknologi facebook, whatshapp, BBM, dan video call, pertemuan di dunia maya seringkali dianggap sudah mewakili pertemuan di dunia nyata.

Manfaat mempertahankan tradisi nyiru

Tradisi nyiru di kampung kelahiran saya di desa Darek masih mengakar dan dilakukan secara terus-menerus hingga saat ini. Bayangkan kalau tradisi nyiru ini tidak pudar dan menghilang, besar kemungkinan tidak ada jaminan untuk memastikan bisa saling mengunjungi untuk menyambung dan mempererat tali silaturrahim dikarenakan aktifitas berbeda-beda dan tempat tinggal yang berbeda dan berjauhan.

Seandainya tradisi nyiru ini sudah punah. Para generasi selanjutnya seperti saya akan susah mengenali kadang jari (keluarga dan kerabat) atau kalaupun kenal tidak merasakan adanya sebuah ikatan. Kita hanya akan tahu orang tua dan papuq baloq (kakek nenek) saja. Namun, dengan adanya tradisi nyiru ini setidaknya masih bisa meciptakan pertemuan di ruang nyata dan merawat silaturrahim degan teman, saudara, keluarga, dan kerabat. Tidak digantikan sepenuhnya oleh teknologi yang bernama handphone. ()

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru