Hidupkan Tradisi Bubur Abang

KM. Sukamulia – Setelah dua tahun alpa, warga RT 16 Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur sangat antusias melaksanakan tradisi Bubur Puteq dan Bubur Abang. Sejak mendengarkan pengumuman pak RT yang disiarkan melalui corong Masjid Al-Ridho Sukamulia pada hari Jum’at minggu lalu, masyarakat Dusun Sukamulia bergegas menyiapkan segala keperluan untuk melaksanakan tradisi lama yang hampir mereka lupakan. Dengan segala persiapan maka pada hari Jum’at tanggal 05 Desember 2014, warga setempat melaksanakan puncak prosesi Bubur Abang di pelataran Masjid Al-Ridho Sukamulia.

Pagi-pagi sekali, asap mengepul dari sebagian besar rumah warga. Tungku-tungku perapian dikelilingi oleh ibu dan anak-anak perempuannya sedangkan warga laki-laki sibuk mengupas kelapa yang akan dibuat santan oleh istri-istri mereka. Beras ketan disiapkan dan anak-anak kecil beralu lalang menuju rumah tukang heler (mesin tumbuk). Ketika matahari mulai tinggi, warga perempuan semakin sibuk membuat Bubur Abang dan beberapa jajanan tradisional yang harus ada sebagai kelengkapan isi dulang/sampak/nare yang akan mereka sajikan pada puncak prosesi Bubur Abang.

Bubur Abang mereka buat dari bahan beras ketan yang dicampur dengan adonan gula merah. Untuk memasaknya diperlukan waktu sekirat satu jam. Untuk kelengkapannya ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak remajanya sibuk membuat jajan cucur, lideran, abuk, dan gegodoh (pisang goring). Sebelum Jum’at peripan Bubur Abang harus sudah terselesaikan sebab setiap warga harus membawa dulang-nya ke Masjid sebelum Azan Jum’at dikumandangkan sebab puncak prosesi Bubur Abang akan dilaksanakan setelah usia shalat Jum’at.

Ketika trahim terdengar terdengar dari corong masjid, warga berbondong-bondong menyiapkan dulang-nya. Bubur Abang, Cucur, Lideran, Gegodoh, Abuk dan pisang adalah jajanan yang harus ada pada setiap dulang sebab demikianlah tradisi yang ditinggalkan oleh pendahulu Sukamulia dalam pelaksanaan Bubur Abang. Tentunya ada makna yang tersimpan dalam semua tatanan kegiatan tersebut, baik dari segi waktu, tempat pelaksanaan dan kelengkapan-kelengkapan yang harus ada dalam pelaksanaan tradisi dimaksud. Namun hal tersebut akan penulis paparkan pada artikel lainnya.

Selesai shalat Jum’at, warga Dusun Sukamulia yang laki-laki berkumpul di masjid untuk mendengarkan sambutan dari tokoh masyarakat yang dilanjutkan dengan wejangan dari ketua adat yang berisi makna dari tradisi Buburu Abang.

Dalam sambutannya Kadus Sukamulia (Hurnaen/36 th) memberikan apresiasi terhadap program konservasi tradisi lama yang dilakukan oleh ASA Community beserta segenap masyarakat RT 16 Dusun Sukamulia. Beliau berharap supaya kedepannya tradisi Bubur Abang dan tradisi-tradisi lama lainnya dapat dilaksanakan di semua kampung yang terlingkup dalam wilayah administrative Desa Pohgading Timur sebab pada masa-masa yang lalu tradisi ini dilaksanakan oleh semua warga Desa Pohgading Timur dan itu perlu dihidupkan kembali.

Apa yang diungkapkan oleh pak Kadus tadi meamang benar dan apa adanya sebab selama 2 tahun terahir ini tradisi Bubur Putek dan Bubur Abang tidak pernah dilaksanakan oleh warga Desa Pohgading Timur, padahan pada tahun-tahun sebelumnya tradisi ini dilaksanakan oleh seluruh warga Desa Pohgading Timur di Kampung mereka masing-masing. Maka bersyukurlah pada tahun 2014 ini, warga Dusun Sukamulia khususnya yang bermukim di RT 16 merasa terpanggil untuk menghidupkan kembali tradisi lama tersebut supaya kedepannya generasi-generasi penerus di kampung itu pada khsusunya dan masyarakat suku Sasak pada umumnya dapat mengenal dan melestarikan tradisi-tradisi pengadenk-adek dengan toaq.

Selanjutnya, Amaq Husni (Ketua Adat Dusun Sukamulia) menyampaikan bahwa tradisi Bubur Puteq dan Bubur Abang merupakan

Tradisi Bubur Puteq dan Bubur Abang merupakan tradisi tahunan yang pada zaman dahulu dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat Sasak yang terpencar di berbagai penjuru pulau Lombok, termasuk di kampung kita ini (Dusu Sukamulia dan sekitarnya). Seiring dengan perkembangan waktu, arus moderinisasi dan globalisai telah menggilas pikiran tradisional masyarakat Sasak yang ahinya menyebabkan banyak diantara mereka meninggalkan tradisi-tradisi lama dan menggantinya dengan tradisi-tradisi baru dengan berbagai alasan, tegas beliau di depan jamaah Masjid Al-Ridho Sukamulia.

Beliau juga menerangkan bahwa Bubur Puteq dan Bubur Abang merupakan gambaran dari kejadian manusia. Bubur Puteq adalah peringatan atas kejadian kita dari percampuran air mani dan Bubur Abang adalah perlambangan peringatan bahwa sesungguhnya kita semua berasal dari segumpal darah yang terjadi atas pergumulan ibu dan bapak kita. Coba kita perhatikan bagaimana papuq baloq kita menyajikan Bubur Puteq dan Bubur Abang, sajian itu mereka taruh dalam sebuah sampak/nare atau disebut juga dengan dulang, lalu itu diisi dengan jajan yang berupa cucur, lideran, abuk dan pisang. Itu semua adalah gambaran dari asal usul kehidupan kita. Satu sampak artinya, ibu dan bapak kita bersatu dalam satu ikatan perkawinan, cucur adalah lambang kemaluan ibu kita, lideran adalah lambang kemaluan bapak kita, abuq adalah lambang penyatuan keduanya yang kemudian menghasilkan tubuh kita yang dialiri darah dan kemudian dibungkus oleh daging, lalu kenapa abuq dibungkus dengan daun pisang ? itu adalah perlambangan bahwa tubuh kita ini dibungkus dengan kulit yang juga harus kita berikan pakaian dan pakaian itulah yang disebut dengan rasa malu. Sebab itu, siapa saja yang tidak punya rasa malu maka itulah orang-orang yang telanjang dan bisa dikatakan sebagai orang kafir atau tidak beragama. Untuk itu, sungguh sayang sekali jika kita harus meninggalkan tradisi Bubur Puteq dan Bubur Abang sebab lewat tradisi ini, papuq-baloq kita mengajarkan kepada kita akan arti kehidupan supaya kita mengenal diri kita dengan sebenar-benarnya. Dan saya bersyukur, hari ini kita dapat melaksanakan tradisi ini lagi, setelah dua tahun tidak pernah kita lakukan dan semoga kedepan tradisi ini tetap kita laksanakan dan pertahankan, pungkas Ketua Adat dengan suara yang bergema.

Setelah jamaah mendengarkan sambutan dan wejangan dari tokoh masyarakat dan tokoh adat-nya maka acara ditutup dengan dzikir dan doa sebab tujuan utama pelaksanaan Bubur Abang adalah untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT supaya seluruh warga dilindungi dari wabah penyakit dan malapetaka, baik bagi warga ataupun bagi tanah pertanian yang mereka kelola. Selesai melakukan dzikir dan doa, secara serempak jamaah membuka tembolak (penutup dulang) dan menikmati jajanan yang tersedia pada dulang yang mereka dapatkan dan setelah semuanya uasai maka jamaah membungkus jajanan yang terhidang pada dulang yang mereka dapatkan dan itulah yang kemudian disebut berkat/oleh-oleh, dengan demikian maka selesailah seluruh rangkaian acara tradisi Bubur Abang yang merupakan tradisi bernilai luhur bagi kehidupan para pelakunya. [] - 05

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru