Potensi Mertak Yang Terpendam

Mertak merupakan sebuah Desa Dikecamatan Pujut, kabupaten Lombok Tengah. Desa dimana sebagai tempat saya di lahirkan ini memiliki jumlah penduduk puluhan ribu jiwa yang tersebar di 22 Dusun. Rata-rata mata pencarian Masyarakatnya ialah bertani, nelayan, beternak dan beberapa darinya buruh di hotel atau di restoran. Desa yang di apit atau dengan kata lain di huni oleh Darmaga Awang bertaraf Internasional dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang sedang di bangun Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) ini juga menyimpan berbagai macam potensi alam, baik potensi fisik maupun non-fisik. Selain pembangunan KEK dan Darmaga tadi, di tengah-tengah Desa ini juga sedang galak-galaknya pembangunan sebuah Taman Wisata Alam yang cukup luas yang luasnya mencapai 1200 Kilometer Persegi, Taman tersebut ialah Taman Wisata Alam Gunung Tunak. TWA Gunung Tunak merupakan perubahan setatus dari Hutan Lindung Tunak menjadi hutan Ekowisata.

Hutan Tunak ini di perkirakan lebih tua dari Taman Wisata Alam Gunung Rinjani berdasarkan temuan batu atau kondisi alam yang ada, dan secara logika dan historis juga di dukung dengan sejarah bahwa gunung rinjani merupakan sisa letusan dari gunung samalas.

Di samping itu, Hutan Tunak saat ini menyimpan beberapa flora dan fauna langka di Lombok seperti kijang, rusa, landak, Tringgiling, kupu-kupu (terdidiri dari empat puluhan spesies lebih), burung gosong, tumbuhan kemuning, dan masih banyak lainnya. Selain dalam hutan juga terdapat beberapa kekayaan yang tersebar di teluk-teluk Taman Wisata Alam Gunung Tunak tersebut, seperti Bukit, pantai yang berpasir putih, teluk yang tenang, air laut yang biru, dan spot-spot alami lainnya.

Selain dari tiga segi emas potensi Mertak tersebut, masih banyak potensi alam Desa Mertak yang bisa di kembangkan masyarakat, seperti anyaman bambu yang merupakan penghasil bambu yang fantastis dan Juga kelapa di Dusun Bumbang, Dusun Serenang, Dusun Pako, dan Dusun Awang Kebon.

Yang tak kalah menarik dan berharga adalah banyaknya situs-situs yang terpendam yang belum di kenal oleh pemerintah dan publik, sebut saja Batu Pedang, Gunung Piring, Batu Angkus, Makam Pako, Sumur Takar-akar, Eberu, Gunung Raden, dan Batu Bolong, serta yang tak kalah menariknya iyalah memiliki tempat penangkapan nyale terbanyak di Lombok Tengah maupun NTB.

Batu Pedang merupakan sebuah batu yang berbentuk pedang yang di yakini masyarakat setempat sejak dulu memiliki kekuatan magis, sampai-sampai sebuah Dusun di tempat tersebut di namakan Dusun Batu Pedang. Salah satu keunikan batu tersebut ialah ketika pergantian musim kemarau ke musim hujan. Jika menurut hitung-hitungan tokoh setempat hujan seharusnya sudah turun namun masih belum juga, maka mereka akan meminta tokoh agama seperti kiyai untuk memimpin mereka berdo'a minta hujan di Batu Pedang tersebut tentu kepada Allah swt. tetapi melaui Batu Pedang tersebut dan membawa sesajen yang mereka namai dengab istilah "Nede". Terkait Batu Pedang untuk lebih dalamnya jika ada waktu saya akan melanjutkan penulusuran dan atau menggali ceritanya.

Dan tak jauh dari Batu Pedang, terdapat gunung yang dinamai Gunung Piring. Penamaan gunung piring tersebut di dasari dengan temuan artefak di Gunung Piring pada tahun 1976 yang saat itu Mertak masih belum pemekaran dengan desa Teruwai. Artefak ini berupa periuk utuh, kereweng, kerangka manusia, sisa kulit kerang, arang, fragmen logam dan binatang. Beberapa dari benda-benda tersebut saat ini di simpan di Museum Nusa Tenggara Barat.

Masih satu dusun beda Rukun Tangga (RT) di pesisir pantai Dondon terdapat batu yang tak kalah dengan sejarah dan keunikannya, Batu tersebut di namai Batu Angkus. Setiap air laut pasang surut dan ketika di hantam ombak, batu tersebut berbunyi sebagaimana anak-anak ngangkus (suara hidung anak-anak mengisap ingus). Masyarakat setempat meyakini bahwa berdo'a melaui Batu Angkus tersebut akan mampu menyembuhkan ngangkus dan lepas dari janji atau sumpah. Biasanya yang terkena penyakit ini ialah mereka yang berjanji atau bersumpah, seperti orang yang ingin memiliki anak perempuan dan Laki-laki ataupun yang ingin anaknya sembuh dari penyakit, tak jauh berbeda dengan bernazar. Nah jika Do'anya tersebut di jabah oleh Allah swt. maka orang tersebut harus datang ke batu angkus tersebut sebagai bentuk rasa syukur dan untuk melunasi janjinya, jika tidak maka anaknya biasanya sakit, ngangkus, atau timbul kesialan lainnya dalam hidupnya. Tata cara untuk datang ke Batu Angkus juga tidak semberangan, seperti mengenai waktu atau harinya. Batu angkus hanya boleh di kunjungi setiap hari Rabo dan harus lengkap dengan bawaan sesajennya, serta bersama mangku, dan masih banyak tata cara lainnya.

Situs yang unik dan memiliki bukti nyata lainnya ialah Sumur Takar-takar. Dengan keberadaan sumur Takar-takar ini juga menjadikan sebuah dusun di kawasan tersebut di namakan Dusun Takar-takar. Sumur Takar-akar merupakan peninggalan dari sebuah kerajaan di Lombok yang biasa di kenal dengan cerita "Temelak Mangan" (Kuat Makan) yang di ceritakan sebagai pengantar tidur anak-anak Lombok. Kisah, keunikan, siapa saja pejabat yang pernah di mandikan di sana, serta cerita lainnya terkait Sumur Takar-takar cukup panjang, untuk itu siapapun yang ingin tahu lebih dalam terkait Sumur Takar-akar bisa langsung ke Lokasi di Dusun Takar-takar Desa Mertak dan bisa langsung bertanya ke Mangku Sumur Takar-akar. Tidak jauh berbeda juga dengan Makam Pako, Eberu, Batu Bolong, gunung raden, yang rata-rata memiliki kisah tragis, semoga saya memiliki waktu untuk mengulasnya lebih dalam lagi.

Dengan potensi Mertak yang cukup tinggi tersebut maka bukan hal yang mustahil bagi Desa Mertak untuk maju atau setidak nya lebih baik dengan Desa lainnya, apalagi Desa ini terkenal dengan berlimpahnya udang lobster di teluk bumbang, Awang, dan teluk Dondon. Selain potensi secara fisik juga terdapat beberapa kekayaan Mertak secara Non-Fisik seperti hadirnya dua suku di Mertak yang menunjukkan keberagaman budaya dan tradisi. Apalagi di tambah lagi dengan kekuatan tradisi gotong royong yang tergabung di sebuah wadah yang di kenal dengan nama Banjar. Wadah banjar ini cukup kental dan kuat kelestariannya. Banjar ini merupakan kegiatan kegotong royongan yang tergabung dari beberapa dusun dalam berbagai bidang yang di ikat dengan hukum adat yaitu hukum lisan atau awik-awik. Tentu kami bangga di era ini kita memiliki kekuatan gotong royong yang kuat ketika di beberapa daerah, tradisi kegotong royongan ini sedang terkikis oleh zaman modern. Dalam menganut budaya perkawinan atau bejangkep, serta Besunat, dan upacara adat lainnya juga masih sangat kental di Desa Mertak di buktikan dengan masih lestarinya musik tradisional Kamput atau Kuda Kayu di dusun Pako Desa Mertak.

Itulah sedikit ulasan mengenai potensi mertak yang beragam, yang saat ini masyarakat atau pemudanya sedang gencar-gencarnya melakukan pembenahan untuk membuka potensi-potensi tersebut untuk menuju Desa Wisata. Pembenahan di mulai dari tarif atau palang pintu yang berupa portal, yang dulunya tiga portal sekarang satu portal, pembangunan amenitas berupa fasilitas pendukung seperti gedung, musholla, aksebilitas yang memadai untuk memudahkan akses seperti jalan, jaringan, dan yang tak kalah penting ialah kemanan dan kenyamanan pengunjung serta sarana lainnya [anom]

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru