Perempuan Sasak dalam Tradisi Gawe

KM. Sukamulia – Merdang merupakan salah satu bentuk peranan kaum perempuan Sasak pada saat penyelenggaraan gawe. Saat seorang warga menyelenggarakan pesta (Gawe: bahasa Sasak), terdapat pembagian tugas dan fungsi yang sangat erat kaitannya dengan masalag gender. Dalam kehidupan warga sukus Sasak pada umumnya dan warga Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya pada khususnya, pembagian tugas pada saat pelaksanaan gawe sudah merupakan tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun. Dalam pelaksanaan gawe, kaum perempuan bertugas untuk menyiapkan jajan dan pada malam hari H, mereka bertugas untuk memasak nasi. Kegiatan memasak nasi pada malam hari H, inilah yang disebut dengan istilah “Merdang”.

Begitu banyak tradisi luhur yang diwariskan oleh nenek moyang suku Sasak kepada anak cucunya, salah satunya adalah tradisi gawe. Dalam pelaksanaan gawe terlihat betapa nenek moyang suku Sasak memiliki penghargaan terhadap gender. Hal ini terbukti dengan pembagian tugas yang mereka wariskan dalam tradisi gawe. Pada dasarnya, tradisi merdang merupakan tradisi yang dilakukan oleh setiap wanita suku Sasak pada saat pelaksanaan Gawe, hanya saja ahir-ahir ini tradisi tersebut tergeser oleh tradisi modern yang lebih mengutamakan matrialistis.

Pembagian tugas pada saat ada warga Sasak menyelenggarakan gawe didasarkan atas jenis kelamin, dimana kaum laki-laki bertugas untuk mengumpulkan berbagai barang kelengkapan yang dibutuhkan oleh penyelenggara gawe. Pada malam hari H (jelo gawe: bahasa Sasak), kaum laki-laki bertugas untuk memasak ikan dan lauk pauk (ares, pelalah dan sayur nangka) hingga menyajikannya kepada setiap tamu yang datang. Sedangkan kaum perempuan bertugas untuk membuaut dan mempersiapkan berbagai jenis jajan yang dibuthkan selama penyelenggaraan gawe. Pada malam hari H (jelo gawe: bahasa Sasak), kaum perempuan bertugas untuk memasak nasi, tugas inilah yang disebut dengan istilah” Merdang”.

Pada zaman dahulu, saat dilaksanakannya gawe, kaum perempuan ditugaskan untuk memasak nasi secara bergotong royong. Hanya saja, ahir-ahir ini tradisi merdang sudah mulai terlupakah sehingga tidak jarang kita saksikan tugas memasak nasi dan lauk pauk pada saat penyelenggaraan gawe diserahkan kepada catring atau orang-orang tertentu yang dianggap professional untuk melaksanakan tugas itu dengan sewa yang cukup tinggi. Hal ini membuktikan bahwa tradisi gotong royong dan kerjasama pada masyarakat suku Sasak sudah mulai mengalami degradasi dan tergantikan dengan tradisi matrialistis, dimana setiap pekerjaan dilakukan dengan tendensi matrial (bayaran). Padahal tradisi-tradisi lama, seperti merdang menyimpan nilai yang sangat luhur dan seyokyanya harus dipertahankan ditengah-tengah menggilanya moderenisasi.

Di tengah-tengah merebaknya jiwa mterialistis itu, masyarakat Dusun Sukamulia dan sekitarnya berusaha untuk tetap melestarikan tradisi-tradisi luhur yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Salah satunya adalah pelaksanaan merdang yang senantiasa mereka lakukan pada saat ada warga setempat yang menyelenggarakan gawe. Itulah sebabnya, dalam tulisan ini penulis mengambil masyarakat Dusun Sukamulia sebagai subjek. Sebenarnya, tradisi merdang dilakukan diseluruh wilayah pulau Lombok dan hingga saat ini masih banyak pulai daerah-daerah lain di sekitar pulau Lombok yang tetap konsisten menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.

Perlu diketahui bahwa pada setiap diselenggarakannya gawe pada masyarakat Dusun Sukamuli Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya, setiap penyelenggara gawe biasanya menyediakan 2 hingga 3 kwintal beras yang harus dimasak pada malam hari H (jelo gawe). Lebih-lebih jika dilaksanakannya Gawe Nyunatang (khitanan) dan Gawe Merariq (pesta perkawinan), penyelenggara gawe paling tidak menyiapkan 4 kwintal beras yang dimasak  untuk menjamu tamu yang akan menghadiri acara yang diselenggarakan. Beras sebanyak ini tidak akan bisa dimasak sendiri oleh keluarga penyelenggara gawe,sehingga dibutuhkan partisipasi kaum perempuan setempat untuk membantu penyelenggara gawe memasak beras tersebut pada malam harinya.

Pada saat pelaksanaan merdang, terlihat betapa kompaknya kaum perempuan Dusun Sukamulia yang melakukan kerjasama untuk memasak nasi (mongkak: bahasa Sukamulia), baik yang sudah tua ataupun wanita yang masih muda (dedara). Dengan jiwa kekeluargaan dan kerjasama serta canda tawa yang mesra, mereka  menyelesaikan pekerjaan itu secra bersama-sama. Merdang biasanya dimulai sejak pukul 22.00 hingga selesai, tidak jarang kegiatan ini dilaksanakan hingga pukul 03.00. Lebih-lebih pada penyelenggaraan gawe merariq dan gawe nyunatang yang umumnya membutuhkan masakan yang banyak.

Kegiatan merdang biasanya dipimpin oleh seorang pranata adat yang disebut dengan Inan Nasiq yang dijabat oleh salah seorang perempuan yang dipercayai mampu mengkoordinir warga perempuan lainnya untuk menyelesaikan tugas memasak nasi pada saat penyelenggaraan gawe. Dalam hal ini, Inan Nasiq bertugas memberikan pengarahan dan intruksi kepada setiap warga yang ikut serta dalam kegiatan itu. Inan Nasiq juga bertugas untuk menyajikan nasi kepada setiap tamu yang datang pada hari gawe hingga gawe peragat (selesai).

Setiap warga perempuan yang tidak aktif dalam pelaksanaan kegiatan itu akan dikenai sanksi social. Jika nanti ia atau keluarganya melaksanakan gawe maka perempuan-perempuan lainnya tidak akan mau keluar untuk membantunya memasak nasi. Inilah bentuk sansi social yang diberikan kepada warga yang malas untuk membantu warga lainnya dalam pelaksanaan tradisi merdang. Sanksi social inilah yang kemudian membuat tradisi merdang dan tradisi-tradisi lain yang dilaksanakan dalam lingkup masyarakat Dusun Sukamulia dan sekitarnya tetap lestari. Dengan adanya sanksi social ini, warga merasa takut dan enggan untuk tidak membantu warga lainnya sebab suatu saat mereka pasti akan melaksanakan atau menyelenggarakan gawe yang dalam penyelesaiannya ia sangat membutuhkan partisipasi dan bantuan dari warga lainnya.

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru