Bales Sesangi

KM. Sukamulia – Bales Sesangi merupakan salah satu hal yang termuat dalam tatanan budaya masyarakat di kampung penulis. Bales Sesangi adalah kegiatan membayar nazar ke tempat dimana nazar itu diucapkan. Dengan demikian Bales Sesangi sama artinya dengan membayar nazar, kegiatan ini akan dilakukan apabila nazar yang diucapkan oleh seseorang terbayar atau terkabul. Masyarakat kampung saya percaya bahwa jika nazar sudah terkabul namun si penazar tidak membayar nazar itu maka ia akan dikenai bala (mara bahaya berupa penyakit).

Sejak dua minggu setelah adik saya (Sahlim) diwisuda ibu kami tiba-tiba sakit, model penyakit beliau agak membingungkan dimana pada siang hari badan beliau tiba-tiba lemas dan katanya beliau tidak merasakan apa-apa/mati rasa kalau sakit itu datang. Melihat kondisi beliau yang demikian, kami membawa beliau berobat ke sana kemari bahkan kami sudah membawa beliau ke dokter spesialis namun jawaban sang dokter sama, mereka mengatakan bahwa secara media ibu kami tidak terkena penyakit apa-apa. Hal itu membuat saya dan kakak tertua saya bingung dan dalam kebingungan itu kami mencoba meminta petunjuk kepada orang pintar (dukun/belian), ada yang mengatakan bahwa ibu kami terkena sihir dan macem. Mendengar keterangan tersebut kami mencoba membawa ibu berobat ke dukun-dukun terkenal di wilayah kami namun al-hasil beliau tidak kunjung sembuh namun kami tidak berputus asa dengan keadaan itu, kakak saya terus berusaha mencari tahu apa penyebab sakit yang beliau derita.

Singkat cerita, dua minggu yang lalu kakak tertua saya (Kadri) menghubungi saya via handpone, beliau memberitahu saya bahwa dia sudah mendatangi dan bertanya kepada salah seorang dukun yang bisa dibilang mahir dalam dunia terawang menerwang. Setelah sang dukun menerawang (gegitain: bahasa Pohgading Timur) maka beliau memberitahu kakak saya bahwa ibu kami dicari oleh Mumbul (nama tempat) karena beliau pernah mengucapkan nazar di tempat itu, hal itulah yang diberitahukan oleh Kadri kepada saya.

Mendengar cerita kakak saya itu, saya langsung mengajak adik saya (Badri dan Sahlim) pulang sebab waktu itu kami berada di tempat kerja (Kokok Putik). Sesampai di rumah, kami menemukan ibu dalam keadaan yang cukup lemah. Saya kemudian bertanya kepada beliau, apakah betul beliau pernah berdoa dan mengucap nazar di Mumbul dan beliaupun menceritakannya kepada kami bahwa sewaktu saya kelas 1 SMP dan kedua adik saya (Badri dan Sahlim) masih duduk di bangku SD, beliau pernah berjanji di atas sumur Mumbul. “Ya Allah di tempat ini saya memohon keridaan Mu, jadikanlah tiga orang putra saya (Asri, Badri, Sahlim) menjadi orang yang berguna, berikanlah kami rizki dan kekuatan sehingga mereka bertiga dapat menjadi sarjan dan apabila mereka bertiga sudah menjadi sarjana maka saya berjanji akan mengadakan selamatan/dzikiran di tempat ini”. Ah ibu saya ada-ada saja, mendengar cerita beliau ahirnya kami memutuskan untuk membawa beliau kembali ke tempat itu guna membayar nazar-nya.

Ahirnya pada hari Minggu tanggal 21 Desember 2014 kami sekeluarga diberikan kesehatan dan waktu yang luang oleh Allah SWT. Pagi-pagi kami berangkat menuju tempat itu dan sesampai di sana kami menemukan banyak orang dengan tujuan yang sama, yaitu Bales Sesangi (membayar nazar). Saya, Badri, Sahlim,dan kak tertua saya membawa ibu turun ke sungai sebab Sumur Mumbul itu berada di tengah sungai yang apabila air laut pasang maka sumur ini berada di tengah luapan air sungai dan apabila air laut surut maka barulah kita dapat menjangkau sumur tersebut sebab sungai tempat dimana sumur itu berada cukup dalam dan berlumpur. Sesampai di bawah, ibu saya berucap “Ya Allah nenek dikaji, ne kaji dateng bayar janjin kaji sik laeq, kaji mohon keselametan dait sehatang kaji lekan penyakit siq kaji derita (Ya Allah tuhan kami, sekarang kami datang untuk membayar janji yang pernah kami ucapkan pada waktu terdahulu, kami memohon keselamatan dan sembuhkanlah kami dari penyakit yang kami derit)”. Demikianlah doa yang diucapkan ibu dan kemudian mengusap mukanya dengan air sungai itu, beliau juga menyuruh kami bertiga untuk membasuh muka dengan air sungai itu.

Setelah itu, kami naik dari sungai dan mengadakan dzikiran di atas tanah lapang yang berada di sekitar sumur Mumbul itu. Selesai melakukan dzikir dan doa maka kami pun menikmati alakadar yang kami siapkan dari rumah dan setelah semuanya selesai maka kami langsung pulang. Singkat cerita, saat hari sudah mulai sore kami melihat keadaan ibu lebih membaik dan Alhamdulillah pagi hari ini ibu kami sudah sehat seperti sedia kala bahkan tadi pagi-pagi sekali beliau pergi ke sawah untuk membantu kakak saya memetik kacang panjang. Kenyataan ini kemudian membuat saya agak percaya kepada yang namanya sesangi sebab selama ini saya agak ragu akan hal itu. Mengucapkan nazar dan kemudian nazar itu terkabulkan kemudian tidak nazar itu tidak dibalas/bayar maka itu akan menimbulkan sesuatu hal yang kurang baik bagi penazarnya. Oleh sebab itu, siapa saja diantara kita yang pernah bernazar lalu nazar kita terpenuhi maka segeralah utnuk membayarnya sebab itu adalah janji kepada Allah SWT.

Semoga informasi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan semoga pula kita tidak lupa atas nazar yang pernah kita ucapkan, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita sekalian, amin ya robbal alami dan Salam dari Kampung. [] - 05

_By. Asri The Gila_

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru