Upacara Tolak Bala Di Pulau Bungin

Pulau Bungin merupakan salah satu pulau kecil di Nusa Tenggara Barat yang mendapat julukan ”Pulau Terpadat Di Dunia”. Akan tetapi, terlepas dari kepadatan penduduknya yang tidak seimbang dengan luas wilayah, pulau ini memiliki pesona alam yang indah. Pulau kecil ini juga memiliki ragam budaya yang unik. Sebagian besar penduduknya berasal dari suku bajo-Sulawesi Selatan, dan bermata pencaharian umum sebagai nelayan. Dalam keseharian hidupnya, mereka juga sangat percaya pada hal-hal yang gaib atau dunia mistis. Hal ini dapat dilihat dari ritual-ritual keagamaan yang sering diadakan oleh masyarakat setempat. Mereka melakukan ritual-ritual tersebut dengan suatu tujuan tertentu, yaitu agar keseimbangan alam terjaga sehingga mereka selalu mendapatkan keselamatan dalam hidup. Salah satu bentuk ritual yang sering dilaksanakan di pulau ini adalah ‘Upacara Tolak Bala’.


Upacara Tolak Bala adalah salah satu bentuk ritual yang ada di Pulau Bungin, yang mana diperoleh dari warisan nenek moyangnya. Bentuk ritual ini masih tetap eksis, dan berlangsung secara transformasi, yaitu dari generasi tua ke generasi baru. Mereka pun menghayati dan menjalankannya dengan baik pada hari-hari tertentu.

Eksistensi ritual yang berkaitan dengan Tolak Bala sangat bertahan pada masyarakat Bungin. Bertahannya ritual tersebut karena masih kuatnya sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Bungin, khususnya yang terkait dengan keselamatan masyarakat.

Upacara Ritual Tolak Bala pada Masyarakat Bungin, yaitu berlangsung secara komunal dengan menggunakan tata cara setempat. Berbagai bentuk sesajian dalam Upacara Tolak Bala menjadi bagian atau komponen dari prosesi upacara tersebut.

Upacara Tolak Bala yang paling sederhana dan sering dilaksanakan oleh Masyarakat Bungin hingga saat ini adalah melakukan doa bersama setiap hari jumat, yaitu berlangsung di dalam rumah. Setelah melaksanakan doa bersama, tibalah waktunya tuan rumah menyajikan masakan berupa bubur beras dan berbagai makanan tradisional lainnya. Ritual ini biasanya dilakukan ketika ada salah satu anggota keluarga yang sedang berlayar mencari ikan dilaut dan belum kembali, maka anggota keluarga dirumah akan melakukan doa bersama dan memberikan sesajian berupa bubur beras kepada tetangga atau kerabatnya, yang mana hal ini sebagai simbol agar tetangga juga mendoakan sehingga anggota keluarga yang sedang berlayar di tengah laut dapat kembali di rumah dengan selamat dan membawa hasil tangkapan yang banyak.

Upacara kelanjutan setelah anggota keluarga kembali dengan selamat dari berlayar dan membawa hasil tangkapannya, yaitu Upacara Syukuran. Upacara ini merupakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena anggota keluarga yang pergi berlayar dapat kembali dengan selamat dan membawa hasil tangkapan.

Dalam prosesi Upaca Syukuran ini diawali dengan pembacaan doa bersama, pengajian, dan juga disertai dengan ritual persebahan berupa sesajian. Sesajian tersebut berisi bunga tiga macam dengan warna yang berbeda. Selain itu, sesajian ini juga berisi bubur putih, tumpeng ketan warna kuning dan akan dipersembahkan Sang Leluhur dengan menyertakan pembakaran kemenyan. Tujuan dari upacara ini adalah rasa sukur atau sebagai bentuk rasa berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan keselamatan dan rezeki.

Selain hal di atas, Pulau Bungin merupakan salah satu desa di kecamatan Alas. Kecamatan Alas terbagi ke dalam enam belas desa yang di antarannya adalah desa Pulau Bungin. Dilihat dari ketinggian, wilayah pulau Bungin berada pada ketinggian 1.5 meter dari atas permukaan laut, ini berarti sangat tergantung dari pasang-surutnya air laut. Suhu rata-rata dipulau Bungin berkisar antara 37oC. Orbitasi jarak dari pusat pemerintahan tingkat kecamatan sekitar 3 Km, jarak dari Ibu Kota Kabupaten sekitar 70 Km. Desa pulau Bungin memiliki luas 150 Hektar berstatus sebagai sebuah desa yang masuk wilayah kecamatan alas, kabupaten Sumbawa Propinsi Nusa Tenggara Barat. Aksesibilitas ke pulau Bungin masih berupa jalan berkapur. Jalan ini merupakan jalan utama dapat dilalui kendaraan bermotor roda dua maupun kendaraan bermotor roda empat.

Dilihat dari jumlah penduduknya, jumlah penduduk kelurahan/desa pulau Bungin sebesar  3.060 Jiwa. Sedangkan jumlah penduduk dewasa sebanyak  2.035 jiwa terdiri dari 1.501 jiwa pria dan 1.559 jiwa wanita, dengan kepala keluarga berjumlah: 847 kepala keluarga. Pekerjaan dan Mata pencaharian utama penduduk adalah Nelayan () -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru