Maqam Loang Baloq “Berawal Dari Kepercayaan Menjadi Tradisi”

Maqam loang baloq merupakan salah satu tempat yang kerap di kunjungi oleh masyarakat untuk tujuan berziarah. Maqam ini terletak di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Ampenan.  Masyarakat jadikan maqam tersebut salah satu isyarat supaya doa mereka cepat terkabulkan, itu berdasarkan kepercayaan mereka. .” Kita datang ke sini untuk berdoa dan zikir supaya yang kita niatkan atau inginkan cepat terijabah oleh Allah SWT, untuk jadi sebuah syarat saja” kata buk Nur salah satu pengunjung.

            Pada tahun 1866 seorang ulama’ besar bernama Syeh Gaus Abdurrazak yang berasal dari jazirah arab. Yang pernah menyampaikan ajaran islam di Ampenan. Berawal dari sanalah beliau di kenal oleh masyarakat sebagai orang yang alim. Selain maqam Syeh Gaus Abdurrazak, juga terdapat makam datuk laut merupakan teman dari Syeh Gaus Abdurrazak.

Syekh Gauz Abdurrazak adalah seorang ulama dan pendakwah agama Islam yang berasal dari Baghdad Irak yang menyebarkan agama Islam dari Palembang lalu kemudian singgah di Lombok sekitar 18 abad yang silam. Setelah menyebarkan Islam di daerah Palembang, beliau lalu meneruskan perjalanan dakwahnya dan mendarat di pesisir pantai Ampenan. Saat sampai disana, ia memberikan petuah-petuah yang bersumber pada ajaran Islam dasar kepada warga dan masyarakat sekitar.

 

Makam Syekh Gaus Abdurrazak inilah yang berada tepat di lubang di bawah pohon beringin yang berbentuk persegi panjang, berlubang di tengah seperti sebuah goa, dimana lubang di tengah inilah tempat dimana para pengunjung biasanya menaburkan bunga sebagai penghormatan. Untuk masuk ke dalam area makam yang sudah dipermak dengan keramik putih bersih ini, para pengunjung perlu memasuki sebuah pintu khusus, di samping pintu masuk tersebut sudah disiapkan air untuk digunakan para penziarah dan sebuah Mushola kecil. Sementara itu, Makam Anak Yatim berada disamping bagian luar Makam Maulana Syekh Gaus Abdurrazak dengan ukuran yang lebih kecil. Di samping makam ini, berdampingan pula Makam Datuk Laut dengan bangunan berbentuk permanent dengan ukuran 3x4 meter dengan keramik berwarna hitam.

 

Tidak hanya ingin berziarah, para pengunjung yang datang ke komplek pemakaman ini terkada menggelar beberapa ritual seperti potong rambut anak yang masih balita, biasanya disebut dengan ngurisan dalam bahasa Sasak. Para peziarah biasanya juga ada yang menyampaikan nazar mereka dan berdo'a di makam agar segera permintaannya segera dikabulkan, misalnya berdo'a meminta jodoh, panjang umur, murah rezeki dan doa doa lainnya. Bagi mereka yang bernazar ditempat ini, mereka selalu mengikat sesuatu ke akar gantung pohon beringin tersebut.

Jika semisalnya nazar dan do'a mereka cepat dikabulkan, biasanya para penazar akan kembali lagi ke tempat ini untuk membuka ikatan yang mereka lakukan sebelumnya lalu membayar nazar yang sudah disampaikan. Tradisi ini mereka sebut dengan "Saur Sesangi" alias membayar janji. 

 

Kompleks pemakaman Loang Baloq ini biasanya ramai dikunjungi saat lebaran Idul Fitri tiba hingga satu minggu setelah Lebaran Idul Fitri. Selain perayaan Idul Fitri, makam Loang Baloq juga akan ramai dikunjungi saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

            Kealiman dari para syeh ini yang menjadikan antusias para masyarakat baik dari pulau Lombok maupun dari luar daerah untuk datang berziarah. “kami sekeluarga sering kesini, apalagi saat lebaran.” Ujar pak Udin salah satu pengunjung dari Lombok Tengah.

Setiap hari maqam ini selalu di penuhi oleh peziarah, “belum lagi pada waktu idul fitri dan idul adha jumlah peziarah bias mencapai ribuan orang lebih.” Kata pak samsudin penjaga maqam tersebut.

            Dari tidak pernah terhentinya orang-orang yang berdatangan untuk ziarah ke maqam loang baloq, jadi tanpa di sadari itu menjadi sebuah kebudayaan oleh masyarakat itu sendiri.

Maqam loang baloq merupakan salah satu tempat yang kerap di kunjungi oleh masyarakat untuk tujuan berziarah. Maqam ini terletak di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Ampenan.  Masyarakat jadikan maqam tersebut salah satu isyarat supaya doa mereka cepat terkabulkan, itu berdasarkan kepercayaan mereka. .” Kita datang ke sini untuk berdoa dan zikir supaya yang kita niatkan atau inginkan cepat terijabah oleh Allah SWT, untuk jadi sebuah syarat saja” kata buk Nur salah satu pengunjung.

            Pada tahun 1866 seorang ulama’ besar bernama Syeh Gaus Abdurrazak yang berasal dari jazirah arab. Yang pernah menyampaikan ajaran islam di Ampenan. Berawal dari sanalah beliau di kenal oleh masyarakat sebagai orang yang alim. Selain maqam Syeh Gaus Abdurrazak, juga terdapat makam datuk laut merupakan teman dari Syeh Gaus Abdurrazak.

Syekh Gauz Abdurrazak adalah seorang ulama dan pendakwah agama Islam yang berasal dari Baghdad Irak yang menyebarkan agama Islam dari Palembang lalu kemudian singgah di Lombok sekitar 18 abad yang silam. Setelah menyebarkan Islam di daerah Palembang, beliau lalu meneruskan perjalanan dakwahnya dan mendarat di pesisir pantai Ampenan. Saat sampai disana, ia memberikan petuah-petuah yang bersumber pada ajaran Islam dasar kepada warga dan masyarakat sekitar.

 

Makam Syekh Gaus Abdurrazak inilah yang berada tepat di lubang di bawah pohon beringin yang berbentuk persegi panjang, berlubang di tengah seperti sebuah goa, dimana lubang di tengah inilah tempat dimana para pengunjung biasanya menaburkan bunga sebagai penghormatan. Untuk masuk ke dalam area makam yang sudah dipermak dengan keramik putih bersih ini, para pengunjung perlu memasuki sebuah pintu khusus, di samping pintu masuk tersebut sudah disiapkan air untuk digunakan para penziarah dan sebuah Mushola kecil. Sementara itu, Makam Anak Yatim berada disamping bagian luar Makam Maulana Syekh Gaus Abdurrazak dengan ukuran yang lebih kecil. Di samping makam ini, berdampingan pula Makam Datuk Laut dengan bangunan berbentuk permanent dengan ukuran 3x4 meter dengan keramik berwarna hitam.

 

Tidak hanya ingin berziarah, para pengunjung yang datang ke komplek pemakaman ini terkada menggelar beberapa ritual seperti potong rambut anak yang masih balita, biasanya disebut dengan ngurisan dalam bahasa Sasak. Para peziarah biasanya juga ada yang menyampaikan nazar mereka dan berdo'a di makam agar segera permintaannya segera dikabulkan, misalnya berdo'a meminta jodoh, panjang umur, murah rezeki dan doa doa lainnya. Bagi mereka yang bernazar ditempat ini, mereka selalu mengikat sesuatu ke akar gantung pohon beringin tersebut.

Jika semisalnya nazar dan do'a mereka cepat dikabulkan, biasanya para penazar akan kembali lagi ke tempat ini untuk membuka ikatan yang mereka lakukan sebelumnya lalu membayar nazar yang sudah disampaikan. Tradisi ini mereka sebut dengan "Saur Sesangi" alias membayar janji. 

 

Kompleks pemakaman Loang Baloq ini biasanya ramai dikunjungi saat lebaran Idul Fitri tiba hingga satu minggu setelah Lebaran Idul Fitri. Selain perayaan Idul Fitri, makam Loang Baloq juga akan ramai dikunjungi saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

            Kealiman dari para syeh ini yang menjadikan antusias para masyarakat baik dari pulau Lombok maupun dari luar daerah untuk datang berziarah. “kami sekeluarga sering kesini, apalagi saat lebaran.” Ujar pak Udin salah satu pengunjung dari Lombok Tengah.

Setiap hari maqam ini selalu di penuhi oleh peziarah, “belum lagi pada waktu idul fitri dan idul adha jumlah peziarah bias mencapai ribuan orang lebih.” Kata pak samsudin penjaga maqam tersebut.

            Dari tidak pernah terhentinya orang-orang yang berdatangan untuk ziarah ke maqam loang baloq, jadi tanpa di sadari itu menjadi sebuah kebudayaan oleh masyarakat itu sendiri.

Maqam loang baloq merupakan salah satu tempat yang kerap di kunjungi oleh masyarakat untuk tujuan berziarah. Maqam ini terletak di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Ampenan.  Masyarakat jadikan maqam tersebut salah satu isyarat supaya doa mereka cepat terkabulkan, itu berdasarkan kepercayaan mereka. .” Kita datang ke sini untuk berdoa dan zikir supaya yang kita niatkan atau inginkan cepat terijabah oleh Allah SWT, untuk jadi sebuah syarat saja” kata buk Nur salah satu pengunjung.

            Pada tahun 1866 seorang ulama’ besar bernama Syeh Gaus Abdurrazak yang berasal dari jazirah arab. Yang pernah menyampaikan ajaran islam di Ampenan. Berawal dari sanalah beliau di kenal oleh masyarakat sebagai orang yang alim. Selain maqam Syeh Gaus Abdurrazak, juga terdapat makam datuk laut merupakan teman dari Syeh Gaus Abdurrazak.

Syekh Gauz Abdurrazak adalah seorang ulama dan pendakwah agama Islam yang berasal dari Baghdad Irak yang menyebarkan agama Islam dari Palembang lalu kemudian singgah di Lombok sekitar 18 abad yang silam. Setelah menyebarkan Islam di daerah Palembang, beliau lalu meneruskan perjalanan dakwahnya dan mendarat di pesisir pantai Ampenan. Saat sampai disana, ia memberikan petuah-petuah yang bersumber pada ajaran Islam dasar kepada warga dan masyarakat sekitar.

 

Makam Syekh Gaus Abdurrazak inilah yang berada tepat di lubang di bawah pohon beringin yang berbentuk persegi panjang, berlubang di tengah seperti sebuah goa, dimana lubang di tengah inilah tempat dimana para pengunjung biasanya menaburkan bunga sebagai penghormatan. Untuk masuk ke dalam area makam yang sudah dipermak dengan keramik putih bersih ini, para pengunjung perlu memasuki sebuah pintu khusus, di samping pintu masuk tersebut sudah disiapkan air untuk digunakan para penziarah dan sebuah Mushola kecil. Sementara itu, Makam Anak Yatim berada disamping bagian luar Makam Maulana Syekh Gaus Abdurrazak dengan ukuran yang lebih kecil. Di samping makam ini, berdampingan pula Makam Datuk Laut dengan bangunan berbentuk permanent dengan ukuran 3x4 meter dengan keramik berwarna hitam.

 

Tidak hanya ingin berziarah, para pengunjung yang datang ke komplek pemakaman ini terkada menggelar beberapa ritual seperti potong rambut anak yang masih balita, biasanya disebut dengan ngurisan dalam bahasa Sasak. Para peziarah biasanya juga ada yang menyampaikan nazar mereka dan berdo'a di makam agar segera permintaannya segera dikabulkan, misalnya berdo'a meminta jodoh, panjang umur, murah rezeki dan doa doa lainnya. Bagi mereka yang bernazar ditempat ini, mereka selalu mengikat sesuatu ke akar gantung pohon beringin tersebut.

Jika semisalnya nazar dan do'a mereka cepat dikabulkan, biasanya para penazar akan kembali lagi ke tempat ini untuk membuka ikatan yang mereka lakukan sebelumnya lalu membayar nazar yang sudah disampaikan. Tradisi ini mereka sebut dengan "Saur Sesangi" alias membayar janji. 

 

Kompleks pemakaman Loang Baloq ini biasanya ramai dikunjungi saat lebaran Idul Fitri tiba hingga satu minggu setelah Lebaran Idul Fitri. Selain perayaan Idul Fitri, makam Loang Baloq juga akan ramai dikunjungi saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

            Kealiman dari para syeh ini yang menjadikan antusias para masyarakat baik dari pulau Lombok maupun dari luar daerah untuk datang berziarah. “kami sekeluarga sering kesini, apalagi saat lebaran.” Ujar pak Udin salah satu pengunjung dari Lombok Tengah.

Setiap hari maqam ini selalu di penuhi oleh peziarah, “belum lagi pada waktu idul fitri dan idul adha jumlah peziarah bias mencapai ribuan orang lebih.” Kata pak samsudin penjaga maqam tersebut.

            Dari tidak pernah terhentinya orang-orang yang berdatangan untuk ziarah ke maqam loang baloq, jadi tanpa di sadari itu menjadi sebuah kebudayaan oleh masyarakat itu sendiri.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru