Tradisi Lombok Yang Tunggu

Tradisi atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Tradisi-tradisi ini yang selalu ditunggu oleh masyarakat karena dilakukan satu kali dalam satu tahun.

Kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu daerah tingkat II dari provinsi Nusa Tenggara Barat. Kabupaten ini terdapat  kawasan wisata pantai yang sangat menarik dan sangat ramai untuk dikunjungi oleh para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kwasan tersebut adalah Pantai Seger Kuta. Terletak dibagian selatan pulau lombok, kira-kira 65 kilometer dari kota mataram. Keindahan pantai ini membuat para wisatawan menjadi kagum untuk melihat panorama alamnya. Airnya yang jernih dan tenang menjadikan pantai ini sangat ideal untuk dikunjungi.

Selain keindahan alamnya, pantai seger kuta ini juga memiliki daya tarik lain yang tidak kalah eksotis bagi para wisatawan. Setiap tahun sekali yaitu sekitar bulan februari atau bulan maret tempat ini diselenggarakan sebuah pesta atau upacara yang dikenal dengan BAU NYALE. Kata BAU berasal dari bahasa sasak yang artinya menangkap, sedangkan NYALE berarti sejenis cacing laut yang hidup di lubang-lubang batu karang dibawah permukaan laut.

Salah satu kebudayaan suku Sasak di Lombok adalah tradisi Bau Nyale. Ini merupakan salah satu tradisi sekaligus identitas suku Sasak. Oleh sebab itu, tradisi ini masih tetap dilakukan oleh suku Sasak sampai sekarang. Bau Nyale biasanya dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai di pulau Lombok selatan, khususnya di pantai selatan Lombok Timur seperti pantai Sungkin, pantai Kaliantan, dan Kecamatan Jerowaru.

Selain itu, juga dilakukan di Lombok Tengah seperti di pantai Seger, Kuta, dan pantai sekitarnya. Saat melakukan tradisi ini biasanya juga dilengkapi dengan berbagai hiburan pendamping.

Bau Nyale selalu dilakukan secara rutin setiap tahun. Tradisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak lama dan dilakukan secara turun temurun. Sayangnya, kapan kepastian waktu dimulainya tradisi ini masih belum diketahui. Berdasarkan isi babad, Bau Nyale mulai dikenal masyarakat dan diwariskan sejak sebelum abad 16. Bau Nyale berasal dari bahasa Sasak. Dalam bahasa Sasak, Bau artinya menangkap sedangkan Nyale adalah nama sejenis cacing laut. Jadi sesuai dengan namanya, tradisi ini kegiatan menangkap nyale yang ada di laut.

Cacing laut yang disebut dengan Nyale ini termasuk dalam filum Annelida. Nyale hidup di dalam lubang-lubang batu karang yang ada dibawah permukaan laut. Uniknya, cacing-cacing nyale tersebut hanya muncul ke permukaan laut hanya dua kali setahun.

Tradisi Bau Nyale merupakan sebuah kegiatan yang dihubung-hubungkan dengan kebudayaan setempat. Bau Nyale berawal dari legenda lokal yang melatarbelakangi yakni tentang kisah Putri Mandalika. Menurut kepercayaan masyarakat Lombok, nyale konon merupakan jelmaan Putri Mandalika. Putri Mandalika dikisahkan sebagai putri yang cantik dan baik budi pekerinya. Karena kecantikan dan kebaikannya, banyak raja dan pangeran yang jatuh cinta kepadanya dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri. Putri tersebut bingung dan tidak bisa menentukan pilihannya. Ia sangat bingung. Jika ia memilih salah satu dari mereka, ia takut akan terjadi peperangan. Putri yang baik ini tidak menginginkan peperangan karena ia tidak mau rakyat menjadi korban.

Maka dari itu masyarakat lombok sangat menantikan sebuah upacara ini, karena bukan tradisinya juga yang akan membuat tradisi ini lebih berwara akan tetapi kemeriahan Bau Nyale dan kelezatannya yang slau dinantikan.

Pernyataan orang Lombok Bagian Lombok tengah yaitu.”orang lombok yang tidak  pernah ikut upacara Bau Nyale berarti belom menjadi orang Lombok Kental, haaa”. Itu hanya sebuah lelucon yang di buat oleh sahabat Lombok. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru