Sari Bunga di Taman Kehidupan

bu Mas Imo ini menceritakan tentang kisah Ana Fari Pidu (Tujuh Bidadari) yang menikah dengan Ana Sangaji Mbojo ( Putera Mahkota Kerajaan Bima). Kisah ini memang sudah sering didengar, namun yang menarik adalah transformasi kebudayaan dalam cerita ini. Cerita tentang Ana Fari Pidu merupakan rangkaian panjang dari Hikayat Sang Bima yang berkembang di tanah Bima sejak lama. Dalam cerita Ana Fari Pidu lama versi hindu, ternyata telah ditransformasi ke dalam cerita islam di wilayah pesisir Langgudu ini. Misalnya puteri bungsu dari Ana Fari itu telah dirubah namanya dengan Siti Fatimah. Nama Sangaji Mbojo juga diganti dengan Muhammad Nurlah, selendang ana fari pidu diganti dengan Mukenah.Telaga permandian Ana Fari itu dirubah menjadi kebun bunga dan 7 bidadari itu turun dari kayangan memetik sari bunga antara waktu magrib dan Isya. Artinya, bahasa simbol " Memetik Sari bunga " itu adalah ibadah manusia di antara dua waktu itu.

Pada masa lalu, keutuhan dan ketangguhan keluarga orang-orang Mbojo adalah pada waktu magrib dan isya. Dimana pada waktu ini, orang tua mengumpulkan anak-anaknya untuk shalat berjamaah, mengaji dan makan bersama. Di waktu inilah orang tua mengecek satu persatu keadaan dan keberadaan anak-anaknya. Disamping itu, para orang tua melarang putera puterinya membuka pintu rumah di antara dua waktu itu karena setan sedang berkeliaran. Inilah yang dimaksudkan dengan "Sari Bunga Di Taman Kehidupan" yang terurai indah lewat tutur dan penampilan Mas Imo asal desa Karampi kecamatan Langgudu ini.

Dalam proses ini, kisah tentang 7 bidadari fersi lama telah dilakukan penyesuaian dengan tata nilai islam. Cerita 7 bidadari memang tidak hanya dikenal di tanah Bima, kisah ini merata di seluruh persada nusantara. Tetapi di Bima, ada proses penyesuaian dan transformasi nilai dari ajaran lama kepada nilai-nilai islam. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru