”Mulang” Sistem Perkawinan Masyarakat Bayan

KM. Sukamulia – Masyarakat Bayan sangat terkenal dengan keunikan budaya mereka. Kehidupan masyarakat Bayan penuh dengan tradisi yang tidak ditemukan dalam kehidupan masyarakat lainnya. Selain terkenal dengan keunikan adat istiadat dan budayanya, masyarakat Bayan juga terkenal dengan konsep religi mereka yang dikenal dengan istilah Waktu Telu/Wetu Telu. Bahkan konsep Waktu Telu/Wetu Telu inilah yang sangat mempengaruhi kehidupan sosial budaya mereka, termasuk dalam pelaksanaan sistem perkawinannya.

Sistem perkawinan yang dianut oleh masyrakat Bayan disebut dengan istilah Mulang yang artinya lari/melarikan. Dengan demikian sistem perkawinan ini merupakan tradisi perkawinan Kawin Lari, layaknya sistem perkawinan masyarakat Suku Sasak lainnya. Hanya saja, sistem Mulang memiliki banyak sekali perbedaan dengan sistem perkawinan masyarakat suku Sasak secara umum, terutama dalam tahapan-tahapan pelaksanaannya. Mulang yang merupakan sistem perkawinan masyarakat Bayan dilaksanakan oleh masyarakat yang berada di sekitar wilayah Kecamatan Bayan dan beberapa desa yang ada di wilayah Kecamatan Sembalun, seperti Desa Sajang dan Desa Bilok Petung sebab pada zaman dahulu wilayah ini termasuk dalam wilayah Adat dan wilayah Kedistrikan Bayan.

Untuk itu artikel ini akan memaparkan tahapan-tahapan pelaksanaan sistem perkawinan masyarakat Bayan yang disebut dengan istilah Mulang dengan tujuan supaya kita semua dapat mengetahu dan memahami tata cara pelaksanaan perkawinan yang dilakukan oleh masyarakat setepat. Tahapan-tahapan sistem perkawinan masyarakat Bayan terdiri dari:

1. Mulang

Mualng berarti menculik, melarikan atau membawa lari. Inilah tahap awal system perkawinan yang dianut oleh masyarakat Bayan dan umumnya masyarakat suku Sasak. Pada tahap ini pihak mempelai laki-laki menculik gadis (calon mempelai perempuan) dan dilarikan serta disembunyikan di tempat persembunyian. Penculikan ini dianggap berhasil bila calon mempelai laki-laki dan perempuan tidak tertangkap basah oleh keluarga mempelai perempuan dan mereka berdua mampu menyembunyikan diri di suatu tempat yang aman dari jangkauan pihak keluarga mempelai perempuan.

Masyarakat Bayan mempunyai aturan tersendiri dalam masalah ini, dimana seorang laki-laki diperbolehkan melarikan gadis dengan tujuan dinikahi pada waktu-wakt yang telah ditetapkan. Apabila pihak mempelai laki-laki melanggar aturan itu maka ia akan dikenai denda sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Waktu pelarian yang ditetapkan oleh aturan Adat Bayan adalah mulai sejak menjelang shalat Magrib hingga jam 12 malam.

2. Penyeboan

Penyeboan yaitu menyembunyikan calon mempelai perempuan di tempat yang aman. Biasanya calon pengantin perempuan disembunyikan di rumah keluarga calon pengantin laki-laki yang agak jauh dari rumah tempat tinggalnya, baik di rumah paman, saudara, ataupun keluarga lain yang memiliki hubungan darah atau garis keturunannya atau bisa juga dirumah tetangga.Calon pengantin laki-laki tidak boleh langsung membawa si gadis yang telah dilarikan langsung ke rumahnya sebab dalam pandangan adat, itu adalah hal yang tabu (Pemaliq). Menurut persepsi masyarakat setempat jika si gadis langsung dibawa ke rumah calon pengantin laki-laki maka kedua pihak akan mendapat musibah (Bala) baik berupa penyakit ataupun hal-hal yang tidak baik. Selain itu Penyeboan ini dilakukan diluar rumah calon pengantin laki-laki agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk menghindari fitnah. Penyeboan dilakukan hingga selesai dilakukan Sorong Serah Ajikrama.

3. Mejati

Tahap elanjutnya adalah Mejati. Mejati adalah pemberi tahuan orang tua atau keluarga si gadis kepada Sana Kadang Bangsa atau semua keluarga dekat mempelai perempuan. Tujuan diadakannya Mejati adalah untuk memberitahukan tentang anak gadisnya yang telah hilang ata dilarikan. Mejati ini dilakukan oleh pihak atau keluarga mempelai perempuan yang telah di bawa lari, pemberitahuan itu dilakukan hanya untuk membertahukan keberadaan si gadis yangtelah dilarikan kepada keluarganya yang ada di sekitar kampong tempat tinggal mempelai laki-laki tanpa melibatkan pihak laki-laki atau pihak yang melarikan si gadis.

Dalam pelaksanaan Mejati ini pihak orang tua calon mempelai perempuan mengumpulkan keluarga dekatnya atau Sana Kadang Bangsa beserta para Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan tetangga dekat di rumahnya. Sebelum semua keluarga datang maka, acara Mejati atau pemberi tahuan tersebut belum bisa dilakukan kecuali jika keluarga dekat atau pihak-pihak yang bersangkutan telah mengadakan pernyataan bahwa Ia tidak bisa menghadiri acara tersebut dengan alasan sakit. Maka setelah semua pihak berkumpul barulah orang tua Si gadis sebagai tuan rumah membuka acara dan memberitahukan bahwa anaknya telah dilarikan orang (Merariq), adapun acara ini biasa dilakukan pada keesokan hari setelah calon mempelai perempuan itu dilarikan.

4. Tobat Lekoq Buaq

Tiga hari setelah berada dalam penyeboan seorang Kiyai diundang ke tempat dimana calon mempelai perempuan disembunyikan. Kiyai diundang untuk memberkati kedua mempelai. Acara ini dinamakan Mentikah Lekoq Buaq atau Tobat Lekoq Buaq. Pada kegiatan ini, seorang Kiyai mengadakan ritual Bedak Kramas dan secara simbolis memandikan kedua pasangan dengan memerciki santan kelapa di atas kepala kedua mempelai, ritual ini dinamakan Tobat Kakas. Acara ini biasa dihadiri oleh kedua mempelai, seorang Kiyai sebagai pemimpin acara dan dua orang Tokoh Adat sebagai saksi. Setelah ritual ini dilakukan, kedua mempelai diperbolehkan berkumpul di rumah mempelai laki-laki. Dan ada pula yang mengatakan bahwa setelah acara ini dilakukan, kedua mempelai diperbolehkan berkumpul layaknya suami istri yang telah melakukan pernikahan secara agama namun mereka belum boleh bertemu dengan keluarga mempelai perempuan.

5. Nyelabar

Tahapan berikutnya, setelah prosesi acara Tobat Lekoq Buaq di laksanakan barulah diadakan Selabar/Nyelabar yaitu pada hari ketiga pihak laki-laki memberitahukan kepada keluarga pihak perempuan tentang keberadaan anaknya yang telah di Pulang atau dilarikan oleh anak dari pihak laki-laki. Selabar ini adalah pemberitahuan yang dilakukan oleh pihak keluarga pengantin laki-laki kepada Sana Kadang Bangsa atau keluarga pengantin perempuan. Dalam hal ini keluarga laki-laki mengirim utusan untuk membawa pesan atau kabar kepada keluarga perempuan, yang biasa diutus untuk menyampaikan pesan tersebut adalah Keliang Dusu/Kepala Dusun pihak mempelai laki-laki. Biasanya ia akan menemui Keliang Dusu/Kepala Dusun pihak mempelai perempuan dan selanjutnya keluarga pihak laki-laki bersama-sama dengan kedua Keliang Dusun membawa informasi tersebut kepada kedua orang tua calon mempelai perempuan.

Setelah pihak laki-laki datang memberitahukan tentang keberadaan anak gadisnya yang telah di Pulang atau dilarikan, maka pihak perempuan juga mengadakan Selabar kepada Sana Kadang Bangsa yaitu semua pihak yang memiliki hubungan keluarga dari garis keturunan perempuan. Selanjutnya pada malam harinya keluarga pihak perempuan atau yang disebut dengan Sana Kada Bangsa, Tokoh Adat, Pemekel Adat, Kiyai, dan pihak pemerintahan kampung dikumpulkan dan di sanalah mereka diberitahu tentang keberadaan Si gadis yang telah dilarikan, selanjutnya mereka merundingkan tentang Sajikrama yang akan di minta kepada pihak laki-laki.

Dalam aturan perkawinan masyarakat Bayan, jika setelah tiga hari pihak laki-laki tidak memberitahukan tentang keberadaan si gadis atau dengan ungkapan yang sederhan jika pihak laki-laki terlambat memberikan Selabar kepada pihak keluarga mempelai perempuan, maka Ia termasukmelanggar adat dan setiap orang yang melanggar adat akan didenda atau dihukum dengan sanksi sosial. Adapun denda untuk pihak laki-laki yang terlambat memberikan Selabar adalah denda Kampu dan denda Jruman, dimana denda Kampu sebanyak 49.000 Kepeng Bolong (Rp 490.000), denda ini dimasukkan ke kas Kampu atau kampung. Sedangkan denda Jeruman sebesar Setalen Kepeng Bolong (5.000) yang dinilaikan dengan uang sekarang sebesar Rp 500.000, uang tersebut diberikan kepada orang tua si gadis.

6. Ngraosang Saji Krama

Pada tahap ini wakil atau kerabat pihak pria mendatangi orang tua mempelai wanita untuk membicarakan tanggal yang tepat bagi perundingan denda kawin lari. Pada tanggal yang di sepakati kedua belah pihak ahli waris dengan disaksikan oleh Kliang Dusun, Pemangku, dan Toaq Lokaq dari pihak gadis berkumpul di kediaman pihak mempelai perempuan dengan tujuan untuk membicarakan dan menetapkan perincian Sajikrama yang harus dibayar oleh keluarga pihak mempelai laki-laki kepda pihak keluarga mempelai perempuan.

7. Selamet Arta

Selamat Arta dilakukan setelah keluarga mempelai laki-laki dapat mengumpulkan harta (Arta) sesuai dengan ketentuan Sajikrama yang diiginkan oleh keluarga mempelai perempuan. Selamat Arta dilakukan untuk meminta keselamatan atas harta yang telah terkumpul sebelum diserahkan kepada pihak mempelai perempuan. Selamat Arta mereupakan istilah yang dipakai oleh masyarakat Bayan sebagai nama dari sebuah acara yang dilakukan dengan cara mengadakan pesta kecil-kecilan, dimana dalam acara ini diadakan Periapan Selamet Arta yaitu diadakan acara makan bersama di rumah keluarga mempelai laki-laki. Hal ini menandakan bahwa harta (Arta) untuk membayar Sajikrama kepada pihak perempuan telah terkumpul oleh utusan atau pihak yang ditunjuk oleh pihak keluarga laki-laki untuk mengumpulkan.

8. Sorong Serah Ajikrama

Sorong Serah Ajikrama adalah penyerahan harta (Sajikrama) oleh pihak mempelai laki-laki kepada pihak mempelai perempuan sebagaimana jumlah Sajikrama yang telah ditetapkan oleh keluarga mempelai perempuan yang telah disampaikan oleh utusan mempelai perempuan (Pembayun) kepada pihak laki-laki. Sorong Serah Ajikrame di lakukan setelah diadakanna Selamet Arta di kediaman pihak  mempelai laki-laki. Sajikrama dibawa dengan jalan kaki sampai ke rumah pihak mempelai perempuan dengan diiringi oleh arak-arakan kesenian yang dibawa oleh keluarga mempelai laki-laki. Dalam pelaksanaan Sorong Serah Ajikrame seorang Pembayun ditujuk selaku pemimpin dalam penyerahan Sajikrama ini dimana Pembayun ini bertugas sebagai juru bicara dalam penyerahan Sajikrama tersebut.

Prosesi pelaksanan Sorong Serah Ajikrame ini sangat rapi dan teratur, hal ini menggambarkan bahwa tradisi adat masyarakat Bayan memang sangat teratur dan tertata rapi. Selanjutnya Pembayun sebagai ketua rombongan berada paling depan dengan menggunakan pakaian adat, dengan langkah yang teratur. Di belakang Pembayun berjalan kelompok pria dari pihak keluarga mempelai laki-laki dengan barisan yang rapi sambil membawa harta (Arta) atau barang-barang Sajikrama berupa tombak, keranjang bambu yang berisi perlengkapan untuk Gawe Mengkawin seperti beras dan ragi, piring-piring yang penuh dengan uang bolong, serta pada bagian baris paling belakang membawa kerbau (Wirang). Rombongan ini diiringi oleh kesenian tradisional yaitu Gamelan/Gendang Beleq.

Setelah rombongan tersebut sampai di rumah mempelai perempuan barulah ia berhenti dan disambut langsung oleh Pembayun dari pihak mempelai perempuan, kemudian mereka dipersilahkan duduk pada tempat yang telah disediakan. Setelah itu Pembayun dari kedua belah pihak duduk berhadap-hadapan, sedangkan rombongan lainnya duduk di belakang Pembayun beserta Sana Kadang Bangsa pihakmempelai perempuan. Setelah keadaan bisa dibilang tenang, maka Pembayun dari pihak laki-laki segera membuka acara tersebut dan selanjutnya kedua Pembayun baik dari pihak lagi maupun perempuan terlibat dalam sebuah dialog yang sangat seru dan panjang. Adapun bahasa yang digunakan adalah bahasa asli Sasak atau bahasa alus yang sulit kita mengerti apa maksudnya. Klan dari pihak perempuan seperti keluarga dekat, Pemangku Adat, Pembekel Adat, dan Toaq Lokaq yang kesemuanya duduk diatas Berugaq, setelah debat selesai, maka Pembayun dari pihak laki-laki menyerahkan Sajikrama yang telah ditentukan oleh keluarga mempelai wanita. Selanjutnya Sajikrama tersebut diterima oleh Pembayun dari pihak mempelai perempuan, kemudian Pembayun mengutus dua orang dari keluarga dekat mempelai perempuan untuk memeriksa kelengkapan barang-barang Sajikrama tersebut apakah sudah pas ataukah tidak dan jika barang-barang Sajikrama tersebut ada kekurangannya, maka harus segera dilengkapi dan jika barang-barang Sajikrama-nya sudah sesuai, maka lunas-lah hutang dari keluarga mempelai laki-laki. 

Lebih lanjut kedua utusan tersebut melaporkan tentang kelengkapan Sajikrama yang telah dibawa oleh pihak laki-laki kepada wakil mempelai wanita yang duduk di atas Berugaq Agung yaitu keluarga dekat, Pemangku Adat, Pembekel Adat, dan Toaq Lokaq. Sebelum acara ini ditutup Pembekel Adat memeriksa benda-benda tersebut secara seksama dan dilakukan berulang-ulang sampai para hadirin benar-benar menyaksikan atas keberadaan barang-barang tersebut. Selanjutnya Dedosan atau kepeng bolong yang dibungkus dengan kain putih dibuka oleh Penghulu sebagai perlambangan bahwa segala dosa kedua mempelai selama berhubungan telah terhapuskan, lalu kepeng bolong tersebut dibagi-bagikan kepada pihak keluarga perempuan. Akhir dari acara ini adalah doa bersama yang dipimpin oleh Kiyai Kagungan dari pihak mempela perempuan dan setelah doa selesai kedua belah pihak saling berjabat tangan. Dengan demikian barulah utusan dari pihak keluarga laki-laki beseta rombongannya boleh beranjak dari tempat itu dan selanjutnya berpamitan pulang.

Perlu dikeyahui bahwa, apabila pihak mempelai laki-laki sudah melunasi Sorong Serah Ajikrama maka ia diperbolehkan untuk melaksanakan Nika Adat dan Tampah Wirang. Namun jika pihak keluarga mempelai laki-laki belum mampu membayar Sajikrama yang telah ditetapkan maka ia haru menangguhkan pelaksanaan Nikah Adat dan Tampah Wirang hingga ia mampu membayar semua barang Sajikrama yang telah ditetapkan oleh keluarga mempelai perempuan. Hal yang sangat berat dalam tradisi perkawinan masyarakat Bayan adaah pelaksanaan Nikah Adat dan Gawe Tampah Wirang, acara ini merupakan satu rangkaian dari acara puncak prosesi perkawinan masyarakat Bayan. Namun demikian acara ini boleh dilakukan kapan saja, hanya saja sebelum dilaksanakan kedua rangkaian acara tersebut, legalitas perkawinan kedua mempelai tetap diragukan oleh masyarakat adat Bayan dan bahkan jika sudah tiga tahun berlalu setelah pernikahan agama dilangsungkan namun pihak mempelai laki-laki belum mampu melaksanakan nikah adat dan Tampah Wirang maka pihak keluarga mempelai perempuan boleh mengambil anaknya/pengantil perempuan. Sebelum seseorang melakukan nikah adat dan Gawe Tampah Wirang maka ia tetap dikatakan Boda (kotor) sehingga mereka tidak diperbolehkan untuk naik ke Berugak Kagungan pada saat dilaksanakannya tradisi-tradisi adat Bayan.

9. Mentikah Agama

Mentikah Agama adalah pernikahan yang dilakukan sesuai dengan aturan hukum Islam. Pernikahan secara agama ini akan dilaksanakan apabila sudah dilaksanaknnya sorong Serah Ajikrama oleh pihak mepelai laki-laki.  Prosesi Mentikah Agama ini sama halnya dengan pernikahan yang dilakukan secara umum oleh masyarakat yang menganut agama islam. Dalam kehidupan masyarakat Bayan, Mentikah Agama biasa dilaksanakan di kediaman mempelai laki-laki dan pihak keluarga mempelai perempuan diundang untuk menghadiri dan menyaksikan acara itu.

10. Gawe Tampah Wirang

Tampah Wirang merupakan puncak acara prosesi perkawinan masyarakat Bayan. Acara ini biasa dirangkaiakn dengan acara Mentikah Adat atau melangsungkan pernikahan secara adat. Biasanya, acara ini diselenggarakan setelah pihak mempelai laki-laki mampu melunasi Sajikrama yang telah ditetapkan oleh pihak mempelai perempuan. Setelah semua barang Sajikrama bisa dibayar maka kedua mempelai akan melakukan pemberkatan perkawinan dengan melaksanakan pernihakan secara adat yang dilaksanakan di rumah pihak orang tua mempelai perempuan dengan penyembelihan kerbau sebagai simbol penebus rasa malu. Jika keluarga mempelai laki-laki tidak mampu menyelenggarakan acara Tampah Wirang maka mereka dapat menangguhkan acara tersebut hingga mereka merasa siap dan mempu melaksanakannya (Selengkapnya baca artikel yang berjudul “Tampah Wirang”. [] - 01

_By. Asri The Gila

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru