Filosofi Parang Dalam Kehidupan Suku Mbojo

Memahami Dou Malabo Daha, bukan 

Dou Ma Lewa.

Wara si Daha Ma Dumpu 

Kamalo pu..

Daha-daha kaipu makala ro mamonca

kantika-ntika..

ngahi ra kadaha-daha..

kutipan dari sebuah syair ketika Daha (Parang) akan di buat oleh pande besi..yang di catat oleh Jonker

Daha Ma Taho yang artinya Pusaka yang baik, meliputi kebutuhan keseharian, salah satunya adalah Daha atau parang, dalam filosofi kehidupan Suku Mbojo, Daha bukanlah alat represif untuk memerangi satu sama lain.

Daha Ma Taho sebuah tolak ukur tingkat kedewasaan dan kesejahteraan seseorang untuk menafkahi keluarganya yang disebut "Dou Malabo Daha", Daha untuk dijadikan sumber kehidupan bukan untuk mengambil kehidupan.

Sangatlah malu jika parang hanya untuk meneteskan darah sesama dan setanah air. Karena itu bukan cerminan dari Mone Rangga (laki-laki sejati), juga bukan tradisi dan budaya Bima asli.

Dou mangaji ilmu sa mena na fakibi..

Na ndawi ku mpa ma ndai daha daha kai nggahi,

rawi na sa na mbai une oi mbohi,

sangge sangge sara nuntu.. bari lambahi...

Saja romon mpara rasa Mbojo.

kutipan syair di atas, menceritakan parang hanya untuk dibicarakan dan dipelajari bukan untuk merusak negeri..

Foto seorang laki-laki dengan Daha asal Labuhan Kananga akan menuju ladangnya.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru