Senandung Ayat Lewat "Bekayat"

Narmada KM, Meski malam sudah mulai larut namun merdunya senandung syair hikayat membuat suasana malam itu Sabtu, 06 Desember 2014 didusun Sembung Barat desa Sembung Kecamatan Narmada menjadi sangat berbeda, mata warga seakan tidak mau terpejam karena terlena bait demi bait syair hikayat yang terdengan jelas melalui pengeras suara.

Pembacaan syair hikayat atau yang biasa diistilahkan bekayat oleh masyarakat muslim Lombok merupakan momen yang sudah mulai langka untuk ditemui, syair-syair hikayat berisikan cerita isfiratif, peringatan, anjuran  dan mauizul hasanah (nasihat baik) sudah sangat jarang terdengar,  jika dulu semasih kecil lantunan merdu dengan nada yang serasi sering terdengar disetiap ada acara di kampung-kampung sampai larut malam.

Memang Kelompok bekayat sudah seperti berguguran bak daun kering jatuh dari pohonnya dan hilang terurai oleh tanah entah kemana tanpa punya kader dan generasi penerus pembawa tongkat estafet, namun tidak demikian dengan kelompok Bekayat Al Bukhari Desa Sembung, sampai sekarang mereka selalu eksis untuk merawat dan menjaga tradisi berdakwah melalui lantunan syair hikayat. Mereka adalah sekumpulan pemuda Nahdlatul Ulama Kecamatan Narmada, sejak 8 tahun lalu mereka mulai mengembangkan kelompok bekayat sekaligus menepis anggapan jika kelompok Bekayat identik dengan kaum tua saja.

Dengan jumlah personil 6 orang dan pembagian tugas yang sudah diatur, kelompok Bekayat Al Bukhari biasanya menerima orderan untuk tampil diberbagai acara seperti acara sembilan hari kematian (nyiwa’), hajatan pernikahan, pemberangkatan haji, Maulid, Israk Mikraj serta hari besar Islam lainnya, acara biasayanya dimulai bakda isya sampai tengah malam membuat semua anggota kelompok harus tampil secara bergantian melantunkan nasihat yang mereka kutip dari berbagai sumber kitab.

Saat tampil malam itu dihadapan ratusan pasang mata yang sudah siap begadang sampai tengah malam seakan menambah asupan energi dan semangat bagi keenam personil Al Bukhari, belum lagi ribuan telinga yang dengan jelas mendengarkan syair mereka dari rumah masing masing melalui corong pengeras suara, inilah uniknya cara berdakwah yang satu ini, tidak hanya jamaah yang hadir dilokasi yang bisa menyimak pesan pesan dakwah mereka namun jamaah yang ada dirumahpun ikut meresapi sambil duduk rilek diberanda rumah, atau sambil istirahat berbaring ditempat tidur.

Dan anehnya masyarakat tidak pernah merasa terganggu dengan lantunan bait hikayat lewat pengeras suara meski menggunakan corong pengeras suara sampai larut malam, ini dibenarkan oleh besar warga desa Sembung, seperti yang dikatakan oleh Nursin 48 tahun waraga dusun Sembung Lauk, dengan sedikit berpuitis dia mengatakan “lantunan bekayat itu seakan menjadi cerita insfiratif pengantar tidur”.

Adalah Abu Adam 34 tahun yang menjadi pelopor terbentuknya kelompok bekayat Al Bukhari 8 tahun silam banyak menceritakan kisah perjalanan group bekayat yang ia sebut sebagai kelompok dakwah tradisional, mulai dari belajar kebanyak tokoh dan guru senior bekayat yang ada di Lombok, dia datangi secara rutin untuk menggali ilmu dari mereka, sampai akhirnya sedikit demi sedikit dia mulai memahi seluk beluk bekayat.

Masih menurut Abu Adam, apa yang disampaikan lewat lantunan merdu syair hikayat itu bukanlah hal yang mengada-ada maupun dibuat sendiri oleh kelompoknya, namun semuanya diambil dari sumber yang jelas yaitu dari kitab-kitab karangan ulama antara lain kitab Tambihul Gofilin, Zahrul Basim, Daqo’iqul Ahbar, Kifayatul Muhtaj, Syair Yatim Mustofa, Intan Berlian karya TGH Saleh hambali, Darma Tasiah, yang semuanya berisikan tentang kisah-kisah insfiratif dari orang-orang saleh, cerita alam gaib, nikmat dan siksa kubur, tauhid dan akidah untuk memperkuat keimanan, kisah suami istri menuju keluarga sakinah dan masih banyak yang lainnya, semua kitab tersebut dibaca dengan menggunakan bahasa arab melayu dan kemudian diartikan dalam bahasa sasak.

Saat ditanya apa saja yang harus disiapkan oleh sohibul hajat saat mengundang mereka, H Abdurrahim Salim salah seorang dari mereka menjawab, tidak ada yang perlu disiapkan  jika ada jamaah yang ingin mengundang mereka hanya biasanya disiapkan sekedar makanan pengganjal perut karena pelaksanaannya sampai tengah malam, sedangkan selebihnya tergantung dari yang punya hajat, “ini kami jalannkan lillahi ta’ala biar Allah yang membalas ikhtiar dakwah kami ini” ujar pria gemuk yang juga menjabat sebagai Penghulu Dusun Jejelok Desa Sembung.

Undangan untuk bekayat itu tidak hanya datang dari desa mereka sendiri namun sudah bisa dikatakan melanglang buana seatero pulau Lombok, “beberapa kali kami sering diundang bekayat kedaerah Mataram, Lombok Tengah dan daerah lainnya” kata Abu Adam.

Dan tidak hanya sebatas itu, group bekayat Al Bukhari juga sering ikut lomba bekayat diberbagai event, baik tingkat lokal maupun sampai kabupaten, pada tahun 2010 lantunan merdu hikayat mereka sampai terdengar saat event Festival Budaya tahun 2010 di Senggigi dan meraih juara kedua saat itu. Tentunya itu menjadi suplemen penambah semangat bagi mereka untuk terus mempertahankan kelestarian tradisi dakwah bekayat.

Di era tahun 70-an bekayat adalah tradisi dakwah yang populer dan sangat digemari kala itu, hingga pantaslah jika orang tua sekarang yang menikmati masa mudanya dizaman itu sangat antusias saat mendengarkan merdunya syair bekayat, seakan kerinduan terulangnya masa lalu sedikit bisa terobati. Namun bukan hanya dari kalangan tua saja akan tetapi group hikayat Al bukhari mulai menanamkan rasa cinta pada tradisi bekayat pada generasi muda dengan melatih pemuda-pemuda yang ada didesanya sebagai generasi penerus dikemudian hari. (Abdul Satar) - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru