Bambu Bayan

BAMBU DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT ADAT BAYAN

Tanaman bambu memiliki hubungan yang sangat erat dalam kehidupan Masyarakat Adat Bayan, sejak baru lahir samapi pada akhir dari kehidupan manusia yang ada pada komunitas adat Bayan selalu melibatkan bambu. Bambu digunakan pada setiap prosesi adat yang dilaksankan dalam Kampu, dalam ritual dirumah Masyarakat Adat, sebagai kuliner, dan bahkan  bangunan.

Pada bangunan Masjid Kuno Bayan, bambu digunakan sebagai atap (Masyarakat Adat menyebutkan Santek), dan sebagai pagar keliling Masjid. Pada bangunan rumah Masyarakat Adat juga menggunakan bambu yaitu, sebagai usuk, tanggek rumah, pagar inan bale, pagar rumah, lantai inan bale, lantai amben berik, lantai amben beleq, sebagai pengikat kayu dan atap, serta sebagai daun pintu rumah.

Dalam setiap ritual Masyarakat Adat, bambu ini memiliki peran yang sangat besar yaitu, saat yang baru lahir pada jaman dahulu digunakan sebagai pemotong tali pusar, sabagai tempat untuk menaruh beras benang dalam semua  adat, baik dalam acara potong rambut Mengkuris), kitanan (menyunat), dalam penyerahan saji karma adat dan perkawianan, maupun pada prosesi ritual kematian. Pada prosesi ritual kematian, bamboo merupakan sebagai pengantar menuju tempat pemakaman yaitu sebgai keranda mayat, dan juga sebagai penopang tanah pada liang lahat.

Prosesi yang dilaksankan dalam Kampu yang menggunakan bambu adalah pada prosei Ngaji Gubuk, yaitu sebagai penimbung (wadah untuk memasak) dan saat ritual ngolah bnagket (bangar), pada prosesi maulid adat dan kitanan digunakan sebagai alat penumbuk padi (tempan), sebagai ancak (wadah untuk menaruh makanan) saat prosesi lebaran tinggi (idul fitri), pada saat lebaran pendek (idul adha), maulid adat dan nituk (7 hari kematian).

Fungsi bambu yang lain juga digunakan sebagai alat untuk memancing oleh para nelayan (pemales), jenis bamboo ini dalam Masyarakat Bayan menyebutnya dengan biloq. Pada saat sekarang ini, bilok semakin berkurang karena tidak dibudidayakan, hal ini disebabkan karena untuk memancing masyarakat sudah banyak menggunakan alat yang lebih canggih dan praktis yaitu wales (buatan pabrik). Fungsi lainnya digunakan juga sebagai penyeimbang perahu nelayan yaitu sebagai katir pada bagian samping perahu.

Bibit bambu yang masih kecil/anakan bamboo (rembong) dikonsumsi sebagai bahan makanan. Kuliner bambu ini biasa dimasak dengan santan kelapa, yang dicampur dengan bahan makanan lain seprti komak, kulit sapi atau kerbau. Bambu juga digunakan sebagai tusuk untuk membuat sate ikan laut dan daging, dan banyak lagi fungsi lainnya seprti sebagai bahan bangunan bertingkat yang digunakan untuk menopang pada lantai bagian atas bangunan.

Jika kita melihat fungsi bambu dalam kehidupan Masyarakat Adat diatas, maka kita harus bisa menjaga dan melestarikan bamboo di bumi Byan ini. Tanpa bambu maka akan membunuh sebagian besar dari semua kehidupan masyarakat Adat, karena secara langsung tidak ada lagi ritual adat yang akan dilaksankan karena tidak ada bambu, dan disisi lain tidak akan ada lagi bangunan Masyarakat adat yang menggunakan bahan alami seperti yang masih kita lihat sekarang ini, Masjid Kuno sebagai wisata budaya nasionalpun tidak akan bisa kita lihat pada kedepannya. Pada akhirnya generasi berikutnya hanya tinggal mendengar cerita dan dongeng bagaimana kehidupan leluhurnya tanpa bisa mereka melihatnya secara langsung.

Bambu merupakan salah satu alternative pengganti kayu untuk mempertahankan alam yang saat ini sudah semakin panas. Bambu laminasi memiliki kekuatan yang menyamai kayu kelas dua sebagai bahan bangunan (example Balai Pusaka Sebaya Tanta), membuktikan bahwa sangat perlu di budi dayakan untuk terciptanya bumi yang semakin lestari. Oleh sebab itu, festival bamboo menjadi sangat penting untuk dilakukan sebagai bentuk strategi kampanye kepada seluruh lapisan Masyarakat pada umumnya, dan Masyarakat Adat Bayan pada khususnya.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru