Tradisi Nyongkolan Suku Sasak

Nyongkolan merupakan tradisi pernikahan disuku Sasak. Tradisi nyongkolan ini biasanya dilaksanakan di badan jalan raya yang menyebabkan kemacetan karena adanya musik pengiring kecimol atau musik dangdut jalanan, seperti sedang melaksankan pawai. Terlihat para gadis yang sedang membawa seserahan seperti buah – buahan melengkapi tradisi nyongkolan ini.

Namun Nyongkolan sebenarnya yakni diiringi musik dari Gendang Beleq saat berjalan. Selain itu para peserta pawai ini juga tidak mengenakan alas kaki. Sejumlah seserahan seperti buah-buahan dan daun sirih melengkapi simulasi pawai Nyongkolan ini.

Selama ini, tradisi Nyongkolan di masyarakat Lombok sudah terjadi banyak penyimpangan. Musik Gendang Beleq diganti dengan Kecimol (dangdut koplo). Para pesertanya pun tidak luput dari minuman beralkohol yang sering menyebabkan perkelahian fatal.

                      Para peserta nyongkolan menggunakan p akaian adat Sasak yaitu lambung untuk perempuan dan utuk laki laki disebut dodot atau kain sarungyang diikat di pinggang. Jadi akan menghindari pengunaan pakaian yang tidak tepat, selama ini tradisi nyongkolan di pulau Lombok masih tetap dilestarikan. Karena itu merupakan warisan budaya yang harus terjaga. Biasanya nyongkolan didiringi dengan musik gendang beleq atau dengan kecimol. (Tari)   -03

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru