Pelayaran Gawe Pati Warga Sukamulia

KM. Pohgading_Timur. Secara etimologis dalam bahasa sasak kata “pelayaran” berarti keberangkatan. Berarati budaya pelayaran adalah segala proses yang dilakukan oleh mesyarakat sasak setelah kematian seseorang menuju alam baka atau alam kubur. Acara puncak daripada Budaya pelayaran dilaksanakan pada tengah malam sekitar pukul dua atau pukul tiga dini hari. Budaya ini telah dilakukan oleh masyarakat sejak dulu hingga sekarang ini pada setiap kematian seseorang.

Adapun keberlangsungan daripada budaya pelayaran pasca kematian selalu dilaksanakan di Dusun Sukamulia Desa Pohgading timur. Budaya pelayaran pasca kematian dapat mempersatukan masyarakat. Sehingga membangkitkan kebersamaan. Oleh sebab itu tidak diragukan lagi kebaikan yang ada pada budaya pelayaran pasca kematian. Melalui budaya pelayaran ini, antar keluarga yang jauh, antara masyarakat tetangga dapat saling mengunjungi dan berbagi. Sehingga budaya pelayaran diusahakan semaksimal mungkin agar dapat dilaksanakan.

Budaya pelayaran pasca kematian yang berada di Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur terbagi menjadi 3 prosesi, antara lain:

1. Semenjak Kematian Sampai Dengan Pemakaman

Prosesi pertama yang dilakukan dalam budaya pelayaran adalah dari semenjak kematian hingga pemakaman. Dalam prosesi ini ada yang dinamakan dengan memondik atau memandikan, bokosin atau mengkafankan, sembahyangan atau menyolatkan, dan teahir adalah nguburang atau menguburkan. Ketika memandikan terdapat berbagi macam jenis air yang digunakan untuk memandikan si mayit. Air-air ini dijadikan sebagai simbol dalam budaya pelayaran pasca kematian, seperti air biasa, air sabun, air bidara atau air kapur barus, dan air parfum atau aik cecanae. Air-air ini harus disiramkan kepada si mayit secara teratur. Selain jenis-jenis air ini adapula yang dinamakan dengan “aik siwak”. Aik siwak adalah sembilan jalan atau sembilan tempat keluarnya air yang ada pada tubuh manusia. Sembilan jalan keluar air itu adalah dua lubang mata, dua lubang telinga, dua lubang hidung, mulut dan lubang yang berada di bagian bawah anggota tubuh yakni jalan buang air besar dan kecil. Sembilan jalan air ini harus dibersihkan dan memiliki bacaan-bacaan tersendiri.

Setelah memondik atau memandikan selesai, maka hal yang harus dilakukan adalah bokosin atau mengkafankan. Ketika mengkafankan hal-hal yang harus disediakan adalah kereng bokos. Kereng bokos atau kain kafan yang digunakan minimal satu lapis untuk laki-laki dan minimal tiga lapis untuk mayit perempuan. Di dalam mengkafankan terdapat tiga ikatan yang diikatkan pada kaki, perut, dan ikatan kepala. Kemudian mayit siap untuk disholatkan.

Adapun untuk mensholatkan diusahakan harus berada di tempat yang ramai, seperti masjid dan musholla. Kemudian barulah si mayit diantarkan ke pemakaman dengan menggunakan “gorong batang” atau keranda yang diusung oleh empat orang atau lebih serta diikuti oleh kerabat terdekat dan masyarakat. Ketika mayit telah sampai ke pemakaman, hal yang harus dilakukan adalah menguburkan si mayit. Ketika menguburkan harus disediakan tanah yang dikepal sebagai bantal si mayit. liang lahat pada kuburan harus diberi sekat dengan bambu ataupun papan supaya si mayit tidak tersentuh oleh tumputan tanah. Kemudian gorong batang yang digunakan untuk mengusung si mayit harus dimasukkan juga ke dalam kuburan agar tidak menyisakan duka. Setelah itu baru ditumput atau ditaburi dengan tanah secara keseluruhan.

2. Puncak Pelayaran Pada Tengah Malam

Prosesi kedua daripada budaya pelayaran pasca kematian adalah acara puncak daripada budaya pelayaran. Acara puncak daripada budaya pelayaran dilaksanakan pada tengah malam. Pada tengah malm inilah yang dinamakan dengan pelayaran yang sesungguhnya. Pada waktu tengah malam inilah disediakan berbagai jenis jajanan, makanan dan segala bahan-bahan lainnya yang dibutuhkan dalam budaya pelayaran pasca kematian. Pada tengah malam ini pula disediakan dulangnasiq, dulang kakenan, sesajen, menyan dan lain sebagianya.

3. Pelayaran Tambahan

Pelayaran tambaham merupakan prosesi terahir yang harus dilaksanakan. Pelayaran tambahan yang dimaksudkan adalah acara hari ke 7,14,21,28,35, dan hari ke 40 daripada kematian si mayit. pelayaran tambahan dilaksnakan setelah sholat isya hingga selesi. Pelayaran tambahan juga bisa dilaksanakan hingga ke 100 hari daripada kematian si mayit. akan tetapi, kalau keluarga orang yang telah meninggal dunia tidak mampu cukup sampai 40 hari saja, bahkan kalau tidak mampu lagi cukup sampai 9 hari dari kematian si mayit.

Prosesi-prosesi tersebut dilakukan secara tertib agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.  Di dalam prosesi tersebut terdapat berbagai materi atau simbol-simbol yang digunakan dalam budaya pelayaran pasca kematian. Materi-materi atau simbol tersebut  memiliki fungsi yang berbeda dan ada pula yang sama. () -01

By: Badri_asa

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru