Ritual Bejango Bliq

ABSTRAK

Oleh Nurmayunita

PENGARUH AGAMA DALAM RITUAL BUDAYA BEJANGO BELIQ (Studi Kasus di Desa Songak Kecamatan Sakra Pusat Kabupaten Lombok Timur) tahun 2015/2016, 63 halaman.

Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah bagian dari kebinekaan itu sebagai provinsi yang mempunyai beragam adat istiadat, terbukti dengan masih maraknya ritual-ritual adat yang marak dilaksanakan. Di Lombok Timur tepatnya di desa Songak Kecamatan Sakra salah satu bukti itu. Desa Songak sebagai salah satu desa yang dianggap oleh para tokoh kebudayaan menyebutnya sebagai “Desa tua” di Kabupaten Lombok Timur dan mempunyai budaya yang sangat kental dan secara turun temurun msih dilaksanakan. Ritual-ritual adat yang ditinggalkan nenek moyangnnya salah satunya adalah ritual bejango. Ritual bejango dilaksanakan rutin oleh masyarakat desa Songak setiap hari Senin dan Kamis dengan berbagai niatan-niatan atau nazar (membayar janji) yang pernah diucapkan baik disengaja maupun tidak dan ritual inilah yang kemudian di Songak karena mengingat bahwa banyak masyarakat desa Songak yang berada di luar dan menetap, dan ritual inilah yang kemudian dijadikan sebagai Bejango Beliq.

Tujuan yang hendak dicapai sebagai berikut : 1) Untuk mengetahui prosesi ritual adat Bejango Beliq di Desa Songak Kecamatan Sakra Lombok Timur. 2). Untuk mengetahui makna ritual Bejango Beliq pada masyarakarat Desa Songak Kecamatan Sakra Lombok Timur. 3). Untuk mengetahui pengaruh agama dalam ritual Bejango Beliq Desa Songak Kecamatan Sakra Lombok Timur. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Kualitatif, pendekatan penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian seacara sistematis dan akurat, menganai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.

Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa tradisi Ritual Bejango Beliq sangat dipengaruhi oleh agama, karena dalam pelaksanaan tradisi ini dimulai dari masjid dan diakhiri dimakam. Masjid adalah tempat suci untuk menyembah sang khaliq tentang bagaimana cara hidup sedangkan makam sebagai tempat peristirahatan terkhir bagi seluruh manusia. Kedua tradisi ini sangat kental dengan nilai-nilai keleluhuran agama mengajarkan kepercayaan tentang yang gaib seperti perintah agama dan mengajari tentang ketauhidan serta pengajaran islam melalui simbol yan disebut dengan sesangan dan sanganan. Pertama, prosesi ritual adat Bejango Beliq di Desa Songak dilaksanakan sekali dalam setahun untuk mengingat dan melepaskan rindu kepada leluhur mereka yang telah mengajarkan tentang berbagai keluhuran tentang hidup yang menyankut aqidah, budaya serta moral seperti bersyukur terhadap anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan serta saling tindih dalam bermasyarakat. Kedua, makna ritual Bejango Beliq pada masyarakarat Desa Songak terdapat tiga makna simbolis berupa sebagai wujud syukur kepada Sang Kholiq, memperat silturrohimya, wujud kecintaan terhadap leluhur, dan sebagai wahana melestarikan warisan leluhur. Ketiga, pengaruh agama dalam ritual Bejango Beliq Desa Songak sangat kuat, hal itu terlihat dari prosesnya yang memulainya dari Masjid dan terakhir dimakam ini merupakan simbol-simbol dalam prosesi ritual bejango beliq tersebut berupa ajaran ketauhidan.

Kata kunci : Agama, Ritual, Budaya Bejango Beliq

METODE PENELITIAN

  1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yakni, pendekatan penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian seacara sistematis dan akurat, menganai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu (Yatim Riyanto, 2007;107).

Selain itu, pendekatan ini adalah untuk memahami tingkah laku individu atau informasi yang menjadi sasaran penelitian secara detail baik dalam bentuk explicit knowledge maupun tacit knowledge sehingga penilitian kualitatif memungkinkan diperolehnya gambaran tingkah laku yang utuh dan mendalam (Yatim Riyanto, 2007; 11).

Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Basrowi dan Suwandi, 2008: 21) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati oleh peneliti. Nawawi (1983: 54) mengatakan bahwa penelitian deskriptif memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) memusatkan perhatian pada masalah yang ada pada saat penelitian dilakukan atau masalah yang bersifat aktual, (2) menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya dan diiringi interpretasi rasional.

Metode kualitatif dimana peneliti meneliti dalam kondisi obyek yang alamiah (Sugiyono 2006: 9). Penelitian ini dalam intinya memberikan gambaran mengenai situasi dan kejadian secara umum sebagai akumulasi data dasar dari penelitian. Peneliti akan mengkaji secara mendalam isu sentral dari struktur utama suatu objek kajian dan selalu bertanya "apa pengalaman utama yang akan dijelaskan informan tentang subjek kajian penelitian".

Peneliti memulai kajiannya dengan ide filosofikal yang menggambarkan tema utama. Translasi dilakukan dengan memasuki wawasan persepsi informan, melihat bagaimana mereka melalui suatu pengalaman, kehidupan dan memperlihatkan fenomena serta mencari makna dari pengalaman informan.

Jenis penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus adalah mengkaji secara rinci atas suatu latar, atau satu orang subyek atau suatu temapat penyimpangan dokumen, atau satu peristiwa tertentu ( Bogdan and Biklen, 1982). Penelitian studi kasus adalah penelitian yang bertujuan untuk mempelajari seacara intensif menegani unit sosial tertentu, yang meliputi individu, kelompok, lembaga dan masyarakat (Depdikbud dalam Yatim Riyanto, 2007;108).

Alasan peneliti menggunakan metode ini karena metode ini sangat berkaitan erat dengan fokus serta rumusan masalah dan tujuan penelitian yang akan diteliti. Penelitian ini dilakukan menurut Sarwono (2006) apabila peneliti ingin 1) memahami makna yang melandasi tingkah laku partisipan, 2) mendeskripsikan latar dan interaksi partisipan, 3) melakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi informasi baru, 4) memahami keadaan yang terbatas dan ingin mengetahui secara mendalam dan rinci, 5) mendeskripsikan fenomena untuk menciptakan teori baru.

  1. Lokasi dan Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan Desa Songak Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur sebagai lokasi penelitian, dengan pertimbangan bahwa tradisi Ritual Bejango Beliq dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis pada bulan Oktober. Teradisi ini masih dilaksakan seacara turun temurun oleh masyarakat desa Songak yang merupakan salah satu desa yang masih mempertahankan tradisi-tradisi nenek monyangnya sampai saat ini, ditengah arus globalisasi yang terus mengepung kehidupan suatu masyarakat, ternyata sampai saat ini masyarakat Songak masih bisa eksis (mempertahankan) tradisi atau acara keagamaan tanpa ada perubahan sedikitpun.

Sedangkan subyek penelitian dalam hal ini adalah Lembaga Adat Darmajagat (LAD) Desa Songak sebagai lembaga yang konsennya pada ritus-ritus budaya yang ada di Desa Songak, Tokoh Agama, Pemerintah Desa Songak (Kepala Desa Songak) dan Masyarakat Desa Songak sebagai pelaksana ritual tradisi Bejango Beliq.

  1. Jenis dan Sumber Data

Yang dimaksud dengan sumber data adalah subjek dari mana data itu diperoleh (Arikunto, 2006:129). Maka dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua macam data :

  1. Data Primer

Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data atau informasi kepada pengumpulan data.

  1. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data atau informasi kepada pengumpulan data, (Sugiono, 2009:225). Dengan kata lain, sumber primer merupakan kesaksian dari seseorang atau pelaku, dengan mata kepalanya sendiri pada suatu pristiwa atau fenomena yang dilaksanakan. Sedangkan data sekunder adalah kesaksian dari siapapun yang bukan merupakan saksi pandangan mata, yakni dari seseorang yang tidak hadir pada suatu pristiwa yang dikisahkan.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Dalam suatu penelitian selalu terjadi proses pengumpulan data tersebut akan menggunakan satu atau beberapa metode, jenis metode yang dipilihkan  dalam pengumpulan data tentunya harus sesuai dengan sifat dan karakteristik penelitian. Adapun teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah teknik purposive merupakan pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan subjektif peneliti, dimana persyaratan yang dibuat sebagai kriteria yang harus dipenuhi sebagai sampel, jadi dasar pertimbangannya ditentukan sendiri oleh peneliti. Oleh sebab itu, dalam penelitian menggunakan beberapa metode pengumpulan data yang diantaranya observasi (pengamatan) interviw (wawancara) dan dokumentasi (Sugiono, 2006:309).

  1. Observasi

Observasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk memahami suatu gejala yang lebih menadalam (Yatim Riyanto, 2007;18), sedangkan menurut Arikunto (2004) Observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan, mengamati dan mencatat secara sistimatis gejala-gejala yang diteliti (Arikunto, 2002:2004).

Data yang akan dikumpulkan dengan metode observasi adalah tentang makna ritual Bejango Beliq bagi masyarakat Desa Songak, prosesi ritual Bejango Beliq, siapa yang melakukan ritual Bejango Beliq, dan pengaruh nilai agama pada ritual Bejango Beliq.

Dalam hal ini peneliti menggunakan observasi partisipan, menurut  Yatim Rianto (2007;126) observasi partisipan adalah peroses pengamatan dengan berperan lansung terlibat dalam informan dikancah. Dalam hal ini peneliti mengadakan pengamatan langsung ditempat penelitian berdasarkan dari pedoman judul yang telah disediakan dan didukung oleh buku-buku yang menjadi literatur (refrensi) yang terkait dengan penelitian guna mendapat gambaran yang jelas dan nyata tentang Pengaruh Nilai Agama dalam ritual Bejango Beliq di Desa Songak.

  1. Wawancara

Wawancara diartikan sebagai suatu tanya jawab dimana dua atau lebih orang berhadapan secara fisik dan dapat mendengar secara langsung (Hadi, 1993: 123). Wawancara ini dilakukan dengan berpedoman pada pedoman wawancara yang disiapkan sebelumnya sehingga proses wawancara diharapkan lebih terarah dan memperoleh keterangan tentang ritual Bejango Beliq. Wawancara ini ditujukan kepada tokoh adat Desa Songak, tokoh agama Desa Songak, pemerintah dalam hal ini kepala Desa Songak, dan masyarakat Desa Songak.

 Jenis wawancara yang dipilih dalam penelitian ini adalah wawancara tak berstruktur Menurut Yatim Rianto (2007;27) Wawancara tak berstruktur adalah dalam wawancara ini peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara lebih bebas dan leluasa tidak terikat dan terkungkung oleh pertanyaan-pertanyaan yang kaku yang disusun sebelumnya oleh peneliti.

Dengan wawancara ini data yang akan peneliti kumpulkan mencakup tentang makna ritual Bejango Beliq bagi masyarakat Desa Songak, prosesi pelaksanaan, dan pengaruh agama pada ritual Bejango Beliq.

  1. Dokumentasi

Sumber dokumen yang dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah berupa sumber-sumber dari buku-buku sumber yang relefan dengan penelitian berupa teori kependidikan Sosiologi, buku adat budaya, nilai sosial, nilai agama dan lain-lain. Sumber-sumber  tersebut   diatas sangat penting dalam penelitian, karena sebagai dasar penyusunan kajian pustaka dalam penelitian ini. Disamping itu, pencatatan dokumen juga dilakukan terhadap catatan yang ada pada informasi yang terpilih seperti dokumen yang ada pada masyarakat Sasak. Jadi data yang dapat memberikan penjelasan tentang suatu masalah dari sumber  tertulis, yaitu Kepala Desa, Tokoh Adat, Tokoh Agama di Desa Songak.

Dari pengumpulan data di atas merupakan suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan cara menyusun secara sistimatis sehingga diperoleh suatu kesimpulan umum. Adapun metode yang dipakai  dalam menyusun secara sistimatis itu adalah induksi terlebih dahulu dikemukakan fakta-fakta yang berlaku khusus dan atas dasar ini ditarik kesimpulan sedangkan dengan metode argumentasi, maka pada setiap menarik suatu kesimpulan diberi komentar-komentar atau alasan-alasan, kesimpulan umum adalah kesimpulan yang bersifat menyeluruh mengenai pokoknya permasalahan yang dibahas dari awal sampai akhir.

  1. Pengecekan Keabsahan Data

Untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan data yang telah terkumpul, perlu diadakan pengecekan keabsahan data. Pencegahan dan keabsahan data didasarkan pada kriterial derajat kepercayaan (efebelity) dengan teknik trigulasi, ketentuan pengamatan, pengecekan teman sejawat (Moleong 2004). Keabsahan data bertujuan untuk membuktikan bahwa apa yang akan diamati oleh peneliti sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan (lokasi penelitian).

Pengecekan keabsahan data dalam penelitian merupakan hal penting dalam upaya memenuhi kesahehan data penelitian. Kriteria Keabsahan atau kesahehan data dalam penelitian kualitatif meliputi; credibility, dependability, confirniadibility, dan transferability, (Riyanto: 2003:255).

1).   Kredibilitas (credibility)

Kredibilitas data dan informasi yang dikumpulkan harus mengandung nilai kebenaran, yang berarti bahwa hasil penelitian kualitatif harus dapat dipercaya oleh para pembaca yang kritis dan dapat diterima oleh orang-orang (responden) yang memberikan informasi yang dikumpulkan selama informasi berlangsung (Riyanto: 2003:257). Untuk memperoleh data yang memiliki tingkat kredibel yang tinggi, diperlukan teknik pengecekan data, yaitu; (a) triangulasi (triangulation), digunakan untuk menjamin diperolehnya standar kepercayaan. Cara yang di tempuh melalui pengecekan data; cek, cek ulang, dan cek silang.

Mengecek dapat dilakukan melalui wawancara kepada dua orang atau lebih informan dengan pertanyaan yang sama atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama kepada informan yang sama dalam waktu berlainan, atau bisa juga menggali keterangan dari sumber lain. (b) Diskusi teman sejawat (peer debriefing) yaitu mendiskusikan data dan informasi bersama teman­teman dekat sehingga memperoleh masukan yang dibutuhkan dalam proses penelitian. Dan (c) pengecekan oleh subyek (member check) yaitu membahas temuan-temuan bersama informan untuk mendapatkan tanggapan atau menambah informasi lain yang diperlukan dalam penelitian untuk kemudian dijadikan landasan revisi terhadap catatan lapangan.

2).   Dependabilitas (Dependability)

Dependabilitas adalah kriteria untuk meneliti kualitasproses penelitian apakah bermutu atau tidak. Cara untuk menetapkan bahwa penelitian dapat dipertahankan ialah dengan audit dependabilitas oleh auditor independent guna mengkaji kegiatan yang dilakukan peneliti. Untuk mengecek apakah hasil peneliti kualitatif bermutu atau tidak.Peneliti berupaya berhati-hati untuk tidak berbuat kesalahan dalam hal :(a) mengkonsepsualisasikan rencana penelitian, (b) mengumpulkan data. (c) menginterprestasikan data atau informasi yang telah dikumpulkan dalam satu laporan penelitian yang ditulis (Riyanto:2003). Bahan-bahan yang diaudit antara lain berupa catatan data atau informasi dari lapangan arsip-arsip serta laporan penelitian yang telah dibuat peneliti.

Kegiatan untuk mengukur dependabilitas hasil penelitian ini dilakukan dengan diskusi bersama teman kuliah, dosen dan pembimbing penelitian. Informasi dan masukan dari Pembimbing selanjutnya dijadikan bahan penyempurnaan hasil penelitian.

3).   Konfirmabilitas (Comfirmability)

Konfirmabilitas adalah kriteria untuk menilai kualitas hasil penelitian dengan perekaman pada pelacakan data dan informasi serta interpretasi yang didukung oleh materi yang ada pada penelusuran atau pelacakan audit (audit trail). Untuk memenuhi penelusuran atau pelacakan audit ini, peneliti akan menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti data bahan mentah (catatan lapangan dan transkrip wawancara), hasil rekaman (dokumen dan foto), hasil analisis data (rangkuman, hipotesis kerja, konsep-konsep) dan catatan tentang proses penyelenggaraan metodologi di lapangan menyangkut bejango beliq di desa Songak.

4).   Transferabilitas (transferability)

Bahwa hasil penelitian yang dilakukan dalam konteks tertentu dapat diaplikasikan atau ditransfer kepada konteks atau setting lain (Riyanto:2003). Untuk memenuhi kriteria ini dilakukan dengan cara memperkaya deskripsi tentang konteks yang menjadi fokus penelitian yakni bejango beliq di desa Songak.

  1. Analisis dan Penafsiran Data

Data yang terkumpul selama peneliti melaksanakan penelitian perlu dianalisa dan diinterpretasikan, sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang objektif dan suatu perolehan suatu kesimpulan yang objektif dari suatu penelitian. Bila data dan informasi yang diperoleh untuk sudah dianalisa diinterpretasikan, maka penliti akan mampu melihat  pengaruh nilai agama dalam ritual Bejango Beliq di Desa Songak Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur.

Mengingat ketentuan ini dengan mengumpulkan data-data kualitatif, maka penelitian menggunakan teknik analisa deskriptif  kualitatif atas data yang terkumpul, hasil analisa data ini  diharapkan dapat merumuskan kesimpulan tentang pengaruh nilai agama dalam ritual Bejango Beliq di Desa Songak Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur.

Menurut  Moleong (2006:13) analisis data adalah proses yang merincih usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan ide seperti yang didasarkan oleh data sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema atau ide itu. Dengan demikian data yang terkumpul tersebut dibahaskan, ditafsirkan dan dikumpulkan secara deduktif sehingga dapat diberikan gambaran yang tepat mengenai hal-hal yang sebenarnya terjadi. Mengingat kenyataan ini hanya menampilkan data kualitatif, maka penelitian menggunakan analisis data dan filosofis religius atau logika yang senantiasa berdasarkan nilai-nilai moral. Dengan demikian maka analisis data yang digunakan adalah analisis induktif.

Metode induktif yaitu cara berpikir berdasarkan fakta khusus, kemudian diarahkan kepada penarikan kesimpulan yang umum. Jadi cara berpkir ini dimulai dari hal-hal konkrit yang khusus dan berakhir  pada kesimpulan yang umum. Data yang terkumpul selama peneliti melakukan penelitian perlu dianalisis dan diinterprestasikan dan diteliti sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang objektif dari suatu penelitian. Bila data dan informasi sudah siap dianalisa dan diinterpretasikan maka akan diketahui mengenai pengaruh nilai agama dalam tradisi bejango beliq Desa Songak.

Dengan demikian analisis induktif adalah cara berpikir dengan mengambil kesimpulan dari data yang bersifat khusus kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum. Penelitian menggunakan metode ini untuk mengumpulkan hasil wawancara, dokumentasi dan observasi. Metode induktif ini adalah untuk meneliti fakta-fakta empiris yang ditemukan dan dicocokan dengan kajian pustaka yang ada. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa metode yang digunakan dalam menganalisa data dalam penelitian ini adalah teknik analisis induktif.   

BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

 

  1. Kondisi Geografis dan Batas Wilayah Masyarakat  Desa Songak

Desa Songak merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur. Luas wilayah desa Songak yaitu 153.256.103 ha, dengan bentuk topografi daratan rendah. Curah hujan rata-rata 1.000/1.500/tahun, suhu udara 33°C, dan ketinggian tempat dari permukaan air laut 350 meter. Adapun batas-batas wilayah desa Songak secara administratif sebagai berikut:

  • Sebelah Utara             : Desa Jantuk dan Desa Dasan Lekong
  • Sebelah Selatan           : Desa Rumbuk Timur
  • Sebelah Timur             : Kelurahan Denggen
  • Sebelah Barat             : Desa Keselet

Sedangkan keadaan iklim di desa Songak tidak jauh berbeda dengan desa-desa disekitarnya. Daerahnya beriklim tropis dan mengenal dua musim yaitu musim penghujan dan musim panas. Suhu rata-rata hariannya 33°C dengan curah hujan 1.000-1.500 mm/th. Desa Songak terletak pada ketinggian 350 meter dari permukaan air laut. Luas wilayah Desa Songak yaitu 153.256.103 hektare atau merupakan tanah daratan rendah dan tidak terdapat perbukitan atau pegunungan, sehingga lahan ada di desa Songat lebih banyak terdapat sebagai wilayah persawan jika dibandingkan luas wilayah pemukiman.

Kondisi menunjukkan penduduk desa Songak masih termasuk dalam jumlah yang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan jumah penduduk di desa lain di Lombok Timur mengingat desa yang ada di Lombok Timur saat ini setelah terjadi pemekaran, tidak ada yang terlalu banyak penduduknya. Apa lagi jika dibandingkan dengan luas wilayah atau geografisnya. Untuk lebih rincinya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

 Tabel 4.1

 Jumlah Penduduk Desa Songak Menurut Usia

Tahun

0 -2

3- 4

5- 6

7- 12

13 - 15

16- 18

 19-24

25-40

40-56

57>

439

208

164

236

379

341

465

747

686

674

Jumlah Keseluruhan : 4339

      Sumber: profil desa Songak bulan Februari tahun 2016

  1. Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Songak

Pendidikan merupakan hal yang penting dan mendasar dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Selain itu, pendidikan juga sangat penting bagi masyarakat dalam rangka menghadapi semua tantangan dan dinamika kehidupan. Tanpa pendidikan masyarakat tentunya tidak akan mampu beradaptasi dengan orang lain sebagaimana tantangan dan perkembangan zaman sekarang ini. Pendidikan juga sangat besar peranannya dalam proses penerapan teknologi dan merupakan faktor yang menentukan tenaga kerja dalam mencari pekerjaan.

Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka pengetahuan juga akan luas dan juga pola pikir akan semakin rasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tingkat pendidikan masyarakat desa Songak bisa dikatakan relatif maju, karena rata-rata pendidikan masyarakat desa Songak telah mengenyam pendidikan mulai dari dari tingkat sekolah dasar (SD), sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), bahkan ada yang sudah tamat D1/D2/D3 dan tamat S1. Untuk lebih jelasnya, peneiti secara rinci memaparkan tentang tingkat pendidikan masyarakat desa Songak dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2

Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Songak

  •  

Tingkat Pendidikan

  •  
  1.  

Pra Sekolah

  1.  
  1.  
  •  
  1.  
  1.  
  •  
  1.  
  1.  
  •  
  1.  
  1.  
  •  
  1.  
  1.  

Diploma 3

  1.  
  1.  

Sarjana Strata 1

  1.  
  1.  

Sarjana Strata 2

  1.  
  1.  

Sarjana Strata 3

  •  
  1.  

Jumlah Total

  1.  

Sumber: Profil Desa  Songak, 2016

 

Dari table di atas terlihat bahwa masyarakat Desa Songak yang sudah tamat sekolah sebanyak 2440 ini dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan tergolong maju kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada. Minat belajar masyarakat desa Songak juga tergolong tinggi dilihat dari masih banyak yang lagi menempuh pendidikan SMP/MTs sebanyak 85 orang, SMA/SMK/MA sebanyak 76 orang tersebar di Lombok timur dan mataram, yang sedang menempuh S1 sebanyak 20 orang dan S2 sebanyak 5 orang. Ini berarti tingkat pendidikan di Desa Songak tergolong cukup tinggi. Berikut data tentang masyarakat Desa Songak yang masih menyelesaikan pendidikan. Sedangkan kondisi demografi atau penduduk Desa Songak berdasarkan hasil pendataan sampai akhir bulan Februari Tahun 2016 berjumlah 4.387 jiwa yang dirinci menurut jenis kelamin yaitu laki-laki 1906 jiwa dan perempuan 2481 jiwa. Sedangkan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 1677.

Tabel 4.3

  • endudukan Desa Songak

No

Tingkat Pendidikan

Jumlah

Laki-Laki

Jumlah Perempuan

1.

Usia 3-6 tahun yang belum masuk TK

115

62

2.

Usia 3-6 tahun yang sedang TK/play group

48

73

3.

Usia 7-18 tahun yang tidak pernah sekolah

42

56

4.

Usia 7-18 tahun yang sedang sekolah

195

119

5.

Usia 18-56 tahun yang tidak pernah sekolah

193

226

6.

Usia 18-56 tahun pernah SD tetapi tidak tamat SD/sederajat

160

158

7.

Jumlah usia 12-56 tahun tidak tamat SLTP

475

531

8.

Jumlah usia 12-56 tahun tidak tamat SLTA

129

209

9.

Tamat SMP/sederajat

328

282

10.

Tamat SMA/sederajat

182

306

11.

Tamat D-1/sederajat

3

153

12.

Tamat D-2/sederajat

1

4

13.

Tamat D-3/sederajat

3

2

14.

Tamat S-1/sederajat

33

24

Jumlah

1907

2205

Sumber : profile Desa Songak tahun 2016

Pada table  4.3 di atas terlihat bahwa tingkat pendidikan masyarakat Desa Songak yang tamat SMP sebanyak 610 orang yang dirincikan berdasarkan laki-laki yaitu 328 orang dan perempuan 282 orang, yang tamat SMA secara keseluruhan baik itu laki-laki maupun perempuan berjumlah 488 orang, sedangkan masyarakat Songak yang tamat D1/D2/D3 berjumlah 166 orang dan yang tamat S1 sebanyak 57 orang.

  1. Mata Pencaharian Masyarakat Desa Songak

Manusia sebagai pelaku ekonomi artinya bahwa usia manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kehidupan dan ekonomi merupakan dua hal yang sangat sulit dipisahkan, karena sudah menjadi fitrah hidup manusia untuk mencari dan membutuhkan sesuatu dan manusia dibedakan kewenangan untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup baik lahir maupun batin.

Sebagian besar masyarakat desa Songak bermata pencarian sebagai petani. Mata pencarian lainnya masyarakat desa Songak yaitu petani, buruh tani, buruh migran, pegawai negeri sipil, pengrajin, pedagang keliling, peternak, montir, bidan swasta, TNI/POLRI, pengusaha kecil dan menengah, karyawan perusahaan swasta dan karyawan perusahaan pemerintah. Jenis pekerjaan atau mata pencarian masyarakat Desa Songak dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4.4

Mata Pencaharian Masyarakat Desa Songak

No

Jenis Pekerjaan

Pria

Wanita

Jumlah

1.

Petani

209

80

289

2.

Buruh

154

135

289

3.

Buruh perempuan migrant

-

7

 

4.

Buruh migran laki-laki

236

-

 

5.

Pegawai negeri sipil

37

13

50

6.

Pengrajin industri rumah tangga

5

28

32

7.

Pedagang keliling

21

27

48

8.

Peternak

717

2

719

9.

Montir

12

-

12

10.

Bidan swasta

-

4

4

11.

TNI/POl/ABRI

19

-

19

13.

Pensiunan PNS/TNI/POLRI

3

-

 

14.

Pengusaha kecil dan menengah

95

204

299

15.

Karyawan perusahaan swasta

3

-

3

16.

Karyawan prusahaan pemerintah

2

1

3

Jumlah

1513

501

2014

      Sumber: Profil Desa  Songak, 2016

Dilihat dari tabel tersebut menunjukkan bahwa profesi masyarakat desa Songak menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Songak memiliki pekerjaan yang cukup membuat ekonomi mereka. Ini berarti tingkat ekonomi masyarakat juga bisa disebut relative maju bahkan saat ini perekonomian mereka terus meningkat. Perdagangan yang mereka geluti memberikan efek yang sangat signifikan terhadap kehidupan mereka.

  1. Pemerintahan dan Lembaga Desa Songak

Pembangunan kesejahteraan sosial, meningkatkan kepekaan dan partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan dalam rangka penanganan dan penanggulangan masalah sosial para masyarakat dalam hal ini sangat menentukan pembangunan sosial budaya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial serta menegakkan supermasi hukum.

Pemerintah desa dalam menunjang pembangunan sosial budaya terlibat secara langsung dengan memberikan materi berupa pengayaan dan pembimbingan kepada masyarakat terhadap keberadaan sosial budaya di desa Songak, dan juga menyiapkan wadah yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk ikut serta secara aktif dalam pemberdayaan dan pembangunan sosial budaya. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya wadah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang disediakan oleh pemerintah desa seperti:

  1. Lembaga Adat Darmajagat Desa Songak sebagai wadah masyarakat songak dalam mempertahankan budaya lokal dan melaksanakan program-program yang terkait dengan kebudayaan.
  2. LKMD, BAZDes dan BPD yang merupakan wadah yang dapat digunakan oleh masyarakat dalam menyalurkan aspirasi dalam pembangunan desa juga merupakan salah satu wadah yang dapat digunakan sebagai kontrol pemerintah desa dalam melaksanakan kebijakan, serta sebagai badan yang dapat dimanfaatkan oleh kepala desa untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan desa.
  3. PKK sebagai wadah para ibu dan remaja putri untuk menimba ilmu dan keterampilan yang berkaitan dengan pendidikan kesejahteraan keluarga.
  4. Karang taruna merupakan wadah bagi para pemuda untuk menyalurkan bakat dan minat yang mereka miliki sehingga jika disalurkan pada tempat dan cara yang tidak baik dan benar akan menimbulkan hal-hal yang negatif dikalangan pemuda dan remaja kegiatan karang taruna pada umumnya seperti kegiatan olah raga, seni budaya, pelatihan-pelatihan yang berguna bagi kehidupan individu dan masyarakat.
  5. Kelompok tani merupakan wadah yang dapat dimanfaatkan oleh para petani untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman dalam pertanian dan sebagai wadah yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah dan juga sebagai media untuk bertukar informasi antara sesama petani, baik dengan petani satu daerah, satu provinsi bisa sampai level Nasional dan Regional.
  6. Posyandu merupakan wadah yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam bidang kesehatan, dan sebagai sarana dalam membina para ibu hamil dan anak-anak balita. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.5

Lembaga Kemasyarakatan di Desa Songak

No

Lembaga kemasyarakatan

Jumlah

Jumlah Keseluruhan Anggota/Orang

1

BPD

1

6

2

LKMD

1

6

3

PKK

1

15

4

Karang Taruna

1

27

5

Kelompok Tani

1

6

6

BUMDes

1

12

7

Organisasi Keagamaan

1

4

8

Organisasi Pemuda

4

-

9

Panti Asuhan Anak Yatim

2

6

10

Lembaga Pendidikan

2

3

11

Lemabaga adat Darmajagat Desa Songak

1

10

Sumber: Profil Desa  Songak, 2016

Dari tabel di atas dapat dikatakan bahwa masyarakat Desa Songak mempunyai berbagai lembaga kemasyarakatan dan keberadaannya masih ada serta aktivitasnya masih berjalan. Seperti lembaga Adat Darmajagat Desa Songak yang mempunyai peranan penting dalam menata dan mempertahankan seluruh adat desa Songak, Ritula-ritual adat, serta benda-benda peninggalan yang ada di desa Songak. Melihat semua ini kepala Desa Songak mempunyai peran yang sangat penting dalam segala lembaga kemasyarakatan yang ada di dalam desa yaitu sebagai pembina, pemimpin dan sebagai fasilitator dalam semua kegiatan kelembagaan ini misalnya, LKMD. LKMD merupakan wadah yang dibentuk atas prakarsa masyarakat sebagai mitra pemerintah desa dan pemerintah kelurahan dalam menampung dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat di bidang pembangunan. Adapun fungsi dari LKMD ini adalah penanaman dan pemupukan rasa persatuan dan kesatuan masyarakat.

  1. Agama yang Dianut  Masyarakat Desa Songak

Setiap individu pasti mempunyai keyakinan masing-masing, bukan hanya sekedar individu kelompok pun pasti mempunyai keyakinan sebagai pemersatu dalam setiap gerak dan kebudayaan yang akan dihasilkan. Di desa Songak yang mayoritas masyarakat Sasak pun menganut sebuah keyakinan beragama masyarakat Desa Songak dalam beragama menganut agama Islam sebagai keyakinannya ditandai dengan masjid dan tradisi-tradisi yang ada tidak terlepas dari pengaruh agamanya baik laki-laki maupun perempuan bahkan untuk mengikat ikatan suci melalui prosesi bahkan sampai pada prosesi perceraian semuanya menggunakan tradisi-tradisi agama Islam yang telah diajarkan oleh pendahulu.

Dengan demikian, jelaslah dalam kesehariannya segala berbentuk tradisi agama Islam akan membentuk karakter masyarakatnya dan cara berkomunikasi antar individu maupun antar kelompok yang ada. Bahkan setiap pelaksanaan tradisinya akan dipengaruhi oleh nilai agama Islam.

  1. Sistem Kekerabatan Masyarakat Desa Songak

 Sistem kekerabatan masyarakat Desa Songak sama seperti masyarakat Desa lainnya dimana dalam kehidupan kesehariannya masyarakat yang satu dan lainnya saling berintraksi tanpa ada batasan. Hubungan sosial yang terjalin masih sangat sederhana hal itu sangat terlihat jelas dari semangatnya masyarakat Desa Songak yang selalu mengadakan ritual bejango beliq setiap tahun, untuk masyarakat yang sedang  berada  diluar  biasanya  pulang untuk mengikuti proses ritual bejango beliq  dan bukan hanya masyarakat Desa Songak saja melainkan masyarakat luar seperti Keruak, Jerowaru dan sebagainya.

  1. Sejarah Bejango Beliq Desa Songak

Pelaksanaan prosesi ritual Bejango Beliq di desa Songak berdasarkan pada sejarah pesan nenek moyang orang yang paling tua di desa itu. Menurut Ketua Lembaga Adat Darmajagat Desa Songak, Murdiyah menyebutkan,  ritual Bejango Beliq dilaksanakan atas dasar pesan nenek moyang desa ini. Diceritakan, dulu sebelum nenek moyang moksa (menghilang), sempat berpesan kepada ke sembilan anaknya dia mengatakan kalau anak-anakku atau cucu-cucuku kelak rindu, menemukan permasalahan yang berat, atau penyakit yang tidak bisa sembuh-sembuh, maka datanglah kesini untuk bejango, dengan membawa Sesangan dan Sanganan dengan melalui masjid baru kesini (tempat moksanya sekarang yang dikenal dengan makam keramat Desa Songak) berzikir dan berdo’alah disana dengan memuja Alloh dan bershalawat atas Nabi Muhammad SAW.

  • Buatlah Sesangan dan Sanganan itu menjadi dua yang pertama bawa ke masjid dan yang kedua bawa ke sini (tempat moksa atau makam Keramat). Dan disini juga berzikir dan berdo’alah kepada Alloh atas hajatan atau nazar yang kamu niatkan dengan memanjatkan do’a (ada do’a khusus untuk melaksanakan ritual bejango maupun bejango beliq dan tidak bisa di Share),” (wawancara dengan Murdiyah S.Ag, Selasa 21/03/2016).

 

Menurut Murdiyah sejarah tentang bejango ini sangatlah panjang namun secara singkatnya bahwa sejarah mulainya bejango dari pesan nenek moyang yang sampai sekarang masih dilaksanakan dengan tujuan melestarikan adat atau tradisi sebagai salah satu asset masyarakat dan desa termasuk daerah Gumi Selaparang yang memiliki aneka adat dan tradisi dimana saat ini tradisi itu sudah mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Bahkan hamper sirna sehingga generasi sekarang banyak yang tidak mengetahui, padahal tradisi atau adat istidat yang diwariskan itu menjadi salah satu identitas suatu tempat.

Diakui Murdiyah selaku pemangku adat Tradisi Bejango Beliq pernah sempat hilang seiring dengan keadaan desa Songak pada saat menjadi dusun Desa Keselet, bahkan tradisi ini berubah nama menjadi Ngayu-Ayu. Kata Ngayu-Ayu sendiri berasal dari Bali yang tidak difahami maknanya oleh masyarakt desa setempat. Ngayu-Ayu dalam bahasa Bali digunakan ketika melakukan sembahyang di Pure. Oleh karena itu, Murdiyah selaku ketua adat segera melakukan penataan dan kembali ke nama semula yakni bejango beliq.

  • ekembali saya ke desa Songak semua sudah berubah nama bejango menjadi ngayu-ayu, tapi prosesi ritual yang sama dengan bejango. Melihat nama bejango berubah jadi ngayu-ayu sebagai nama baru pihaknya bersama beberapa tokoh masyarakat desa duduk bersama membahas tentang hal tersebut tepatnya pada tahun 1998 ketika saya sudah balik ke Desa Songak lagi,” (wawancara dengan Murdiyah S.Ag, Selasa 21/03/2016).

  

Berdasarkan hasil musyawarah itu, semua masyarakat bersepakat untuk menulusuri kembali asal muasal dari ritual bejango beliq kepada semua tokoh yang ada dan mengetahui hal itu. Nama Ngayu-Ayu berasal sejak salah satu mangku yang memegang jalannya tradisi ini (tidak bisa dipublikasikan namanya) turun ke anaknya dari sanalah ngayu-ayu dimulai. “Setelah kami tahu duduk persoalannya, maka kami bersepakat dengan seluruh masyarakat mengembalikan bejango sebagai tradisi kami bukan tradisi orang, dan bejango dilaksanakan dari sejak keputusan itu sampai sekarang.”

Kalau kita lihat dari sejarah datangnya anak agung untuk ekspansi wilayah di Desa Songak, Desa Songak semapat berganti nama menjadi Desa Leak (dalam bahasa bali berarti sesuatu hal yang bagus) oleh anak agung. Sedangkan masjid ini diakatakan sebagai langgar oleh para orang tua yang hidup di zaman itu. Karena anak agung mau menghindukan Lombok khususnya Desa Songak yang pada waktu itu masjid hanya ada di Desa Songak. Melihat hal ini anak Agung pun bertanya kepada orang tua yang yakni Guru Iling selaku tokoh pada waktu itu sehingga Guru Iling mengaku ini adalah langgar tempat pertemuan masyarakat Songak, dan ritual yang kami laksanakan ini merupakan ritual sembahyang dengan membawa sesajen yang kami sebut dengan ngayu-ayu. Ini juga yang melatar belakangi perubahan nama tersebut.

Ritual bejango beliq bisa dikatakan sebagai perkembangan dari ritual bejango yang dilaksnakan secara rutin oleh orang yang mempunyai nazar. Ritual Bejango ini dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis dilaksanakan pada dua kali dalam satu minggu bagi warga yang mempunyai hajat atau rindu dengan nenek moyang. Menurut masyarakat setempat bejango beliq ini dilalasanakan karena banyak masyarakat songak yang berada diluar ingin melaksanakan tradisi tempat kelahirannya untuk itu dilaksnakanlah Bejango Beliq setiap tahunnya. Tradisi Bejango ini dilaksanakan dua kali yang pertama bejango Buwaraq (pemberitahuan) dan Bejango Beliq. Murdiyah (Ketua Lembaga Adat Darmajagat Desa Songak).

Pada zaman ini seiring perkembangan zaman Bejango ini dijadikan sebagai event budaya Songak, mengingat bahwa songak menjadi salah satu prioritas Pemeritah Lombok Timur dan Pemeritah Provinsi NTB untuk dipromosikan menjadi “Desa Budaya” dengan mengangkat bejango beliq menjadi salah satu tradisi dan ritual yang sampai saat ini masih dilaksanakan. Bejango beliq yang dialaksanakan pada setiap tahunnya memang kala kita lihat ada sedikit perbedaan kalau setiap harinya tidak diiringi dengan Gedang Beliq (gamelan) tapi dalam ritual adat bejango beliq dilaksanakan dengan membawa gamelan.

Menurut Sekretaris Adat di Desa Songak penggunaan gendang beliq karena ini merupakan bejangonya seluruh orang songak baik yang tiggal di luar Desa Songak maupun yang masih tinggal di Desa Songak. Karena gamelan ini juga bagian dari pusaka orang songak yang secara turun temurun masih ada. Kalau kita melihat memang dari sejarah Desa Songak merupakan Desa tertua dari desa-desa yang lain terbukti dengan adanya masjid tertua yang ada di desa ini. Bukan hanya itu desa Songak menurut budayawan NTB Muhammad DJ, mengatakan bahwa desa Songak adalah penganut agama Islam pertama di Lombok bagian timur. Muhammad DJ (Budyawan NTB). Hal ini bisa dilihat dari adanya masjid tua yang masih berdiri sampai saat ini, dimana masjid tua Songak berdiri kokoh tanpa ada perubahan sedikitpun baik dari bentuk fisik ataupun lainnya. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

 

  1. Prosesi Ritual Bejango Beliq Desa Songak

Masyarakat Desa Songak yang memiliki beragam ritual-ritual adat yang ditinggalkan nenek moyangnya segenap budaya ini masih dipertahankan dan dilaksanakan. Masyarakat desa Songak yang notabennya menganut agama Islam mempercayai bahwa segala bentuk peninggalan baik berupa monumen (bangunan) maupun yang berbentuk tradisi-tradisi merupakan anugrah yang diberikan, oleh karena itu masyarakat Songak tetap menjaga dan melestariaknnya, salah satunya adalah ritual bejango beliq.

  • Menurut Muriyah, prosesi ritual bejango beliq merupakan ritual adat sebagai sebuah jawaban atas pengaruh luar juga sebagai imunitas masyarakat dari pengaruh luar berupa gangguan dari mahluk halus yang tidak tampak oleh mata secara normal. Ritual Bejango Beliq sebagai sebuah prosesi syukur terhadap banyaknya limpahan rahmat Allah terhadap Desa Songak” (Wawancara dengan Pemangku Adat Sabtu 16/04/2016)

 

Prosesi ritual bejango beliq dilaksanakan karena tradisi ini dianggap akan mampu menjadi pemersatu dari perbedaan-perbedaan yang. Prosesi bejango beliq dilaksanakan karena hajatan atau nazar (membayar janji) masyarakat Desa Songak. Untuk melaksanakan Prosesi ini masayarakat Desa Songak yang mempunyai hajatan atau nazar harus menyediakan Sesangan dan Sanganan kedua hal ini yang wajib ada ketika melaksanakan ritual bejango beliq yang dipimpin oleh pemangku atau mangku. Mangku adalah orang yang dituakan dan memiliki keahlian dalam bidang tertentu termasuk dalam ritual sehingga mangku itulah yang harus memimpin prosesi ritual.

  • Songak sebelum melaksanakan prosesi bejango beliq ini melakukan berbagai persiapan, sehingga prosesinya dapat berjalan sesuai dengan harapan. Dalam mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhan prosesi ritual bejango beliq, masyarakat yang punya hajatan harus menyiapkan dua hal penting dan wajib sehingga prosesi dari ritual itu bisa dilaksanakan yakni sesangan dan sanganan.
  • esangan adalah berupa bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan prosesi seperti gula kelapa berwarna putih dan merah, rokok, mpok-mpok (terbuat dari padi yang digoreng), beras kuning (beras yang dicampur dengan kunyit), linsar (wadah cangkir lama) yang berisi cairan dari bahan yang sudah ditentukan. Bahan-bahan yang disiapkan tersebut dikenal dengan istilah Sesangan.

Sedangakan sanganan adalah  Bahan-bahan lain yang harus disiapkan adalah kapur, sirih satu ikat, tembakau, rokok lima biji, buah gambir dibelah dua, dan dan buah pinang yang dibelah empat. Bahan-bahan yang disiapkan tersebut dikenal dengan istilah Sanganan.

Setelah semua bahan yang dibutuhkan berupa sesangan dan sanganan selesai dipersiapan, maka masyarakat akan membawanya ke masjid dan ke makam dengan diiringi oleh bunyi-bunyian berupa gendang beliq (beleq). “Gendang beliq itu tidak boleh sembarang, harus gendang beliq yang merupakan pusaka desa Songak yang bernama Guntur Telu untuk mengirinya ke masjid dan makam” (wawancara dengan Murdiyah, S.Ag, Selasa 21/03/2016).

Menurut Ketua Lembaga Adat Darmajagat Desa Songak, Sesangan dan Sanganan ditaruh bersamaan. Sesangan yang berisi lima macam ditaruh paling atas dan Sanganan ditaruh di bawah Sesangan. Sesangan dan Sanganan ditaruh dalam satu tempat yang dinamakan dulang atau nampan berukuran besar (ukran diameter sekitar 50 cm) yang terbuat dari kayu dengan warna hitam. Dulang bagi masyarakat Sasak adalah tempat menaruh makanan. Ada yang menggunakan kaki penyangga dan ada tidak menggunakannya.

Setelah selesai dibagi dua maka yang sesangan dan sanganan yang pertama dibawa ke masjid, dengan memasuki gerbang masjid sebelah timur dulu. Di masjid melaksanakan do’a yang dipimpin oleh kiyai dengan menyebut nama Alloh (berdzikir) dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan membaca do’a (tidak dipublikasi), setelah selesai melaksanakan do’a maka orang-orang yang punya hajat maju ke mimbar masjid sebelah kanan untuk mencuci muka tiga kali.

Pemangku prosesi adat juga akan membasuhkan kepalanya sampai setengah kepala dan digoreskan air di kening yang terbuat dari daun linsar yang berwarna kuning setelah itu orang telah mencuci muka selesai, maka yang bernazar akan salaman kepada semua orang yang berada di dalam masjid. Sambil mencicipi makanan mangku langit dan kiyai menggantung tanda, tanda ini dibuat dari daun kelapa muda yang masih segar sebagai tanda pernah dilaksanakan bejango atau Bejango Beliq.

Setelah rangkaian ini selesai maka dibagilah makanan yang dibawa dari rumah ke masjid tadi kepada seluruh masyarakat yang ada di masjid untuk mencicipi makanan yang sudah disediakan oleh masyarakat yang mempunyai nazar yang dibagikan oleh dua mangku bumi sebagai pembantu dalam prosesi ritual.

 Setelah semua selesai dihidangkan maka barulah keluar dari masjid melalui pintu sebelah barat sambil didiringi oleh Gendang Beliq Guntur Telu, sambil masyarakat yang lain mengambil Sesangan dan Sanganan yang kedua dan yang akan dibawa ke Makam Keramat sebagai syarat dilakukannya prosesi yang dipandu oleh pemangku dan diiringi oleh masyarakat lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.  

Setelah sampai ke Makam Keramat tidak langsung masuk ke makam, namun mengelilingi makam sebanyak tiga kali putaran sambil membawa Sesangan dan Sanganan dan diiringi oleh gendang Beliq Guntur Telu, sambil pemangku adat atau juru kunci makam menabur beras yang sudah dicampur dengan kunyit (beras kuning) selama putaran. Selanjutnya menunggu juru kunci (Mangku) beserta dua mangku lainnya (catatan ada tiga mangku satu mangku langit yang membuka gerbang Makam dan dua Mangku Bumi sebagai pendamping) untuk membuka gerbang, setelah gerbang dibuka maka masyarakat boleh masuk kedalam makam untuk melaksanakan dzikir dan do’a (do’anya sama dengan yang dimasjid), dengan proses yang sama juga untuk melaksanakannya sama persis yang di masjid.

“Tradisi bejango beliq yang diyakini masyarakat Songak adalah sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Di mana tardisi ini tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Islam yang menganjurkan umat untuk meramaikan masjid maupun mengunjungi / ziarah makam, sehingga masyarakat Songak tetap melaksanakan ritual dari tradisi bejango beliq” (Wawancara dengan tokoh Agama Desa Songak, Saman Hudi, 20/05/2016).

 

Dari pemaparan Saman Hudi tersebut diatas, dapat dipahami bahwa diselenggarakannya ritual bejango beliq itu karena jelas tidak bertentangan dengan ajaran agama yang harus meramaikan masjid sebagai wahana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, melakukan ibadah dan berdoa bersama saat melaksanakan ritual tersebut, termasuk berziarah kubur atau makam leluhur.

  • yang dihadapi masyarakat sekarang adalah karena rapuhnya kesadaran budaya atau tradisi dan daya ketahanan budaya yang dimiliki. Adanya anggapan bahwa kebudayaan luar terutama kebudayaan barat adalah superior dan kebudayaan sendiri terutama kebudayaan timur adalah inferior, mengakibatkan situasi masyarakat yang terasing dari kebudayaannya sendiri. Padahal sesungguhnya barat adalah barat dan timur adalah timur, dimana keduanya tidak bisa bersatu. Oleh sebab itu salah satu cara mempertahankan tradisi yang ada di masyarakat Songak seperti Bejango Beliq itu, masyarakat selalu merayakannya setiap tahun.

Jika dicermati, beberapa hal yang menyebabkan rapuhnya kesadaran budaya dan ketahanan budaya masyarakat sekarang ini, misalnya pengaruh globalisasi dan teknologi informasi yang menyebabkan terjadinya pemadatan dimensi ruang dan waktu, jarak semakin diperdekat dan waktu semakin dipersingkat, situasi seperti ini menyebabkan terjadinya banjir deras informasi yang menghujani masyarakat dan nyaris tidak terkendali oleh kita semua.

Penyebab selanjutnya adalah terjadinya perubahan orientasi pada nilai-nilai budaya yang dilanjutkan dengan perubahan norma-norma dan tolak ukur perilaku warga masyarakat. Perubahan orientasi nilai menjelma dalam wujud pergeseran budaya, biasanya cenderung dalam bentuk asimilasi dan akulturasi budaya, contohnya bagaimana saat pasangan pengantin mengenakan beragam macam baju pengantin disaat pesta, contoh lain yaitu terjadinya pergeseran budaya dalam aturan menghidangkan makanan dari sistem yang menggunakan dulang (nampan) atau begibung (makan bersama dalam satu nampan) ke sistem menghidangkan ala barat, malah sekarang dalam acara ruwahan di kampung - kampung sudah menggunakan sistem barat yang lebih praktis namun makna dan nilai kearifan lokalnya bergeser.

Perubahan orientasi nilai juga menyebabkan persengketaan yang melahirkan sikap ambivalensi masyarakat, sebagai contoh timbulnya pro dan kontra masyarakat ketika diselenggarakan ritual adat yang menurut sebagian tidak relevan dengan zaman sekarang bahkan dinilai bertentangan dengan nilai-nilai agama. Terakhir perubahan orientasi nilai pada masyarakat akan menimbulkan perbenturan yang melahirkan sikap penentangan dalam orentasi tersebut.

Oleh sebab itu untuk membangun kesadaran budaya atau tradisi dan ketahanan budaya di masyarakat maka perlu dilakukan upaya-upaya yaitu, pertama dengan meningkatkan daya preservatif meliputi upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan serta meningkatkan daya progresif berupa upaya -upaya peningkatan peran pemerintah, swasta, serta pemberdayaan masyarakat adat dan komunitas budaya Sasak seperti Bejango Beliq.

Upaya kedua untuk membangun kesadaran tradisi dan ketahanan tradisi di masyarakat desa Songak adalah dengan memberdayakan nilai - nilai budaya baik nilai budaya yang terkandung di dalam kebiasaan budaya maupun yang terkandung di dalam aturan budaya. Baik nilai budaya yang tampak (tangible) maupun nilai budaya yang tak tampak (intangible). Diketahui bahwa kebudayaan dan peradaban dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tradisi lisan seperti ungkapan tradisional, puisi rakyat (pantun, syair dan gurindam), cerita rakyat (mite, legenda, dongeng), nyanyian rakyat. Kemudian dapat diwarisi melalui tradisi setengah lisan seperti permainan rakyat, kepercayaan rakyat, upacara tradisional (daur hidup, kepercayaan dan peristiwa alam), arsitektur tradisional dan rumah adat, pengobatan tradisional, makanan tradisional, pakaian adat, pasar tradisional, pengetahuan dan teknologi tradisional serta dapat juga diwarisi melalui tradisi bukan lisan seperti bangunan bangunan kuno dan naskah naskah kuno.

Selain itu dibutuhkan kesadaran dan ketahanan, juga dibutuhkan perlindungan atau upaya menjaga keaslian kebudayaan dari pengaruh unsur-unsur budaya luar atau asing dan penyimpangan dalam pemanfaatannya, termasuk pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kebudayaan yang hidup di tengah-tengah masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk pemenuhan kebutuhan batin masyarakat baik dalam event yang bersifat sakral maupun profan.

Pemberdayaan nilai budaya pada prinsipnya adalah upaya untuk membuat sesuatu peristiwa budaya menjadi lebih bermanfaat, bermakna, lebih berfungsi dan berguna yang menghasilkan nilai budaya yang dapat menuntun manusia berperilaku lebih beradab, dan sesuai dengan kaedah atau norma - norma yang berlaku di masyarakat. Perilaku beradab tersebut dapat terealisasi dalam kehidupan masyarakat bila nilai-nilai budaya tersebut sudah terinternalisasi dengan benar dalam batin masyarakat.

Menurut hemat penulis, untuk mengupayakan terinternalisasinya nilai-nilai budaya diperlukan kerja keras dan upaya yang sungguh-sungguh dari seluruh komponen masyarakat termasuk penggiat budaya, apresian budaya dalam level apapun, oleh para pemangku adat, tokoh adat, dan pemuka adat. Sekarang ini untuk mempermudah pemberdayaan nilai-nilai budaya sehingga terinternalisasi dengan baik, hal utama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan event atau peristiwa budaya yang berhubungan dengan peristiwa kemasyarakatan yang biasanya diikuti oleh banyak orang dan mendatangkan anggota masyarakat lainnya, baik peristiwa yang berhubungan dengan agama, peristiwa yang berhubungan dengan adat, maupun peristiwa yang berhubungan dengan siklus kehidupan seperti even perayaan tradisi Bejango Beliq masyarakat Songak. Upaya terakhir untuk membangun kesadaran budaya dan ketahanan budaya adalah dengan memperkuat dan mengukuhkan identitas dan jatidiri, karena di dalam jatidiri terkandung kearifan lokal.

  1. Makna Ritual Bejango Beliq Bagi Masyarakat Desa Songak

Dalam setiap perlaku dan tindakan manusia memiliki makna tersendiri untuk memaknakan dan hal itu dipengaruhi oleh pengetahuan setiap orang. Terkait dengan makna dari bejango beliq yang ada di desa Songak, bahwa bagi masyarakat desa Songak mengandung beberapa makna penting dari ritual adat yang dilakukan masyarakat Songak adalah:

 

  1. Sebagai Wujud Syukur Terhadap Tuhan

Prosesi ritual bejango beliq yang dilaksanakan masyarakat Songak kental dengan nuansa religi. Dan menurut masyarakat setempat, ritual itu memberikan ajaran terhadap nilai-nilai agama meskipun hal itu lebih cenderung pada ritual adat yang diadakan oleh masyarakat sejak nenek moyang mereka.

“Menurut Ketua Lemambaga Adat Desa Songak Murdiyah, S.Ag mengungkapkan bahwa makna dari ritual bejango beliq adalah sebagai wujud ungkapan syukur. Karena sejatinya ritual ini dilaksanakan setelah nazar itu tercapai atau tewujud. Jadi bisa dikatakan bejango beliq merupakan bagian dari rasa syukur atas berkah yang dilimpahkannya seperti orang yang terkena penyakit yang sulit disembuhkan setelah melaksanakan bejango penyakit itu bisa sembuh karena syarat bejango tersebut. Karena itulah bejango dikatakan sebagai ucapan rasa syukur. Hal ini tidak hanya diungkapkan oleh ketua lemabaga adat namun juga diungkapkan oleh Mus (Tokoh Masyarakat Desa Songak), yang mengungkapkan bahwa bejango bliq adalah perwujudan rasa syukur atas nikmat tuhan berupa sehat atau nazar-nazar yang lainnya.” (Wawancara dengan Murdiyah, S.ag dan Mus, tanggal 16/04/2016).

 

Ritual bejango beliq dilaksanakan karena hajatan atau nazar (membayar janji) masyarakat Desa Songak. Di mana nazar itu adalah dipenuhi sebagai wujud syukur atas segala anugerah yang telah diberikan dalam kehidupan mereka, disamping sebagai wahana menunjukkan kecintaanya terhadap Tuhan Sang Maha Pencipta dengan memanjatkan doa-doa, juga ritual ini memberikan pembelajaran kepada sesama masyarakat agar bisa membangun suasana kebersamaan agar terciptanya keseimbangan dalam kehidupan sosial kemasyarakat yang sekarang ini sudah lebih mengedepankan sifat individualistik.

Dalam mewujudkan rasa syukur terhadap Tuhan tentu berbagai ritual dan proses dilakukan sebagai simbol kecintaan mahluk terhadap Kholiq yang telah memberikan berbagai anugreah dalam kehidupan mereka, termasuk ritual yang dilakukan masyarakat desa Songak yang meyakini bahwa ritual bejango beliq sebagai salah satu cara menunjukkan rasa syukur terhadap semua anugerah Tuhan.

  1. Sebagai Bentuk Kecintaan Terhadap Leluhur

Setiap masyarakat betapapun sederhananya memiliki Kebudayaan dan mengembangkannya sebagai respon terhadap lingkungan fisik, lingkungan sosial dan lingkungan buatan di sekitarnya. Perbedaan antara lingkungan fisik, sosial dan buatan itulah yang menyebabkan perbedaan kebudayaan di masyarakat. Oleh sebab itu salah satu kebijakan dalam pengembangan kebudayaan adalah upaya untuk menguatkan identitas dan kekayaan budaya nasional yang bertujuan untuk memperkenalkan, menguatkan dan mendorong kreatifitas budaya masyarakat agar mampu berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman dan tidak melupakan tradisi dari leluhur.

Bejango Beliq sebagai warisan leluhur harus dipertahankan dan dilaksanakan karena tradisi ini bisa saja hilang kalau tidak diperkenalkan kepada anak cucu sebagai generasi penerus. Hal ini juga sebagai wujud kecintaan terhadap leluhur yang telah mewariskan tradisi yang unik namun tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, bahkan nuansa nilai-nila ajaran Islam sangat kuat ketika dilihat dari makna masing-masing dalam prosesi ritual bejango beliq.

  • Bagi masyarakat desa Sogak, mereka mengaku sangat bangga dengan tradisi yang dimiliki. “Kami merasakan kenikmatan yang tidak bisa terbayar ketika kami melaksanakannya, disamping itu kami bisa bertemu dengan keluarga kami yang ada di luar Desa Songak” (wawancara dengan H. Saifullah Aman, Kamis 24/03/2016).

 

Tokoh masyarakat di Desa Songak, Amaq Musa mengatakan pelaksanaan prosesi ritual bejango beliq ini memiliki makna tersendiri dan ada kebanggaan yang tidak terbayarkan dengan nilai apapun. Bagi mereka melaksanakan prosesi tersebut seperti melaksanakan ritual keagamaan. “Kami melaksanakan bejango beliq ini dengan hati yang gembira karena merasakan seperti kami hari Raya I’dul Fitri. Kami bisa bertemu sama anak cucu, saudara kami yang tinggal di luar desa Songak”.

Jika dilihat dari apa yang dipaparkan semua sumber di atas dapat dipahami bahwa tradisi ritual bejango beliq itu memiliki makna penting bagi masyarakat utama dalam melestarikan budaya leluhur yang mengajarkan nilai-nilai yang kebaikan, sehingga tradisi ini tidak akan ditinggalkan oleh masyarakat setempat.

Tradisi bejango beliq ini juga menunjukkan bahwa nenek moyang masyarakat desa Songak terdahulu memiliki peradaban yang cukup maju. Hal ini dapat dilihat dari nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang bersumber dari kecerdasan lokal (local genieous), pengetahuan lokal (local knowledge) dan bahasa lokal (local language) yang sampai saat ini masih ditradisikan oleh masyarakat desa setempat sebagai bentuk pelestarian tradisi yang bisa menjadi salah satu asset dan identitas mereka yang saat ini terus mengalami pergeseran akibat dari arus global.

 

 

  1. Sebagai Bentuk Pelestarian Budaya

Kehidupan manusia selalu dikelilingi oleh peristiwa budaya, proses pembentukan peristiwa budaya di atas berlangsung berabad - abad dan betul - betul teruji sehingga membentuk suatu komponen yang betul - betul handal, terbukti dan diyakini dapat membawa kesejahteraan lahir dan batin, komponen inilah yang disebut dengan jatidiri. Di dalam jatidiri terkandung kearifan lokal (local wisdom) yang merupakan hasil dari local genius dari berbagai suku bangsa yang ada. Kearifan lokal inilah seharusnya yang kita rajut dalam satu kesatuan kebudayaan untuk mewujudkan suatu nation (bangsa) yaitu Bangsa Indonesia dan sebagai alat untuk meredam berbagai konflik horizontal yang terjadi di masyarakat yang marak terjadi di berbagai daerah saat ini.

  • Kepala Desa Songak H. Khaeruddin, mengatakan bahwa tradisi-tardisi yang ada di desa Songak masih dan harus dipertahankan mengingat bahwa perkembangan zaman yang begitu maju dan kompleks. Sebagai wujud pelestarian budaya, tradisi ritual bejango baliq ini akan tetap dilaksanakan. Lebih-lebih sekarang ini Lombok sebagai salah satu destinasi wisata dunia bisa meningkatkan income masyarakat. Desa Songak ini bisa sebagai salah satu destinasi wisata yang berbasis budaya.
    • Kami pemerintah Desa Songak beserta tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda/pemudi di desa Songak senantiasa akan tetap mempertahankan segala tradisi-tradisi yang kami miliki sebagai tameng kami dalam mengahadapi perkembangan zaman yang begitu masif dan sangat kompleks ini. (Wawancara Kades Songak, H. Khaeruddin, 21/03/2016).

 

Sebagai wujud kepedulian terhadap hal itu, Kepala Desa Songak H. Khairuddin mengatakan bahwa pemerintah desa Songak beserta semua tokoh agama atau masyarakat telah bersepakat untuk mempertahakan budaya dan memilihara bangunan serta benda-benda bersejarah lainnya. Bahkan, sekarang ini tradisi bejango beliq sudah dianggarkan dari dana desa sebagai bentuk keseriusan dan kepedulian dalam melestarikan budaya dengan harapan desa Sengak ini menjadi destinasi wisata religi yang maju dan banyak dikunjungi.

Langkah ini jika ditelaah lebih mendalam menunjukkan bahwa masyarakat desa Songak bersama pemerintah desa setempat memiliki antusiasme dalam melestarikan budaya yang memberikan dampak kepada perkembangan pariwisata yang berbasis budaya dan membudayakan pariwisata di masyarakat.

Kalau melihat sejarah keberadaan Institusi Adat Asli pada masa pemerintahan kolonial sampai awal kemerdekaan masih berjalan seperti sedia kala tanpa hambatan yang berarti pada setiap komunitas adat, namun ketika pemerintahan orde baru keadaan menjadi sangat berubah. Namun setelah otonomi daerah dibelakukan, geliat institusi adat mulai bangkit, disamping pemerintah dan masyarakat khawatir akan hilangnya tradisi adat yang sudah mulai terkikis arus global. Melihat hal itu, maka masyarakat Songak bersepakat untuk tetap melaksanakan ritual dari tradisi bejango beliq.

 

 

  1. Sebagai Wahana Silaturrohim

Seiring dengan perkembangan zaman dengan perilaku yang individualis tentunya memberikan dampak terhadap dinamika masyarakat yang melunturkan kebersamaan dan suasana kekeluargaan. Oleh sebab itu, tradisi bejango beliq dapat dimaknakan sebagai pemersatu dari sekian kepentingan individu maupun kelompok yang ada di Songak, baik berupa kepentingan sosial, ekonomi, politik dan lain sebagainya.

“Tokoh agama di Desa Songak, H. Ahmad Saifulloh Aman mengatakan, tradisi bejango beliq ini juga bisa sebagai wadah silaturrohmi masyarakat Songak. Agama juga mengajarkan pengikutnya untuk selalu bersilaturrohmi dengan sesama, sebagai mahluk sosial ya

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru