Tradisi Tahunan 'Selempat Kebo' Di Sumbawa


Lain kampung lain adat adalah sebuah pribahasa Indonesia yang bermakna perbedaan. Perbedaan tersebut memberikan gambaran hidup pada wilayah Negara Republik Indonesia yang beragam suku,budaya atau tradisi. Salah satu contoh perbedaan tradisi di Negara kita Indonesia adalah tradisi masyarakat dalam menjadikan sapi atau kerbau sebagai atraksi dalam sebuah tontonan.

Pada masyarakat Toraja yang ada di Sulawesi selatan, kerbau menjadi tontonan pada ribuan orang ketika berlangsungnya suatu upacara kematian bagi kalangan atas. Sekitar seratus ekor kerbau yang harus tewas sebagai simbol penyembahan kepada sang leluhur mereka. Di Kalimantan Selatan, khususnya di Desa Barrawa, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, yang mana atraksi kerbau menjadi tontonan besar di rawa-rawa,yaitu dengan menggelar lomba lari kerbau. Demikian juga di Madura, keberadaan kerbau atau sapi pun juga menjadi sebuah atraksi karapan sapi, tetapi lomba karapan sapi di lahan kering atau lapangan luas sementara lomba kerbau rawa di hamparan berair yang penuh dengan tanaman rawa. Berbeda dengan di Pulau Sumbawa, atraksi sapi atau kerbau sebagai tontonan masyarakat berlangsung pada musim tanam, yaitu dengan melakukan aktifitas penyeberangan sapi atau kerbau gili atau pulau kecil yang ada di seberang.

Khusus tentang tontonan atraksi sapi atau kerbau di pulau Sumbawa dikenal sebagai ‘Selempat kebo’ atau menyebrangkan kerbau ke seberang. ‘Selempat kebo’ adalah salah satu bentuk tradisi yang diwarisi oleh nenek moyang semenjak dulu. Tradisisi ini di laksanakan pada musim tanam oleh para pemilik kerbau dengan cara sejumlah kerbau atau sapi ditarik dengan menggunakan bot. Hal ini telah menjadi sebuah budaya tahunan masyarakat yang ada di Pulau Sumbawa, yaitu khususnya yang berada di kecamatan Empang dan Plampang. Budaya tahunan ini sangat unik dan menarik untuk ditonton oleh warga sekitar,bahkan dari luar daerah pun banyak yang menyempatkan diri untuk menyaksikan budaya tahunan ini di Pulau Sumbawa.

‘Selempat Kebo’ atau atraksi penyeberangan sapi atau kerbau ke gili seberang berlangsung pada musim penghujan datang, dan para petani mulai melakukan aktifitas menanam padi di sawah. Pada musim inilah para warga penduduk yang memiliki ternak berupa sapi atau kerbau akan menyeberangkan ternak-ternaknya ke sebuah pulau kecil atau gili. Kegiatan inipun selalu diselenggarakan pada tiap tahunya, yaitu pada awal musim tanam  dengan tujuan agar lahan yang sudah di tanami tidak di ganggu.

Pulau yang menjadi tempat penyeberangan ternak-ternak berupa sapi atau kerbau tersebut bernama Pulau Rakit. Pulau Rakit adalah sebuah gili atau pulau kecil  yang terletak di bagian barat pesisir desa Lab. Jambuh Kec.Tarano Sumbawa. Pulau ini pun memiliki pesona   keindahan alam bawah laut yang menarik sehingga pada saat berlangsungnya budaya tahunan ini, sebagian warga masyarakat pun kerap melakukan  kegiatan Fishing, Snorkeling dan Swimming.

Tontonan besar akan menjadi semarak ketika ternak-ternak ungsian tersebut berada di tengah laut, karena jumlah ternak tersebut lumayan banyak sehingga pandangan mata di atas laut seolah-olah menutupi permukaan laut. Para hewan ternak pun juga nampaknya aduh kecepatan sehingga gerakan air laut yang diakibatkan oleh aktifitas kerbau-kerbau tersebut turut menjadi bagian dari ketertarikan warga mayrakat yang ikut menonton di tepi laut.Selain itu, kita pun dapat memandang keseriusan dan gerak tangan pemilik sapi di latas laut dalam membimbing sapi atau kerbaunya menuju ke pulau rakit.

Selain penyeberangan kerbau atau sapi, beberapa keluarga juga terkadang mengirimkan ternak kudanya ke Pulau Rakit hingga musim tanam berakhir. Hal ini dimaksudkan agar supaya ternak-ternak tersebut tidak mengganggu tanaman petani. Namun bagi para warga penduduk yang tidak mengirim kerbaunya ke Pulau Rakit tersebut, berarti akan mendapat sangsi sesuai dengan aturan dari masyarakat sendiri.

Jarak tempuh penyebrangan kerbau ke gili rakit yaitu sekitar 1 jam perjalanan. Adapun tata cara pelaksanaan selempat kerbau yaitu kerbau di Tarik dengan menggunakan tali yang di ikat pada bot. Namun ketika kerbau masi berada pada parairan yang dangkal, para pemilik kerbau mendampingngi kerbaunya sambil melepaskan pukulan pada punggung kerbau agar kerbau tetap bisa berjalan. Sementara pada perairan airnya sudah dalam pemilik kerbau naik ke bot sambil mengontrol kerbau-kerbau yang ditarik oleh bot. [] - 05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru