Tradisi Mengempas Menanga Mual

KM. Sukamulia - Salah satu tradisi yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Desa Akar-Akar adalah tradisi Mengempas Menanga Mual. Tradisi ini merupakan kegiatan yang berhubungan dengan masalah pelestarian lingkungan hidup. Acara ini dilaksanakan di muara sungai yang disebut dengan nama Menanga Mual yang berada di Desa Akar-Akar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara.

Menanga Mual merupakan salah satu sungai yang sangat besar di wilayah Desa Akar-Akar. Menurut kepercayaan masyarakat Akar-Akar, Menanga Mual merupakan sungai yang memiliki tiga cabang, dimana cabang Menanga Mual menuju ke arah timur dan barat, sedangkan induknya berada di Desa Loloan Kecamatan Bayan. Menanga Mual adalah sumber air yang sangat besar, oleh sebab itu mereka mempercayai jika Menanga Mual ini tidak di buka (Empas dalam bahsa setempat) maka dikhawatirkan akan terjadi bendungan air yang besar dan akan mengakibatkan banjir yang dapat membahayakan nasib warga sekitar. Perlu diketahui bahwa setiap tahun muara Menanga Mual tertutup oleh pasir yang dibawa oleh ombak, sehingga jika itu tidak dibuka, maka akan terjadi bendungan air yang besar dan suatu saat akan meluap.

Latar belakang dilaksanakannya tradisi Mengampas Menanga Mual adalah karena pada masa lalu di Desa Akar-Akar dan sekitarnya pernah terjadi bencana kemarau yang terjadi selama 7 tahun. Karena itu, masyarakat setempat melakukan berbagai ritual di setiap tempat yang mereka anggap keramat, namun hanya di Aci-Aci (mata air) Menanga Mual doa dan permohonan mereka diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dari pengalaman inilah masyarakat Desa Akar-Akar mengambil kesimpulan bahwa Aci-Aci Menanga Mual adalah tempat yang sangat keramat dan pada tahun-tahun berikutnya mereka melaksanakan tradisi yang sama pada waktu dan dengan ritual yang sama pula dan hingga saat ini tradisi tersebut terus dilaksanakan setia tahun (tepatnya pada sekitar bulan Dzulhijjah) dan dikenal dengan nama tradisi Mengampas Menanga Mual yang tujuan utamanya untuk meminta hujan dan keselamatan.

Tujuan utama dilaksanakanny tradisi Mengampas Menanga Mual adalah: a) untuk meminta hujan dan kesuburan, b) untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup, c) Untuk memberi pelajatan kepada masyarakat tentang pentingnya nilai keadilan, dan d) untuk menjalin dan memper erat tali silaturrahmi antara semua anggota masyarakat.

Prosesi pelaksanaan tradisi Mengampas Menanga Mual, dimulai dengan dilaksanakannya Gundem atau musyawarah pada awal bulan Dzulhijjah biasanya pada hari Sabtu, untuk membicarakan mengenai waktu perburuan dan kesiapan pelaksanaan tradisi Mengampas Menanga Mual. Setalah itu barulah dilakukan perburuan selama tujuh hari yang dimulai dari hari Selasa sampai hari Senin berikutnya di Pawang Geguruik, Pawang Tangggan Pejaringan, dan Pawang Akar-Akar (pawang = hutan). Acara ketiga adalah Nyampang yaitu pemberitahuan kepada Amak Lokak Semokan dan Amak Lokak Batu Tepak tentang rencana akan diadakannya Mengampas Menanga Mual oleh Amak Lokak Tanjung Busur bersama masyarakat Akar-Akar. Acar selanjutny adalah Mengampas Menanga Mual yang dilakukan pada hari Rabu dengan prosesi yang cukup panjang, dan diahiri dengan Selamet Nyampet yang dilakukan seminggu setelah Mengampas Menanga Mual tepatnya pada hari Jum’at di rumah Amak Lokak Tanjung Busur.

Acara inti dari tradisi ini adalah acara Mengempas Menanga Mual. Kata Mengempas Menanga Mual merupakan bahasa asli masyarakat Akar-Akar yang dalam bahasa Indonesia berarti membuka muara menanga mual yang tertutup oleh pasir. Pada pagi hari di hari Rabu, Amak Lokak Batu Tepak, Amak Lokak Tanjung Busur, Amak Lokak Telaga Longkak, dan Pembekel Adat Batu Gelumpang berkumpul di Menanga Mual diiringi oleh masyarakat banyak. Keempat orang tersebut mengambil tempat di sebelah barat mulut atau muara Menanga Mual yang tertutup oleh pasir, mereka berempat saling berhadap-hadapan. Setelah meletakkan kemenyan dan membaca dzikir serta doa, keempat orang ini memberikan isyarakat kepada warga untuk memulai kegiatan Mengempas Menanga Mual, dengan demikian dimulailah kegiatan inti tradisi ini.

Hal yang unik dalam tradisi ini adalah setelah muara Menanga Mual terbuka, mereka menunggu air sunagi itu berkurang dan setelah air sungai mulai kurang. Ketua Adat memberikan isyarakat kepada masyarakat supaya memulai perlombaan menangkap ikan di dalam muara Menanga Mual. Itulah saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Desa Akar-Akar dan sekitarnya. Selain menangkap ikan dan isi sungai lainnya, masyarakat juga mengeluarkan sampah-sampah yang terdapat di dalam sungai, supaya aliran air sungai lancar dan tidak terhambat lagi untuk mengalir ke lautan.

Setelah masyarakat selesai menangkap ikan dan isi sungai, Amak Lokak Tanjung Busur memerintahkan kepada 2 atau 3 orang embannya untuk mengambil ikan kepada setiap orang yang ikut menangkap ikan di Menanga Mual. Emban itu mengambil satu atau dua ikan pada setiap orang. Setelah ikan terkumpul, ikan tersebut dibagi oleh empat orang tokoh adat yang sangat besar peranannya dalam pelaksanaan tardisi Mengempas Menanga Mual. Ikan itu dibagi rata oleh keempat tokoh adat itu (Amak Lokak Tanjung Busur, Amak Lokak Telaga Longkak, Amak Lokak Batu Tepak dan Pemekel Adat Batu Gelumpang) beserta emban yang membantunya untuk mengumpulkan ikan tersebut, selain itu setiap ketua RT juga diberi bagian yang sama.

Setelah selesainya acara menangkap ikan, keempat orang tokoh adat tersebut mengajak masyarakat untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka bersama-sama berbaris di pinggir sungai, selanjutnya mereka semua duduk dengan khidmat. Empat orang tokoh adat dimaksud memimpin doa secara bergiliran, dimana yang mengawali adalah Amak Lokak Tanjung Busur, diteruskan Amak Lokak Batu Teapk, Amak Lokak Telaga Longkak, Pemangku Adat Batu Gelumpang, dan diahiri oleh seorang Kiyai Adat dari Dusun Semokan. Selesai berdoa, maka masyarakat bubar dan pulang menuju rumah masing-masing dengan demikian berahirlah acara inti tradisi Mengempas Menanga Mual yang syarat dengan makna pelestarian lingkungan hidup.

Pelaksanaan tradisi Mengempas Menanga Mual memiliki peranan yang besar bagi pelestarian lingkungan hidup masyarakat Desa Akar-Akar. Dengan dibuka dan dibersihkannya muara sungai Menanga Mual, maka ketika datang musim hujan air yang berasal dari gunung atau air yang berasal dari limpahan air hujan tidak terbendung sebab muara Menanga Mual telah dibuka dan dibersihkan. Dengan demikian maka limpahan air hujan yang berasal dari empat sungai besar itu langsung mengalir ke lautan melalu muara sungai Menanga Mual sehingga masyarakat Desa Akar-Akar terbebas luapan banjir yang dapat merusak lingkungan mereka. [] - 05

_By. Asri The Gila_

 

 

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru