Mengenal Penghulu dan Sejarah Kaum Melayu Bima

Sepertinya tidak habis membahas keunikan dari budaya-budaya yang ada di Indonesia khususnya Nusa Tenggara Barat. Banyak hal yang bisa di pelajari dan menjadi bahan pelajaran untuk kita. Suku-suku adat yang saat ini masih lestari, haruslah menjadi bahan pelajaran untuk kita agar bisa belajar dari mereka.

Suku Melayu adalah satu dari sekian banyak suku yang masih ada di Indonesia ini. Mereka salah satu suku terbesar yang ada di Asia, tersebar di berbagai daerah, seperti halnya melayu di Bima memiliki kehidupan yang sangat mempertahankan budaya nenek moyang mereka.

Suku melayu Bima sudah ada sejak kesultanan Bima berdiri dari tahun 1640 Masehi, karena mereka juga sangat berperan penting saat masuknya Islam di tanah Bima. Juga berbagai macam budaya melayu sangat mempengaruhi tatanan budaya Bima, contohnya prosesi Hanta Ua Pua, Rimpu, tarian, kuliner juga Agama.  

Suku melayu di Bima diketuai oleh seorang Penghulu yang diangkat dari sesepuh komunitas mereka. Melayu Bima mendiami Kampung Melayu, yang awalnya tahun 1660-an mereka bermukim di Sori Kempa setelah eksodus dari Gowa karena ditaklukkan oleh VOC.

Penghulu dalam bahasa melayu kuno disebut Pa`hulu, dia berkedudukan sejajar dengan Sultan juga Datuk. Penghulu juga pemangku adat yang memegang segala tanggung jawab komunitas mereka di Bima. mereka bertugas mengajarkan ilmu agama pada masyarakat serta menjadi guru para Sultan. Pada jabatan kesultanan biasanya mereka menjabat sebagai Khatib Tunggal yang memegang bidang keagamaan. Khatib Tunggal adalah jabatan yang biasa dijabat oleh keturunan melayu.

Kedudukan kaum Melayu di Bima sangatlah istimewa, dahulu untuk menghormati para Penghulu pertama yaitu Datuk Di Tiro dan Datuk Di Banta penyebar agama Islam yang berasal dari tanah Sumatera, Sultan Abdul Kahir menghiadiahi mereka sebidang tanah yang luas, namun karena mereka tidak terlalu mahir dalam mengelola tanah akhirnya mereka mengembalikan sebidak tanah tersebut, dan tanah itu sekarang dikenal dengan nama “Tolobali” yang berarti sawah yang dikembalikan.

Setelah mereka mengembalikan tanah itu, akhirnya Sultan membebaskan segala pajak pada komunitas melayu Bima. yang terus dilakukan hingga Sultan terakhir. Penghulu adalah orang yang di yakini memiliki kelebihan yang berbeda di banding warga biasa. Mereka adalah tempat rujukan warganya.

Karena posisinya sebagai pemimpin, Penghulu sangat memiliki prioritas utama di tengah warganya. Kata-katanya sangat di dengar oleh seluruh anggota Komunitasnya. Sekarang Penghulu melayu di pegang oleh Haji Syamsudin, yang diangkat menjadi Penghulu Melayu ketua adat komunitas keturunan melayu pada tahun 2004 yang lalu, selama kegiatan adat seperti Sirih Puan atau Hanta Ua Pua beliaulah yang bertugas membawa Al-Qur`an di Istana Kesultanan.  [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru