Bingkai Kearifan Lokal Budaya Desa Sambori

Desa Sambori adalah sebuah desa yang terletak di atas dataran tinggi pegunungan Lambitu, Kecamatan lambitu, Kabupaten Bima. Sambori hanyalah sebuah desa yang sangat kecil dengan kehidupan yang masih cukup tradisional. Komunitas masyarakat Sambori Ese dan Awa rata-rata bekerja sebagai petani dengan populasi ± 1000 jiwa dan di kepalai oleh seorang kepala desa, mereka mulai bercocok tanam sejak zaman nenek moyang mereka, hingga banyak berbagai hasil bumi seperti kunyit, bawang putih dan lain sebagainya.

Jarak desa Sambori dari kota Bima hanya 40 menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor maupun mobil, tapi sekarang tidak lagi sulit bagi kendaraan untuk ke Sambori karena pemerintah daerah setempat telah mengaspal jalan.

Kebiasaan orang-orang tua atau muda di Sambori adalah makan daun sirih karena suhu dan udara sangat dingin, makan daun sirih dicampur dengan beberapa ramuan sehingga tubuh mereka bisa hangat.

Ada yang unik dan sangat spesial dari masyarakat Sambori yaitu mereka masih menggunakan bahasa lain dari bahasa Bima dan sekitarnya yaitu bahasa Inge Ndai, banyak orang memiliki asumsi dan persepsi bahwa bahasa asli Sambori adalah bahasa leluhur di tanah bima, yang hingga kini masih digunakan di tanah Inge Ndai (Lambitu).

kehidupan masyarakat desa Sambori sangat sederhana, bentuk dan tampilan rumah panggung mereka tampak biasa, Sambori bisa dibilang salah satu desa yang tidak begitu dekat dengan Teknologi dan perkakas untuk menunjang kehidupan sehari-hari, sampai mereka banyak yang masih menggunakan peralatan dan alat-alat yang masih tradisional untuk memasak yang terbuat dari tanah liat.

lebih menarik di Sambori saat hujan mereka tidak menggunakan payung pada umumnya, tetapi mereka menggunakan daun Pandan kering yang dibuat menjadi jas hujan, masyarakat setempat menyebutnya Lupe atau Waku.

Penduduk desa Sambori Banyak yang memeluk Islam, karena masyarakat disana percaya yaitu sejak kedatangan Islam pertama kali masuk di Kerajaan Bima melalui Sambori oleh ulama dari Ternate bernama Syekh Subuh, sejak ia tiba di Sambori kemudian dia menyiarkan ajaran Islam di Sambori, masyarakat percaya bahwa makam Syekh Subuh berada di puncak Gunung Sambori, atau biasa disebut makam keramat makam keramat.

Keterangan Foto : seorang ibu sedang membuat Lupe dari daun pandan () -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru