Prosesi Ritual Maulid Adat di Gumi Paer Sesait

Prosesi Ritual Maulid Adat di Gumi Paer Sesait

Bagian ke-4

Km dayan gunung. Setelah berkurban (Sembeleh Kok), dilanjutkan dengan Mbau Praja Mama dengan cara mengejar dan menangkap setiap laki-laki yang belum aqil baliq sebanyak tiga orang yang akan dijadikan putra Mahkota, untuk disandingkan dengan Praja Nina (yang sudah terpilih pada hari pertama saat menutu pare bulu) sebagai Praja Mulud (sepasang putra-putri mahkota).

Praja Mulud bertugas sebagai penjaga pintu Mesjid Kuno dengan membawa Payung Agung dan menjaganya dari sentuhan orang lain yang melewati pintu Mesjid Kuno. Jika Payung Praja Mulud (Payung Agung) disentuh orang lain, maka diberi sanksi yaitu dipukul menggunakan Pemecut (Penjalin yang diberi tali) oleh Praja Mulud. Sementara yang dua orang Praja itu ditempatkan di tempat imam sebagai penjaga abu dedeng (sebuah wadah untuk menaruh abu api/au yang biasa digunakan para ibu untuk memberikan kehangatan bagi bayinya ketika baru lahir).

Menjelang sore hari pada hari terakhir dari ritual Maulid Adat di wet Sesait ini, kemudian dilanjutkan dengan Naikang Dulang Nasi Aji dengan wadah dulang berjumlah tiga buah berkaki satu yang dikhususkan bagi Tau Lokak Empat; (Pemusungan, Mangkubumi, Penghulu dan Jintaka), dimana seluruh isinya terdiri dari apa saja yang ada di alam ini. Adapun yang bertugas membuat atau yang merakitnya dilakukan oleh Praja Mangku dibantu Tau Lokak Empat serta tidak boleh berbicara sepatah katapun. “Jadi ketika butuh bantuan harus menggunakan kode isyarat satu sama lainnya,”sebut Wahab.

Setelah semua persiapan sudah lengkap, maka ritual naikkan nasi aji sebagai puncak pelaksanaan Maulid Adat pun di laksanakan. Tau Lokak Empat (Mangkubumi, Pemusungan, Penghulu dan Jintaka) sebelumnya sudah berada di Berugak Agung yang ada di dalam Kampu. Usai sholat Magrib berjamaah di Musholla depan Kampu, maka iring-iringan nasi aji sebagai puncak pelaksanaan Maulid Adat diarak menuju Mesjid Kuno. Utusan Mangkubumi berada paling depan sambil membawa lampu lilit yang terbuat dari kapas dan buah jarak pagar, dengan 2 orang Praja Mulud pembawa Bokor (Pebuan) yang akan menempati mimbar dan satu orang Praja pemegang Payung Agung berada di belakangnya. Kemudian di ikuti Mangku Kremean dibelakangnya dan masyarakat umum termasuk para undangan dari komunitas adat lainya, seperti Bayan,Gumantar,Pansor dan Soloh.

Waktu Naikang Nasi Aji ke Mesjid Kuno ini, diyakini yaitu pada waktu Gugur Kembang Waru ( waktu menjelang Maghrib). Prosesi ritualpun berakhir dan ditutup dengan Do’a Maulid oleh Penghulu Adat.

Sementara proses ritual sedang berlangsung di dalam Mesjid Kuno, bunyi-bunyian gong dua yang berada di selatan Mesjid Kuno pun terus di bunyikan hingga selesainya pelaksanaan ritual. Kaum hawa dari berbagai usia pun tidak ketinggalan, mereka secara spontan menari di halaman depan Mesjid Kuno dengan tarian khas ritual Maulid Adat. Tarian yang mereka lakukan pun berbeda dengan tarian Maulid Adat di wet Gumantar.

Usai acara, masyarakatpun bubar. Sambil keluar Mesjid harus hati-hai, jangan sampai menyentuh payung Agung yang berada di pintu keluar yang dijaga oleh Praja Mulud.”Siapa saja yang masuk dalam Mesjid Kuno Sesait dalam acara ritual Maulid Adat setiap tahunnya, ketika keluar tidak boleh menyentuh Payung Agung, alasannya itu pemalik dan yang namanya pemalik itu tidak boleh,”terang Rahim alias A.Rahini yang merupakan tokoh adat Sesait keturunan Raja Sesait yang ke 27 Balok Pa’at. [] - 05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru