Rimpu, Bukan Sekedar Budaya Bima-Dompu

Semua orang Bima dompu pasti tahu apa itu rimpu. Ya, memakai selembar sarung (biasanya tembe nggoli) untuk menutupi seluruh badan kecuali muka dan kedua telapak tangan. Namun sangat disayangkan, banyak (bahkan mungkin hampir semua) orang Bima-Dompu sama sekali tak memahami apa rimpu itu sebenarnya. Rimpu hanya dianggap budaya? Kalau hanya budaya, lalu apa yang melatar belakangi para pendahulu menciptakan pakaian rimpu? Kalau kita mengkaji sebab dikenakannya rimpu oleh wanita Mbojo, maka kita akan tahu apa itu rimpu yang sebenarnya.

Rimpu adalah bentuk rill ketaatan “dou Mbojo-Dompu” terhadap syariat Allah. Bukan sekedar budaya. Para tetua dahulu menyadari bahwa berhijab (menutupi aurat) adalah kewajiban bagi wanita. Sama seperti wajibnya shalat, puasa atau zakat. Lalu karena pada saat itu belum ada pabrik kerudung maka dipakailah “tembe nggoli” sebagai penutup tubuh dan menjelma menjadi rimpu yang dianggap sebagai budaya. Lihatlah firman Allah berikut:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,” (TQS. An-Nuur [24]: 31).

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ (TQS. Al-Ahzab [33]: 59).

Dan juga sabda Rasulullah Saw berikut:

‘Sesungguhnya anak perempuan apabila telah haidh  tidak dibenarkan terlihat darinya kecuali wajah dan tangannya sampai persendian (pergelangan tangan).(HR Abu Dawud).

Inilah pakaian menutup aurat bagi para Muslimah seperti hijab Syar’i yang saat ini dikenal ternyata sudah ada sejak zaman dahulu di Nusa Tenggara Barat, bahkan sudah menjadi tradisi dan budaya yang terus dilestarikan. Pakaian adat tersebut bernama Rimpu, dikenakan para Muslimah Bima dan Dompu ketika keluar rumah.

Ada 2 jenis Rimpu, yaitu Rimpu Mpida dan Rimpu Colo. Rimpu Mpida adalah Rimpu yang ada cadarnya, menutupi wajah, diperuntukan bagi yang belum menikah. Sedangkan Rimpu Colo adalah Rimpu yang tiada cadar (terbuka wajahnya), dikenakan oleh ibu-ibu atau mereka yang sudah menikah.

rimpu bukan sekedar budaya tapi kewajiban kepada Allah yang maha agung. Tapi sekarang kita malah menganggapnya sebagai budaya. Lihatlah akibatnya kita menganggap rimpu adalah budaya, kita mudah saja melupakannya. Karena budaya itu tidak wajib. Karena budaya itu bebas dipilih. Mau dipakai boleh, mau ditinggalkan juga boleh. Lihatlah sekarang kewajiban itu seenaknya kita tinggalkan. Saudari kita lebih memilih memakai g-string dan tank-top dari pada memenuhi perintah Allah yang memberinya kehidupan -sampai menjadi wanita cantik dan dikagumi banyak lelaki. Jangan heran kalau banyak laki-laki yang otaknya menjadi ngeres. Jangan salahkan jika terjadi pelecehan terhadap wanita (bukan berarti saya membenarkan pelecehan itu).

Wahai saudariku, apa yang menghalangimu untuk memenuhi perintah Tuhanmu, Allah. Kewajiban menutup aurat sama  dengan wajibnya shalat. Kalau kita khawatir karena meninggalkan shalat, kenapa kita enteng saja mengumbar aurat?  Apakah dibilang cantik dan sexi lebih baik dari ketakwaan? Apakah mengkuti mode lebih berharga dari perintah Allah. Apakah engkau tak takut dengan siksa dari Tuhanmu?

Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim].

Wa-Llahu a’lam bishshowwab, oleh Muhammad faisal (https://kambalidompumantoi.wordpress.com) -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru