Berugaq Bayan

Berugak merupakan bangunan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar Masyarakat Bayan, terutama Masyarakat Adat. Berugak memiliki begitu banyak fungsi, salah satunya adalah sebagai tempat menerima tamu. Dalam Masyarakat Adat tidak diperbolehkan menerima tamu di dalam rumah, bahkan jika ada mereka menginappun tempat tidurnya adalah di berugak tersebut. Fungsi lainnya adalah sebagai tempat untuk ritual adat, dan juga sebagai tempat untuk melaksanakan musyawarah (Gundem).

 Tulisan kali ini yang akan dibahas adalah jenis-jenis berugak dan fungsinya masing-masing, karena ada beberapa jenis berugak yang tidak boleh ditempatkan pada tempat tertentu, dimana berugak yang ada di Masyarakat Bayan memiliki beberapa jenis dan fungsi yang berbeda-beda. Semua berugak saka enem (tiang enam) yang ada di Masyarakat Adat harus menghadap utara selatan atau tiga tiangnya berada di sebelah timur dan barat.

  1. Berugak Agung

Berugak Agung merupakan berugak saka enem (tiang enam) yang tempatnya adalah di dalam Kampu Karang Bajo, berugak ini memiliki atap yang terbuat dari ilalang yang di gelit. Berugak Agung disemua bagian sampingnya tidak ditutupi oleh apapun juga seperti berugak-berugak di masing-masing rumah Masyarakat. Bagian bawah tidak memiliki pondasi, hanya terdapat batu sebagai penopang tiang-tiang berugak (Masyarakat Adat menyebutnya dengan nama cendi). Cendi ini memiliki fungsi untuk menjaga air supaya tidak membasahi tiang, sehingga tiang berugak tetap terjaga dan tidak cepat rusak/lapuk.

Fungsi Berugak Agung adalah sebagai tempat meriap (makan bersama) pada puncak acara ritual adat yang dilaksnakan di Kampu Karang Bajo, fungsi lainnya adalah sebagai tempat majang (menghiasi berugak) dan memblonyo pada saat ritual Maulid Adat (Idul Fitri secara Adat). Berugak ini juga merupakan sebagai tempat musyawarah besar (Gundem) untuk membicarakan pengangkatan pejabat adat, pelaksanaan ritual adat tertentu, dan juga untuk menetapkan sanksi jika terdapat Masyarakat Adat yang melanggar ketentuan Adat, serta sabagai tempat untuk Mengageq (Ancak).

  1. Berugak Malang

Berugak Malang ini berada di sebelah timur Berugak Agung yang juga ada di Kampu Karang Bajo. Berugak Malang tidak jauh berbeda dengan Berugak Agung, dimana bagian bawahnya tidak memiliki pondasi hanya memiliki cendi, atapnya terbuat dari ialalang yang digelit, memiliki tiang enam dan bagian sampingnya tidak ditutupi oleh apapun, yang berbeda hanya pada fungsinya.

Fungsi dari Berugak Malang adalah sebagai tempat untuk menaruh dan memainkan alat music gong pada saat ritual Maulid Adat (Idul Fitri), dan juga sebagai tempat untuk mengikat kambing yang dibawa oleh Masyarakat Adat pada saat ritual adat sebelum dipotong, tempat mengikatnya adalah pada setiap tiang bagian bawah berugak. Kemudian fungsi lainnya adalah sebagai tempat mengumpulkan semua ternak yang telah dipotong untuk dicincang menjadi bagian yang kecil-kecil, dalam proses ini yang memimpin adalah Aman Jangan yang dibantu oleh Masyarakat Adat lainnya.

  1. Berugak Pengagean

Lokasi dari Berugak Pengagean ini sedikit berbeda dengan Berugak Agung dan Berugak Malang, dimana lokasi adalah di dalam areal pekarangan Perumbaq Tengaq (Amaq Lokaq Gantungan rombong), walaupun memang sama-sama berada di Dalam Kampu Karang Bajo. Bentuknya sama persis dengan dua berugak yang diatas, hanya memiliki fungsi yang beda.

Fungsi dari Berugak Pengagean adalah sebagai tempat untuk menyajikan semua makanan dalam sebuah wadah yang disebut Sampak, keiatan ini dilakukan dalam setiap ritual adat sebelum dilaksnakan meriap (makan bersama). Orang yang melakukan tugas ini adalah kaum perempuan, tetapi kegiatan menyiapkan makanan yang dilakukan oleh laki-laki hanya mengageq di Berugak Agung.

  1. Berugak Pegat

Berugak Pegat ini sangat berbeda dengan berugak lainnya, diamana Berugak Pegat ini pada bagian tengahnya yang bisa kita lewati, karena memiliki tiang sebanyak 8, 4 tiang sebelah utara berbentuk saka emapat, dan 4 tiang sebelah selatan, dan di bagian tengahnya terputus walaupun atapnya terhubung antara bagian utara dan selatannya. Lokasi untuk Berugaq ini adalah di Karang Pande, pada tempat ini terdapat pejabat adat yaitu Amaq Lokaq Pande yang posisi rumahnya sebelah barat Berugak Pegat.

Fungsi Berugak Pegat adalah sebagai tempat untk merancang segala hal yang ada di Maysrakat Adat sebelum dibawa ke Berugak Agung, disini juga diputuskan setiap permasalahan terkait denga segala perubahan yang terjadi dalam Masyarakat Adat. Yang menjadi fungsi utama dari Berugak Pegat ini adalah sebagai tempat untuk membicarakan perkawinan Masyarakat Adat yang salah, yaitu perkawianan yang sudah silaranga oleh Masyarakat Adat seperti perkawinan dengan saudara kandung ibu atau bapak. Bagian atapnya terbuat dari ilalang juga yang di sepeq, tidak dalam bentuk gelitan.

Pada saat ini, Berugak Pegat ini sudah tidak ada tetapi masih dalam perencanaan pembuatan yang baru oleh Lembaga Pranata Adat Gubuk Karang Bajo-Bayan, hal ini terjadi karena pada masa lampau dimasa Orde Baru banyak oknum dari pejabat pemerintah yang sengaja ingin menghapus setiap ritual Masyarakat Adat salah satunya dengan cara menghilangkan Berugak Pegat sebagai tempat untuk mengambil keputusan adat jika terdapat perkawinan yang salah.

  1. Berugak Saka Baluq (delapan)

Berugak Saka Baluq ini terdapat di Batu Gerantung, Desa Loloan. Berugak ini memiliki tiang sebanyak delapan, atapnya terbuat dari ilalang juga yang dibuat dengan di sepeq. Berugak ini paling besar diantara burugak-berugak lainnya, karena disini merupakan tempat berkumpulnya banyak orang untuk mengekskusi orang yang malakukan pelanggaran adat yang sangat berat. Pelanggaran berat yang dilakukan oleh Masyarakat Adat sanksinya ada dua yaitu, dibunuh atau dihanyutkan di laut.

Berugak Saka baluq inipun sekarang hanyalah sebuah cerita yang sangat diyakini oleh Masyarkat Adat, tetapi berugaqnya sudah tidak ada. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh bagian pemerintah Kabupaten Lombok Utara yaitu Kepala Bidang Kebudayaan Rianom, S. Sos menyatakan bahwa berugaq ini akan coba dibangun kembali untuk mengembalikan fungsi adat agar tetap terjaga dan lestari.

  1. Berugak Saka Enem (enam)

Berugak Saka Enem merupakan berugak bagi Masyarakat Adat secara umum. Berugak ini wajib untuk tanah adat atau tanah gubuk, tidak boleh menggunakan Berugak Saka Empat. Berugaq Saka Enem yang ada di Masyarakat Adat tidak di bakukan untuk jenis atapnya, boleh terbuat dari genteng, seng, atau yang lainnya. Pada bagian bawah berugak selalu memiliki pondasi, karena pada berugak ini di bagian selatannya harus ditutup karena lokasi tidak dipagari seperti pada Kmapu Karang Bajo, sehingga banyak Masyarakat Adat membuat dapur pada bagian selatannya.

Fungsi Berugak Saka Enem adalah sebagai tempat meriap (makan bersama) pada puncak acara ritual yang dilaksanakan di rumah Masyarakat Adat, sebagai tempat ritual potong rambut (mengkuris), sebagai tempat menerima tamu, jika tamunya menginap maka sekaligus sebagai tempat menginapnya, sebagai tempat menyolatkan jenazah, sebagai tempat untuk mengaji pada acara kematian, dan juga sebagai tempat membaca lontar (bepaosan) bagi para pemaca pada saat ritual-ritual tertentu seperti kitanan dan kurisan.

Mengapa di tanah adat atau tanah gubuk harus Saka Enem……………….? Hal ini disebabkan karena tanah adat dan tanah gubuk bukab milik pribadi, dan juga untuk menjaga silaturrahmi dan social sesama tetangga, sehingga tempat untuk mendirikan berugak ini yaitu diantara dua rumah. Jika terdapat tamu diantara dua keluarga maka semua memiliki hak untuk menggunkan berugak tersebut, keluarga yang satu disebelah utara, dan keluarga yang lainnya disebelah selatan begitu juga sebaliknya. Hal inlah menyebabkan tidak boleh menggunakan Berugak Saka Empat, tetapi harus saka enam.

  1. Berugak Saka Empat

Berugak Saka Empat merupakan berugak yang hanya memiliki empat tiang, dan tidak ada aturan sedikitpun dalam berugak ini. Berugak Saka Empat bagi Masyarakat Adat hanyalah sebagai berugak untuk di persawahan, karena berugak ini tidak bisa digunakan untuk ritual adat apapun, dan ini hanya menjadi berugak pribadi.

Demikianlah jenis berugak sesuai dengan fungsinya yang ada pada Masyarakat Adat Bayan pada umumnya. Semoga tulisan ini bisa memberikan informasi yang berguna bagi para pembaca, dan juga bagi pihak yang berkenan untuk mau membantu  melestarikan adat dan budaya dalam mengadakan atau membangun kembali Berugak Pegat dan Berugak Saka Baluq yang sudah lama hilang.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru