Makna Simbol Dalam Budaya Pelayaran (Gawe Pati)

KM Pohgading Timur. Dalam pelayaran (gawe Pati) yang dilakukan oleh masyarakat sukamulia memiliki simbol-simbol yang memiliki arti sangat penting dalam perjalanan orang yang telah meninggal dunia. Hal ini dilakukan adalah sebagi symbol peringatan/pelajaran bagi keluarga yang ditinggalkan, pelayaran ini dilakukan setaip tujuh hari setelah meninggalnya keluarga sanak saudara yang ada di dusun sukamulia. Selanjutnya pelayaran ini dilaksanakan setiap malam hari orang yang meninggal dunia, pelayaran ini dilakukan sampai 40 hari setelah orang meninggal karena setelah 40 hari orang yang sudah meninggal dunia arwahnya sudah tidak ada di dalam kubur. Adapun symbol yang ada pada budaya pelayaran dibagi menjadi dua jenis yaitu pertama dari peralatan atau pekakas budaya dan kedua adalah dari bahan makanan dan lain-lain.

1. Symbol pekakasa dalam budaya pelayaran

  • Gorong Batang (Keranda)

 Gorong batang adalah suatu alat untuk mengangkut atau menghantar mayit menuju pemakaman. Gorong batang memilki makna bahwa kehidupan ini bukanlah suatu tempat untuk hidup secara individu atau mandiri. Akan tetapi, kita harus hidup secara berdampingan dan tolong menolong antara orang yang satudengan yang lain. Oleh sebab itu gorong batang atau keranda tidak bisa diangkat oleh satu orang, melainkan empat orang atau lebih. Sehingga keseimbangan dalam kehidupan ini dapat terwujud secara nyata. Gorong batang ini juga dimasukkan ke dalam kuburan, hal ini berarti apapun yang telah kita usahakan tidak mesti kita dapatkan karena semua hal berasal dari tanah den kembali kepada tanah.

  • Kereng Bokos (Kain Kafan)

Kereng bokos atau kain kafan dipergunakan untuk membungkus atau mengkafankan jasad si mayit. Kereng bokos memiliki makna bahwa manusia tidak boleh terlalu rakus dalam mencari harta kekayaan karena yang akan manusia bawa ketika meninggal dunia bukanlah harta yang banyak, melainkan hanya selembar kain kafan yang rusak dimakan rayap. Oleh sebab itu kesedehanaan dalam kehidupan dunia sangat diperlukan agar kerakusan tidak sampai terjadi.

  • Kedebong (Batang Pisang)/Bantal

Kedebong atau batang pisang digunakan sebagai bahan makanan dan sebagai bantal ketika menidurkan mayit yang sedang dimandikan. Kedebong memiliki makna bahwa hidup ini haruslah memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan. Kehidupan tidak mesti terpaku pada satu hal melainkan. Melainkan bebas dari setiap belenggu kehidupan. Seperti kedebong yang bisa dipergunakan sebagai bahan makanan, bisa juga dipergunakan sebagai bantal si mayit.

  • Penyedok/Gayung

Penyedok atau gayung adalah alat yang dipergunakan untuk mengambil air ketika menyiramkan air ke seluruh tubuh mayit. Gayung ini memiliki makna bahwa prilaku yang ditonjolkan oleh manusia haruslah dari segi kemanfaatan. Kemnfaatan yang disebarkan haruslah merata seperti meratakan air pada tubuh si mayit. Sehingga manusia tidak akan berselisih antra yang satu dengan yang lain.

  • Tikar Pandan dan Dipan (ranjang)

Tikar pandang dan ranjang sama-sama dipergunakan sebagai tempat untuk membaringkan mayit. Tikar pandan dan dipan memiliki makna bahwa segala sesuatu memiliki dasar atau alas yang kuat agar tidak langsung tesentuh atau kotor oleh hal yang lain. Oleh sebab itu mayit dibaringkan di atas tikar dan dipan menyimbolkan prilaku orang-orang yang athu akan kebaikan dan keburukan.

  • Dulang/Nare/Nampan

Dulang adalah suatu tempat untuk menaruh berbagai makanan atau berbagai hal agar lebih tinggi dari tanah. Dulang ini memiliki makna bahwa kita harus menampung berbagai hal. Jangan sampai pilih kasih dalam menolong. Oleh sebab itu walaupun dulang atau nampan lebih tinggi, tetapi bisa menampung segala hal yang diperlukan. Sehingga dulang nasiq dan dulang kakenan dapat menampung berbagai makanan dan lain sebagainya.

  • Rondon/Piring

Rondon atau piring adalah wadah yang dibuat dari daun pisang berfungsi sebagai tempat untuk menaruh masing-masing macam sesajian. Rondon ini memiliki makna bahwa setiap sesuatu itu memiliki tugas dan fungsi tersendiri. Sehingga tugas utama yang diemban harus diutamakan agar tidak merugikan pribadi sendiri. Setelah tugas pribadi selesai barulah melaksanakan tugas-tugas yang lain. Sehingga rondon-rondon itu dijejerkan dalam dulang nasiq. (Bersambung) - 05

By. Badri Asa

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru