"Begarap" Metode Bersih Komunitas dari Kejahatan

Masyarakat suku Sasak di Lombok, memiliki metode ‘bersih komunitas’ untuk melindungi barang dan harta benda dari kejahatan yaitu garap. “Bersih komunitas” yang lazim disebut garap, dilakukan saat terjadi peristiwa kejahatan dalam sebuah kampung. Jika terjadi peristiwa kriminal, kepala dusun, kepala kampung atau keliang, berinisiatip membersihkan komunitas kampungnya dari peristiwa kejahatan. Inisiatip ini, orang Sasak menyebutnya ‘penganjeng garap’.

Sederhananya, garap adalah menjaring penjahat/pelaku kriminal yang mungkin hidup bersama-sama mereka dalam satu kampung. Yang di-garap adalah, kesaksian seseorang dalam sebuah peristiwa kejahatan yang meliputi melihat, mendengar dan mengetahui sebuah peristiwa kejahatan. 

            Peristiwa kejahatan yang mengharuskan metode ini adalah, pencurian terhadap hewan ternak yang digembalakan (Sasak: arat) seperti kambing, sapi, kerbau dan kuda. Sedangkan ayam, tidak dilindungi oleh garap, karena ia bukan hewan yang digembalakan. Kejahatan lain adalah, perampokan dan pencurian motor atau istilah polisinya ranmor. Pencurian motor atau ranmor  ini, atau kejahatan lain merupakan bagian dari garap ini. Jadi, garap adalah, metode melindungi barang dan komunitas dari kejahatan yang tergolong kriminal berat.

            Garap ini sangat unik. Ia dikerjakan/didirikan pada hari Rabu, medianya yaitu air yang dicampur segenggam tanah. Tanah ini khusus diambil dari sebuah makam keramat di desa Rambitan Kecamatan Pujut-Lombok Tengah yang dikenal sebagai Makam Nyatok. Tanah diambil oleh seorang kyai (pemuka agama) dengan membawa wadah dari penginang kuning berisi kepeng bolong 33 biji, lekes 9, rokok 9, daun kelor, daun beringin, kain putih, kendi tanak (Sasak: ceret) berisi air serta payung. Waktu kyai sampai di Makam Nyatok untuk mengambil tanah, ia harus membaca Talqin untuk tanah tersebut layaknya pembacaan Talqin pada saat penguburan jenazah.

            Setelah Talqin selesai dibacakan, tanah diambil dan dibawa pulang ke rumah kyai untuk kembali didoakan. Tanah untuk keperluan garap ini, harus dipayungi dalam perjalanan pulang layaknya menaungi mayat ke kuburan sebagai penghormatan terhadap prosesi yang biasanya berakibat pada kematian bagi mereka yang telah melakukan kejahatan. Tanah dan perangkat pendukungnya disimpan di rumah kyai untuk menunggu hari Rabu berikutnya saat prosesi puncak garap dimulai. Kenapa harus didiamkan/disimpan dahulu selama seminggu?, Ini untuk memberi waktu bagi mereka yang merasa pernah mengetahui, melihat dan mendengar  peristiwa tersebut untuk memilih jujur atau berbohong. Jika ada pengakuan atas tiga hal itu, maka garap bisa dibatalkan. Namun jika ada yang melaporkan diri atas tiga hal itu, maka garap tetap dilanjutkan.

            Prosesi garap adalah mencampur tanah tersebut dengan air kendi yang telah disediakan. Kyai memimpin prosesi ini sampai menyatakan sumpah; barang siapa yang tidak jujur dalam peristiwa kejahatan yang akan kita garap ini, niscaya akan luruh seperti daun kelor. Kyai meminumnya terlebih dahulu agar tidak ada syak wasangka, apakah air tersebut air biasa atau air yang telah dicampur racun. Uniknya, air campuran tanah ini diminum dengan sendok yang dibuat dari daun pohon beringin (Sasak: setekot daun bunut). Metode minum air tanah ini bisa semua orang kampung atau hanya perwakilan masing-masing keluarga besar. Dalam mewakili, juga harus hati-hati, karena jika orang yang diwakili atau tanggung jawabkan terbukti tidak jujur, maka siap-siaplah dengan kondisi buruk semisal sakit keras atau meninggal.

            Mengapa medianya berupa tanah? Orang Sasak melihat bahwa, manusia bukan mahluk yang dapat serta merta dipercaya. Ada alibi yang bisa dibuat-buat dan barang bukti yang dapat disembunyikan. Serta lebih baik mengadili komunitas daripada memberikan mereka pada aparat keamanan. Ini bukan karena orang Sasak tidak taat hukum, tapi mereka lebih percaya bahwa, kejahatan adalah hal yang memalukan secara pribadi dan komunitas, sehingga metode pencegahannya harus dilakukan dengan mengajarkan kejujuran dan perbuatan baik pada keluarga dan komunitas.

Pada dasarnya, orang Sasak pada prosesi garap (penganjeng garap) tersebut, hanya ingin menguji kejujuran semua individu dalam kampung, apakah masih setia pada kampung halamannya ataukan lebih mementingkan golongan atau kepentingan pribadi.

            Jika tidak ada yang mengetahui, melihat dan mendengar sebuah peristiwa kejahatan, maka konsekwensi penganjeng garap adalah sehat walafiat. Namun jika sebaliknya, yang akan muncul adalah penyakit yang berakibat kematian turun temurun tujuh generasi bagi mereka yang terlibat sebagaimana sumpah kyai waktu memulai prosesi; bagi yang mengetahui, melihat dan mendengar, tapi tidak mau menunjukkan dirinya, maka akan luruh seperti daun kelor ini. Yang diminta adalah kejujuran, bukan kebohongan yang tidak pernah diajarkan oleh adat, norma dan moralitas.() -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru