Tradisi Bubur Puteq


KM. Sukamulia – Tradisi Bubur Puteq merupakan salah satu tradisi masyarakat Sasak yang berkenaan dengan masalah religius. Pada awalnya, tradisi Bubur Puteq dilaksanakan hampir diseluruh wilayah pulau Lombok. Namun saat ini tradisi tersebut telah banyak ditinggalkan (tidak dilaksanakan lagi) dan hanya di beberapa daerah pulau Lombok saja yang masih melaksanakannya. Salah satu masyarakat yang tetap melaksanakan tradisi Bubur Puteq adalah masyarakat Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur.

Tradisi Bubur Puteq dilaksanakan satu kali dalam setahun, yakni pada bulan Muharram (bulan pertama pada peninggalan tahun Hijriah). Masyarakat Dusun Sukamulia biasanya melaksanakan tradisi ini pada hari Jum’at di minggu ketiga atau minggu ke empat bulan Muharam dan pada tahun ini (1437 H / 2015 M), masyarakat Dusun Sukamulia melaksanakan tradisi Bubur Puteq pada hari Jum’at tanggal 23 Muharam 1437 H yang bertepatan dengan tanggal 06 November 2015.

Mungkin tidak semua masyarakat Sasak yang mengetahui makna dari pada dilaksanakannya tradisi dimaksud dan oleh sebab itulah mereka enggan untuk melestarikan budaya atau tradisi tersebut yang padahal jika dikaji secara mendalam, pelaksanaan tradisi Bubur Putiq memiliki makna yang tinggi dan tentunya hal itu harus dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu khazanah budaya etnis yang dapat memperkaya khazanah budaya nasional. Untuk itu pada artikel kali ini, penulis akan memaparkan tujuan dan makna serta prosesi pelaksanaan Bubur Puteq sesuai dengan apa yang penulis temukan di lapangan, khususnya di Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya.

Pada dasarnya, setiap tradisi yang dilaksanakan oleh manusia memiliki makna dan tujuan tertentu, demikian pula dengan pelaksanaan tradisi Bubur Puteq ini. Menurut pemahaman masyarakat Dususn Suakamulia dan sekitarnya, latar belakang dilaksanakannya tradisi ini adalah mengacu dari kisah pertemuan nabi Adam AS dengan Siti Hawa, dimana setelah mereka diturunkan ke bumi, Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan pada tempat terpisah dan mereka bertemu lagi di Padang Arofah setelah mereka saling mencari selama berpuluh-puluh tahun lamanya dan pertemuan mereka itu terjadi pada bulan Muharam.

Selanjutnya, tujuan dilaksanakannya tradisi Bubur Puteq adalah untuk mengingatkan manusia tentang asal mula kejadiannya yang berasal dari setetes air hina (air mani). Hal itu diperlambangkan dengan membuat bubur dari bahan beras yang dicampur dengan berbagai jenis biji-bijian dan hasil bumi lainnya. Hal tersebut dilakukan atas dasar pemikiran bahwa air mani manusia bersumber dari sari-sari makanan yang telah diperoses di dalam tubuh dan kemudian disimpan di dalam tulang sulbi (pada laki-laki) dan atau tulan taroib (pada perempuan).

Pelaksanaan tradisi ini memiliki makna filosofis yang tinggi bagi para pelaksanannya, dalam pelaksanaan tradisi ini ada makna penting yang harus dipahami oleh para pelaksanannya. Dalam hal ini, masyarakat Dusun Sukamulia memiliki pandangan bahwa pelaksanaan tradisi Bubur Puteq mengingatkan kita bahwa awal mula kejadian kita adalah bertemunya sel seperma laki-laki dengan sel seperma perempuan yang kemudian disimpan dengan rapi pada rahim perempuan. Kejadian tersebutlah yang kemudian dimanipestasikan di dalam pelaksanaan tradisi Bubur Piteq yang dilaksanakan pada setiap tahunnya.

Setelah mentehaui latar belakang, tujuan dan makna pelaksanaannya maka perlu pula kiranya pembaca mengetahui mengenai prosesi (tata cara) pelaksanaan tradisi Bubur Puteq tersebut. Untuk itu, berikut ini penulis akan memaparkan secara gambelang mengenai prosesi pelaksanaan tradisi Bubur Puteq yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Sukamulia dan hal serupa juga dilaksanakan oleh masyarakat Sasak lainnya yang masih melestarikan tradisi tersebut di dalam kehidupan social budaya mereka.

Tahap persiapan: satu minggu sebelum dilaksanakannya acara, masyarakat terlebih dahulu melakukan gundem (rembuk/rapat) guna menyepakati hari tanggal pelaksanaan tradisi Bubur Puteq. Gundem biasa dilaksanakan di masjid dan dihadiri oleh tokoh agaman, tokoh adat, tokoh masyarakat dan warga. Setelah disepakatinya hari dan tanggal pelaksanaan, maka masyarakat mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Persiapan ini dilakukan di rumah masing-masing. Hal-hal yang dipersiapkan adalah bahan-bahan pembuatan bubur yang terdiri dari kelapa, biji-bijian, buah-buahan dan jajanan yang akan disajikan pada puncak prosesi. Perlu pula diketahui bahwa jajanan tradisional yang harus disiapkan adalah cucur, lideran, dan gegodoh (pisang goring). Jajanan tradisional ini biasa dibuat pada satu hari sebelum dilaksanakannya acara puncak.