Tradisi Oma Suku Mbojo

Oma dalam bahasa Bima berarti bercocok tanam di gunung, ini biasa dilakukan oleh para petani tradisional suku Mbojo yang masih memegang teguh kedekatan dengan alam sekitar. Kegiatan ini biasa dilakukan pada sekitar bulan Agustus sampai dengan bulan Mei dikala musim hujan. Awalnya para petani juga harus membersihkan lahan serta semak belukar untuk ditanami.

Kegiatan ini biasanya melibatkan pemilik lahan maupun orang-orang yang membantu membersihkan serta menanam nantinya, mereka disebut para Panati bahkan anak-anak pun turut serta bahu-membahu bekerja. Mereka biasa larut dalam sukacita dan kebersamaan sambil mendengarkan senandung permainan music tradisional untuk menghibur.

Pada umumnya setelah lahan dibersihkan dan orang-orang bersiap menanam, sebelum menanam terlebih dahulu dilakukan prosesi Do`a Dana yang dipimpin oleh Lebe (imam masjid) dimana prosesi ini bertujuan untuk meminta berkah dan kesuburan tanah pada Allah SWT.

Setelah prosesi Do`a Dana selesai lalu mereka berdiri berderetan dan bibit diletakkan pada saku depan baju mereka. Setelah itu mereka bergerak serentak bersama untuk menanam bibit padi, kadang juga jagung yang ditanam.

Aktivitas berladang ini merupakan warisan leluhur yang menjadi tradisi, diwariskan secara turun temurun oleh leluhur suku Mbojo dikala mereka belum mengenal cara bersawah. Kadang Oma juga disebut Kanggihi yang berarti mengolah lahan.

Mereka menggarap ladang 2 hingga 3 kali panen sampai musim hujan selesai. Langkah ini juga ditempuh sebagai sebuah upaya pemenuhan kebutuhan, namun juga bisa berdampak pada penggundulan hutan yang mengakibatkan banjir.

ada yang unik dan menarik ketika musim Oma tiba, dimana pada saat ibu-ibu (para panati) menanam akan diiringi oleh Musik Tradisional ala Suku Bima, yaitu Gambo atau Biola. ini bertujuan sekedar untuk menghilangkan rasa lelah sekaligus sebagai hiburan untuk ibu-ibu pekerja keras tersebut. () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru