Sorong Serah dalam Bingkai Adat Sasak

Sorong serah merupakan upacara adat yang dilangsungkan dirumah mempelai wanita sesaat sebelum rombongan nyongkolan datang bersilaturrahmi kerumah orang tuanya. Upacara adat ini juga sangat sakral dan sarat dengan kesopanan baik dalam gerak gerik tingkah laku maupun tutur bahasa yang agung.

jika diartikan secara harfiah sorong serah berarti, sorong: mendorong dan serah: menyerahkan jadi, sorong serah berarti  serah terima secara simbolik piranti-piranti yang terbungkus didalam satu wadah yang dinamakan olen-olen (ceraken).

Terkandung makna filosofi yang sangat mendalam dalam upacara serong serah (serah terima),dimana ceraken berisikan kepeng bolong (uang zaman dahulu yang biasa bertuliskan huruf china), perumbaq/lempot (selendang yang biasa digunakan untuk menggendong anak) dan pisau.

Pembayun asal kata dari peman ing ayun artinya pemimpin dimuka. Singkatnya pembayun adalah pemimpin rombongan dan sekaligus menjadi juru bicara dalam upacara adat sorong serah. sebelum pembayun memasuki pelataran arena upacara adat, terlebih dahulu pembayun mengutus seorang solo (suluh) untuk meminta izin kepada tuan rumah dengan kedatangannya. Juru solo ini sekurang-kurang diikuti oleh dua orang.

Setelah diizinkan masuk oleh tuan rumah maka juru solo ini juga melaporkan hal itu kepada pembayun. Tanpa membuang waktu terlalu panjang pembayunpun bergegas memimpin rombongannya dengan berbaris dan tertib untuk melangsungkan upacara adat serong serah dan sekurang-nya diikuti oleh dua puluh orang.

Didalam pemaparannya pembayun mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya dan biasa menggunakan bahasa kawi kuno namun becampur dengan bahasa Bali, Sasak, bahasa halus yang biasa digunakan oleh masyarakat Sasak sehari-hari. Intinya Didalam pemaparannya ingin menyelesaikan perkawinan yang sudah dilangsungkan secara adat. (Mustar/Wardi). -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru