Kondisi Kebudayaan Sasak Era Pariwisata di Lombok

 


TAK ada yang tahu persis, berapa banyak orang yang melakukan perjalanan wisata dengan tujuan fenomenal spiritualistik, kendati belakangan dikenal istilah wisata budaya. Kalau kita telusuri, mereka melakukan perjalanan wisata, sebenarnya tidak terlepas dari dorongan spiritualistik yang dapat menggugah suasana kejiwaan. Lalu, bagaimana kondisi kebudayaan Sasak dalam era pariwisata di daerah Seribu Masjid ini?

Kebudayaan pada dasarnya adalah, sesuatu yang tidak pernah jelas bingkai formatnya. Karena format tersebut terbentuk lewat proses dialektika antara berbagai penawaran dan tantangan, mengusahakan dan mencoba membentuk sosok format.

Sebagai contoh, kebudayaan Sasak dalam perjalanan sejarah juga mengalami transportasi, penyesuaian dan akomodasi. Setiap kelompok masyarakat, memiliki manipestasi rasa seninya masing-masing yang terwujud dalam bentuk seni tari, seni suara, seni lukis, seni drama dan lain-lain yang telah memperkaya daerah Seribu Masjid ini. Perkembangannya sangat pesat dalam memenuhi keperluan upacara-upacara adat dan hiburan. Namun akibat maju pesatnya tehnologi dan kesempatan ekonomi, masyarakat tidak lagi menganggap kesenian (gamelan) pada saat pesta resepsi perkawinan berlangsung, tapi cukup dengan memutar audio tape recorder saja.

Seni gamelan dan seni tari di Lombok pada beberapa dekade terdahulu, berangsur-angsur berkurang berbarengan dengan pesatnya perkembangan agama dan meningkatnya kesadaran beriman dari lapisan masyarakat. Dengan demikian, mereka menganggap bahwa, memainkan gamelan adalah suatu pekerjaan yang sia-sia dan melalaikan orang dari pekerjaan ibadah. Hal yang sama, juga seni “tembang” dikalangan suku Sasak, nampaknya semakin surut, karena generasi-generasi muda sebagai generasi penerusnya hampir tidak ada lagi berminat untuk mempelajarinya.

Realitas yang menonjol pula adalah, dengan adanya mobilitas masyarakat, maka terjadi interaksi antara kebudayaan masyarakat yang satu dengan kebudayaan masyarakat lainnya. Dalam interaki itu, terjadi proses saling belajar mengajar, saling membanding dan saling mengkritik.

Kebudayaan, dewasa ini diidentikkan dengan kebudayaan westernisasi, kebudayaan barat, karena kebudayaan baratlah yang telah memiliki kekuasaan dan keunggulan progresif dan mampu untuk mempengaruhi kebudayaan lain dengan amat dahsyat.

Dampak pariwisata terhadap kelestarian kebudayaan tertentu, banyak terungkap dari berbagai kalangan. Kebudayaan Sasak misalkan. Kondisinya saat ini dapat  dikatakan belum siap untuk menghadapi era perkembangan pariwisata. Hampir sebagian besar wisatawan yang datang ke Lombok menyatakan keluhannya, karena belum adanya pementasan kesenian secara kontinyu yang dapat mereka saksikan. Demikian pula keluhan-keluhan yang disampaikan oleh biro-biro perjalanan wisata yang mengatur paket-paket tour para wisatawan. Kesenjangan lebih dirasakan, karena Lombok begitu dekatnya dengan Bali, dimana atraksi-atraksi kesenian telah dikemas secara profesional dengan pementasan-pementasan yang sudah terjadwal rapi.

Kenyataan itu terjadi karena, belum adanya tempat-tempat pementasan yang memadai terutama yang berada di jalur-jalur wisata potensial seperti jalur antara Senggigi menuju Pantai Kuta (LIA) di Lombok Tengah sana. Kondisi ini saat ini, dirasa sudah terbengkalai. Padahal potensi kesenian yang dapat ditampilkan, hampir terdapat ditiap-tiap desa/kecamatan di Pulau Lombok merupakan hasil pembinaan yang telah dilakukan selama ini.

Beberapa hotel berbintang di Senggigi dan Kuta, telah mencoba untuk mementaskan kesenian Sasak secara berkala, namun masih dikeluhkan kualitasnya kurang memadai dari segi penampilannya. Dan bahkan biaya untuk pementasan masih dirasakan terlampau mahal. Jadi, bagi wisatawan yang tidak menginap di hotel tersebut, sulit rasanya untuk menyaksikan pentas budaya yang ditampilkan oleh hotel berbintang tersebut.

Dari kenyataan itu, dirasakan oleh wisatawan bahwa, kehidupan malam masih sangat tidak memadai, sebab sekembalinya mereka ke hotel setelah melakukan tour seharian, pada malam harinya tidak ada lagi sesuatu yang dapat mereka saksikan. Demikian pula dalam rangkaian toru mereka, tidak dijumapi titik-titik persinggahan sebagai tempat mereka menyaksikan atraksi-atraksi kesenian, sehingga jarak tempuh dari satu obyek ke obyek wisata yang lain terasa jauh.

Hasil seni yang sudah cukup berkembang dewasa ini, hanya kerajinan berupa cenderamata (gerabah) yang dapat memberikan kontribusi cukup besar bagi peningkatan pendapatan masyarakat pengrajin.

Jika mengkaitkan pariwisata dengan kebudayaan tertentu, perlu dibedakan adanya dua faktor yakni, faktor ekstrinsik dan intrinsik. Faktor ekstrinsik meliputi tingkah laku para wisatawan (wisman) seperti bertelanjang, kebebasan seksual, kebiasaan minum minuman keras beralkohol, sikap angkuh dan egois dan sejenisnya. Menurut mereka, semua itu dipandang lumrah. Sementara di mata kita, hal seperti itu tidak layak, bahkan tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

Faktor ekstrinsik, segala gagasan dan pola tingkah laku dalam menyambut wisatawan. Terlihat dalam faktor ini, olah budaya yang menjadi terpenggal, karena disesuaikan dengan ketersediaan waktu para wisatawan yang terbatas. Belum lagi dengan merubah budaya yang bersifat ritual untuk dipentaskan., sehingga terjadi kegiatan budaya komersial yang boleh dikatakan budaya peragaan.

Menghadapi faktor ekstrinsik di atas, maka kita yang memiliki daerah yang ingin mengandalkan pariwisata sebagai pemasok pendapatan, perlu segera ditetapkan ketentuan-ketentuan tentang apa yang  boleh dan tidak boleh dilakukan oleh wisatawan di daerah ini. Dengan menetapkan lokasi-lokasi yang terisolir di lingkungan masyarakat sekitar sebagai lokasi wisata dapat diperlonggar dari aturan-aturan yang mengikat.Untuk mewujudkan hal tersebut, di Lombok memiliki peluang kelonggaran yang cukup besar, kendati sangat kecil sekali kesenian-kesenian yang sifatnya magis religius.(Lalu Pangkat Ali) -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru