Kalondo Lopi Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir Bima

Prosesi Kalondo Lopi di Desa Sangyang merupakan perayaan masyarakat dan hiburan  juga merupakan perayaan yang sangat khas mempunyai nilai tersendiri. Kalondo Lopi adalah tradisi yang sudah dilakukan oleh nenek moyang suku Mbojo sejak mereka mengenal dengan dunia kelautan. tradisi tersebut menunjukkan bukan saja pelestarian warisan budaya di Sangyang tapi juga simbol toleransi dan pembauran antar warga yang harmonis.

Desa Sangyang yang terletak di pesisir pantai utara, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima berada di timur pulau Sumbawa dan dikelilingi gunung, memiliki berbagai potensi wisata baik pemandangan alam, seni budaya, kuliner dan berbagai potensi wisata lainnya. Salah satu daya tarik Desa Sangyang adalah Gunung Sangyang yang memliki nilai historial sejak abad 14.

Prosesi Kalondo Lopi atau dalam artiannya secara harfiah yaitu Prosesi Penurunan Kapal di laut yang sudah di buat selama 2 hingga 3 tahun, ada tahapan yang harus dilakukan oleh pemilik kapal sebelum Kalondo Lopi dilakukan yaitu pada malam harinya di lakukan Do`a bersama di atas kapal itu dengan mengundang berbagai lapisan masyarakat.

Paginya setelah masyarakat di kumpulkan dari segala macam lapisan bergotong bersama-sama menarik kapal kemudian tunas pinang di ikatkan di depan dan belakang kapal yang mempunyai makna seperti pohon pinang tinggi lurus yaitu bersedia melakukan pekerjaan dengan bersungguh-sungguh, dalam hal ini kaya atau pun miskin semua sama-sama berbaur dalam keharmonisan bersama yaitu berusaha menurunkan kapal kelaut itulah tujuan mereka.

Canda tawa terjalin di antara mereka sesaat setelah melakukan usaha mendongkrak belakang kapal, bukan hanya warga lokal yang berbaur, wisatawan dari luar negeri yang turut menyaksikan Kalondo Lopi juga bisa ikut membaur bekerja sama menarik kapal tersebut, merekapun (wisatawan) sangat senang melakukannya.

Sangyang juga dikenal sebagai Desa yang memiliki hasil laut yang memenuhi kebutuhan di Bima, serta memiliki daya tarik wisata lainnya seperti menjadi tempat menyelam oleh wisatawan di sekitar gunung Sangyang  dan wisata etnik dengan berbagai kegiatan warganya yang masih tradisional, dan masih banyak lagi potensi lainnya di sekitar Sangyang seperti Pulau Ular yang terletak di Pai dan pantai yang indah sepanjang Desa Mawu hingga Sangyang.

Posisinya di dekat Sape yang merupakan akses menuju Pulau Komodo sangat bagus menjadi destinasi wisata sebelum menuju Pulau Komodo, jaraknya pun sangat dekat kurang lebih 40 menit dari Sape ke Wera. Setelah tiba di Wera kita tinggal menanyakan arah menuju Desa Sangyang kepada warga setempat, setelah sampai di Desa Sangyang kita akan melihat aktifitas pembuatan kapal kayu berjenis phinisi di sepanjang pantainya dan airlautnyapun tidak kala jernih.

Akses menuju Desa Sangyang sangat bagus jalannya yang sudah di aspal, jika dari Kota Bima menuju Wera jika kita naik sepeda motor akan menghabiskan waktu perjalanan 1 jam lebih, dan ada pula fasilitas bis lokalnya untuk menuju Wera dengan ongkos perorang kurang lebih 20 ribu rupiah. Setelah sampai di terminal Wera kita tinggal naik ojek untuk menuju Desa Sangyang dengan biaya 10 ribu rupiah.

Wilayah utara Kabupaten Bima mempunyai potensi wisata Jangka panjang, selain alamnya yang mendukung , kehidupan masyarakatnya pun sangat menarik dengan masih memelihara pola cirri kehidupatan  adat mereka yaitu masih banyak terlihat berdiri kokoh rumah panggung ciri dari masyarakat adat Nusantara Indonesia. Kulinernya pun sangat menggiurkan yaitu ikan bakar dengan sambal tradisionalnya dan hidangan pencuci mulut Kadodo Wera adalah dodol khas masyarakat di sana yang mempunyai cita rasa tersendiri. [] - 05

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru