Nilai Luhur Tradisi Gawe Pati

Gawe adalah salah satu kegiatan adat atau tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Sasak secara umum. Gawe juga sering disebut dengan istilah roah atau sering juga disebut selametan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Gawe merupakan prosesi selamatan yang dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak terkait dengan acara-acara adat baik yang berkaitan dengan selamatan daur hidup seseorang, acara-acara yang terkait dengan masalah kematian, dan acara-acara yang terkait dengan masalah peringatan Hari Besar Agama.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Suku Sasak terdapat empat jenis Gawe yang senantiasa dilaksanakan, yaitu Gawe Uruf, Gawe Adat Gama, Gawe Pati dan Gawe yang terkait dengan masalah sosial lainnya. Pada artikel kali ini hanya akan dibahas mengenai Gawe Pati atau acara-acara yang terkait dengan kematian seseorang beserta amanat yang terkandung dalam pelaksanaan Gawe tersebut. Gawe Pati itu terdiri dari Selamet Gumi, Nelung, Nituq/Mituq, Nyiwaq, Matang Pulu/Empat Pulu, Nyatus, Nyiu, dan Naun.

Gawea Pati adalah rentetan kegiatan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Suku Sasak terkait dengan peringatan atas kematian seorang anggota keluarganya. Umunya tradisi ini dilaksanakn pada sebagian besar masyarakat Suku Sasak yang menganut agama Islam. Tradisi Gawe Pati merupakan tradisi lama yang terus diwariskan dan dilaksanakan oleh masyarakat suku Sasak hingga saat ini yang meskipun di zaman moderenisasi ini sudah banyak masyarakat suku Sasak yang meninggalkan tradisi tersebut atas berbagai alasan dan atau banyak pula masyarakat suku Sasak yang masih tetap melaksanakan tradisi dimaksud namun mereka tidak paham akan arti dan makna filosofi pelaksanaan tradisi tersebut sehingga mereka melaksanakannya dengan cara-cara modern, terutama dalam prosesi pelaksanaannya.

Sebagaimana dijelaskan pada bian sebelumnya, tradisi Gawe Pati dilaksanakan oleh keluarga atas wafatnya seorang anggota keluarga mereka. Masyarakat Sasak melaksanakan Gawe Pati sejak penggalian makam hingga hari keseribu setalah meninggalnya anggota keluarga mereka. Tujuan dilaksanakannya acara ini adalah untuk mendoakan keluarga mereka yang meninggal dunia supaya diampuni dosa-dosanya dan diberikan tempat yang layak diharibaan Allah Yang Maha Kuasa. Selain tujuan tersebut, dalam pelaksanaan Gawe Pati juga tersimpan makna dan amanat yang sangat luhur bagi keluarga dan handaitolan yang ditinggalkan/yang masih hidup. Untuk itu, artikel kali ini akan menjabarkan mengenai prosesi pelaksanaan Gawe Pati dan makna yang terkandung dalam setiap tahapan pelaksanaannya.

1. Selamet Gumi

Selamet Gumi atau yang kerap disebut dengan istilah Nyusur Tanaq merupakan acara yang diselenggarakan pada hari pertama kematian seseorang. Acara ini sering juga disebut dengan acara Nepong Tanaq (menggali kuburan) yaitu suatu prosesi yang dilakukan pada pagi hari sebelum jenazah seseorang dimandikan ataupun dikafani, acara ini dilakukan oleh siapa saja yang dianggap bisa atau mampu oleh keluarga orang yang meninggal dan dibarengi oleh seorang Kiyai sebagai pemimpin pelaksanaannya.

Acara Selamet Gumi merupakan kewajiban bagi setiap keluarga yang ditinggalkan oleh anggota keluarga yang meninggal dunia. Prosesi pelaksanaan acara ini cukup sederhana, dimana keluarga menyilak (mengundang) seorang kiyai yang nantinya akan dilipahi tugas untuk memimpin beberapa orang yang dipercayainya sebagai penggali kubur. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk membuka atau membuatkan pintu masuk bagi rumah yang akan ditempati oleh arwah orang yang meninggal. Oleh karena itu, biasanya yang memimpin acara ini adalah orang yang dianggap mampu dalam lingkungan masyarakat setempat, yaitu sang Kiyai Adat.

Setelah sang kiyai dilimpahi tugas dimaksud maka beliau langsung menunjuk beberapa orang warga setempat yang dianggap paham secara kemaknaan, mampu dan mahir untuk menggali kuburan. Biasanya sang kiayai hanya akan menggunakan 4 orang saja sebai pembantunya untuk menggali kuburan. Hal ini dilakukan atas dasar pemikiran bahwa sesungguhnya seseorang yang telah meninggal akan didatangi oleh 4 orang malaikat dari arah 4 arah (kiri, kanan, atas dan bawah kepala) dan pada saat si mayat sedang sekarat maka ia didatangi oleh 4 orang malaikat pula, yaitu malaikat yang bertugas memberinya rizki atas nafas, malaikat yang bertugas memberinya rizki berupa air, malaikat yang bertuga memberinya rezeki berupa kehangatan/api, dan malaikat yang bertugas memberikannya makanan yang bersumber dari seluruh penjuru bumi. Ke ekmpat malaikat tersebut mendatangi orang yang sekarat dan kemudian mencarikannya rezeki, setalah keliling ke seluruh penjuru langit dan bumi maka mereka tidak menemukan apapun untuk orang yang akan meninggal itu dan setelah itulah maka malaikat pencabut nyawa mencabut nyawa orang tersebut sebab jatah hidupnya/rizkinya telah habis maka meninggallah orang tersebut. Atas dasar filosofis tersebut maka sang kiyai membutuhkan 4 orang pembantu untuk menggalikan kubur untuk si mayat.

Setelah sang kiyai bersama 4 orang pembantunya sampai di tempat pemakaman maka terlebih dahulu mereka meletakkan barang-barang bawaannya dimana sang kiyai membawa penginangan (wadah sebagai tempat menaruh perlengkapan makan sirih), benang setukel, bunga ramapi, dan empok-empok (padi yang sudah digoreng). Sedangkan 4 orang lainnya membawa ceret/kendi yang berisi air, bakaq (keraro), pakaian orang yang akan digalikan kuburannya/si mayat, dan seorangnya lagi membawa piring kosong). Selain itu, mereka juga membawa  alat yang akan digunakan untuk menggali kuburan.

Setelah semua meletakkan barang bawaannya maka sang kiyai mencari tempat yang tepat sebagai tenpat peristirahatan si mayit, hal ini dilakukan jika keluarga si mayat belum menentukan tempat penggalian makam dan apabila keluarga telah menentukan tempat kuburannya maka sang kiyai akan langsung mencari tempat tersebut. Setelah lokasi pemakaman itu di temukan maka sang kiyai akan berdiri tegak menghadap kiblat serya membaca doa (entah doa apa yang dibacanya). Setelah itu sang kiyai akan mengumandangkan adzan, selesai beradzan maka sang kiyai mengambil segenggam tanah dari bawah telapak kakinya yang kanan dan mulailah beliau menggaris batas-basat pemakaman yang akan digali oleh ke-4 orang panakawannya.

Sementara itu, di rumah keluarga orang yang meninggal tersebut berlangsung acara langaran/berbela sungkawa, dimana kawan, kerabat, sahabat, dan handaitolan serta masyarakat setempat berdatangan ke rumah keluarga orang yang meninggal tersebut. Kedatangan mereka bertujuan untuk menyatakan rasa belasungkawa dan sekaligus menghibur anggota keluarga yang ditinggalkan. Sahabat, keluraga dekat, dan handaitolan biasanya hanya datang lalu menaruh pelangar saja dan kemudian meninggalkan rumah duka.

Pelangar laki-laki biasanya membawa amplop atau uang tanpa amplop yang kemudian diserahkan kepada anggota keluarga yang bertugas untuk duduk menerima kedatangan mereka. Sedangkan pelangar perempuan biasanya membawa satu buah piring dan sabut atau sebuah piring dan uang. Di tenpat-tempat lain penulis juga melihat pelangar perempuan membawa beras dan uang. Rizki yang didapakan dari pelangar itulah yang nantinya akan digunakan sebagai biaya pelaksanaan acara, mulai dari hari itu hingga hari ke-40.

Pada bagian lain, masyarakat dan keluarga serta sahabat dekat sibuk mencari bambu yang nantinya akan diguanakan untuk membuat gorong batang (keranda mayat). Setelah bambu dan perlengkapan lainnya siap maka mereka langsung membuat keranda mayat yang nantinya akan digunakan untuk mengantar si mayat ke pemakamannya. Setelah pembuatan keranda mayat selesai maka tokoh-tokoh yang dipercaya membuatkan pakain untuk sang mayat, 9 lempir/helai kain kapan untuk mayat laki-laki dan 7 helai/lempir kain kapan untuk mayat perempuan.

Menurut keyakinan masyarakat setempat laki-laki lebih dahulu dua hari diciptakan dari pada wanita. Artinya, masyarakat setempat meyakini bahwa Nabi Adam 2 hari lebih dahulu diciptakan dengan sempurna dan kemudian barulah Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuknya sebelah kiri. Atas dasar ini pula sehingga masyarakat setempat melaksanakan puncak prosesi Gawe Pati pada hari ke-9 bagi laki-laki dan pada hari ke-7 bagi perempuan. Sungguh setiap pelaksanaan acara Gawe Pati ini mengandung makna yang luhur dan sungguh luar biasa leluhur suku Sasak dalam memahami ajaran agama Islam.

Setelah kain kapan selesai dipotong-potong maka janazah-pun dimandikan. Pemandian janzah dilakukan oleh seorang kiyai saja (di Bayan) dan di daerah-daerah lainya pulau Lombok yang masi memegang teguh tradisi lama, biasanya janazah dimandikan oleh seorang kiyai dan dibantu oleh 3 – 4 orang anggota keluarga sang janazah.

Tradisi memandikan janazah yang paling unik penulis temukan di wilayah Desa Bayan. Sebelum sang janazah dimandikan, sang kiyai adat terlebih dahulu diberi minum. Air yang diminumkan kepada sang janazah disebut dengan air berkat (air yang telah dibacakan mantera oleh sang kiyai). Air tersebut biasanya ditaruh dalam jambangan yang terbuat dari bahan kuningan (bokor) dan ketika diminumkan, sebagian air tersebut dituangkan ke mulut si mayat dengan menggunakan gelas. Setelah air itu dituangkan ke mulut janazah, sang kiyai kemudian mewudukkan sang janazah. Selesai itu, maka sang kiyai memnadikan janazah dengan air yang dibuat dari ramuan air daun biduri, air bagek (asam), dan air yang telah dicampur dengan kapur barus. Setelah tiga jenis air ramuan tersebut disiramkan ke badan janazah maka air bersih-pun disiramkan sebagai air bilasannya. Dengan demikian selesailah prosesi menadikan janazah yang penulis temukan di wilayah Bayan. Perlu juga penulis ceritakan bahawa yang memandikan mayat hanyalah seorang kiyai saja tanpa dibantu oleh orang-orang lainnya.

Menurut keterangan masyarakat setempat, setiap masyarakat Bayan yang meninggal dunia dimandikan dan ditakbirkan dua kali, yaitu mandi dan takbir pertama dilaksanakan saat nyawa seseorang baru meninggalkan jasadnya. Si mayat dimandikan oleh seorang Kiyai Adat, mandi pertama ini dilakukan untuk membersihakan si mayat dari hadas dan nakjis. Setelah selesai dimandikan Kiyai melantunkan kalimat takbiran (Ketebiran  : Bahasa Bayan) di dekat telinga si mayat, takbiran itu dilantunkan sebanyak 7 kali (jika si mayat adalah anak-anak), jika yang meninggal orang dewas takbir yang pertama itu dilantunkan sebanyak 11 kali, setelah itu Kiyai Adat  meninggalkan tempat.

Setelah semua warga dan sanak famili/keluarga yang meninggal sudah berkumpul, maka para Kiyai Adat dipanggil lagi untuk menyiapkan kain kafan yang akan digunakan untuk membungkus janazah. Pemotongan kain kafan dilakukan oleh Kiyai Pengulu dan jika di sana tidak ada Kiyai Pengulu baru boleh dilakukan oleh Kiyai Adat lainnya (Kiyai Lebe, Kiyai Ketib dan atau Kiyai Mudim). Dalam pemotongan kafan ini tanpak Kiyai membaca mantra dalam waktu yang cukup lama, beliau dibantu oleh seorang Kiyai lainnya, pisau yang digunakan juga bukan pisau yang sembarangan, jadi seorang Kiyai sudah memiliki pisau khusus untuk memotong kain kafan.

Jika semua keluarga sudah merasa siap untuk memakamkan janazah maka keluarga yang meninggal mempersilahkan (Menyilak) Kiyai untuk memandikan dan mentakbirkan si mayat untuk kedua kalinya. Dalam prosesi mandi kedua ini disediakan dua macam air yaitu Aik Sangu dan Aik Suci. Pertama-tama Kiyai mengusapkan air Sangu di bibir si mayat lalu mayat tersebut diberi minum dengan cawan/gelas. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, tujuan si mayat diberi minum dengan air itu adalah sebagai bekal si amayat dalam melakukan perjalanan menuju hadirat Sang Pencipta. Setelah itu barulah si mayat dimandikan dengan air suci, dan terakhir dikasih Bedak Keramas yakni campuran air kemiri dengan sedikit santan yang digunakan untuk mengkramasi si mayat. Ahir dari proses memandikan selesai maka sang kiyai mewudu’kan si mayat dengan tujuan supaya arwah si mayat pulang ke Haribaan Allah dengan penuh kesucian. Setelah sang mayat selesasi dimandikan maka Kiyai Pengulu langsung memasangkan kain kafan sebagai pembungkus badan si mayat.

Hal yang paling menarik dari apa yang saya saksikan dalam prosesi Selamet Gumi yang dilaksanakan oleh masyarakat Bayan ini adalah ketika pelaksanaan sholat janazah. Cara pelaksanaan shalat janazah itu cukup unik dan sederhana, janazah hanya dishalatkan oleh seorang Kiyai Saja. Ini merupakan suatu hal yang unik yang penulis saksikan langsung dengan mata tanpa kaca. Yang boleh menyolatkan si mayat hanya seorang Kiyai, cara pelaksanaannya sederhana, sebelum memulai sholat Kiyai berbisik pada bagian telinga mayat selama kurang lebih 5 menit. Entah apa yang ucapkan, setelah itu barulah ia melakukan sholat janazah (Ngipayahin : Bahasa Bayan). Selseai salam Kiyai langsung duduk dan menyalakan batu kemenyan pada tempat yang sudah disediakan selanjutnya setelah asap kemenyan mengepul Kiyai menaruh tangannya di atas tempat kemenyan tersebut, lalu mengusapkan telapak tangan pada bagian muka si mayat dan barulah Kiyai mulai mentakbirkan si mayat sebangayak 9 kali bagi anak-anak dan 13 kali bagi orang dewasa. Menurut kepercayaan masyarakat setempat kalimat takbir ditujukan untuk mengngatkan si mayat bahwa ia telah kembali kepada sang khalik.

Setelah disholatkan dan dibacakan takbir selanjutnya keluarga, tetangga, dan para Kiyai mengantar janazah ke tempat pemakaman. Prosesi pemakaman tidak jauh beda dengan pemakaman secara Islam, hanya saja dalam prosesi pemakaman di masyarakat Bayan terdapat satu keunikan yakni setelah pemakaman selesai Kiyai langsung menyalakan kemenyan setelah kemenyan mengepulkan asap baru Kiyai memulai doa-nya. Ketika doa sedang berlangsung, beberapa orang anggota keluarga orang yang telah dimakamkan itu berdiri dan berkeliling di sekitar orang-orang yang sedang mengamini doa sang kiyai. Ternyata keluarga janazah membagikan uang kepada para pengantar janazah.

Prosesi Gawe Urip yang dilakukan oleh masyarakat Bayan sesungguhnhya adalah tradisi lama yang dulunya memang dilaksanakan oleh sebagian besar suku Sasak, namun dengan kemajuan pemahaman agama maka saat ini cara-cara tersebut sudah banyak ditinggalkan oleh Penghuni Pulau Seribu Masjid. Prosesi yang mirip masih pula dilaksanakan dibeberapa tempat, seperti di Desa Lenek, Pohgading Timur (Khususnya di Dusun Sukamulia), Pohgading Induk (khususnya di Dusun Dedalpak), di wilayah Pujut Loteng dan beberapa daerah tradisional lainnya. Hanya saja prosesi yang dilaksanakan di daerah-daerah tersebut tidak seunik pelaksanaan yang di Bayan.

Acara pemakamakn telah selesai, keluarga, sanak famili, dan segenap pengantar janazah pulang menuju rumah masing-masing tetapi warga perempuan tetap sibuk meriap/memasak segala kebutuhan yang akan digunakan dalam acara zikiran yang merupakan puncak pelaksanaan acara Selamet Gumi. Secara umum, masyarakat suku Sasak melaksanakan djikiran Selamet Gumi pada malam hari, tepatnya setelah selesai pelaksanaan shalat magrib. Hal ini berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat Bayan dan Loloan.  Prosesi acara Selamet Gumi dilakukan di rumah almarhum, tepatnya sepulang dari tempat pemakaman. Dalam acara ini para Kiyai berkumpul di Berugak Kagungan untuk memberikan doa selamat kepada almarhum, sehabis dzikir dan doa para Kiyai menikmati alakadar yang disediakan oleh keluarga almarhum. Setelah semuanya selesai, tanpak keluarga almarhum membawa barang-barang yang disebut Sedekah atau dalam bahasa sasak umumnya disebut Peseraan. Keluarga almarhum diwakili oleh siapa saja yang ditunjuk untuk menyerahkan barang/Sedekah itu kepada para Kiyai.

Setelah semuanya siap maka pihak keluarga yang dipercayakan naik ke Berugak Kagungan untuk melakukan serah terima barang-barang tersebut. Di atas Berugak Kagungan tanpak utusan keluarga berhadap-hadapan dengan Kiyai lalu mengucapkan izab kabul yang kurang lebih bunyinya seperti ini, ”silaq Kiyai, silaq Pembekel, Toak Lokak sami saksi saitin aku serah sidikah silawat (menyebutkan nama almarhum) lileq dunia sampainakheratpuput sajir tiba kabir tutut rurung agung seundak dibaning puncak. Perkataan ini diucapkan 3 kali, kemudian diakhiri dengan ucapan Allahhummasalli Muhammadin waala ali Muhammad. Perkataan ini dijawab oleh Kiyai sambil menjabat tangan orang yang menyerahkan tadi, Kiyai mengucapkan Salam mulih ingkang hang duini”. Setelah selesai izab kabul tersebut, maka utusan yang menyerahkan itu menyalami segenap Kiyai yang hadir selanjutnya turun dari Berugak Kagungan. Perlu diketahui bahwa Sedekah yang diserah itu berupa barang-barang perlengkapan hidup secukupnya, mulai dari kain, sapuk, tikar, peralatan rumah tangga, buah-buahan, dan sebagainya.

Di daerah lain, penulis melihat sebagain suku Sasak melaksanakan puncak acara Selamet Gumi pada malam hari, setelah shalat magrib. Puncak acara ini dilakukan dengan mengundang beberapa orang kiyai adat dan tokoh masyarakat ke rumah keluarga orang yang dimakamkan tadi. Setelah semuany berkumpul maka sang kiyai mengambil posisi untuk memimpin kegiatan, yaitu membaca berjanji, selakaran, dzikir dan diahiri dengan doa. Setelah berdoa, semua jamaah dihidangkan alakadar berupa masakan-masakan tradisional. Para kiyai dan tokoh masyarakat-pun menikmati alakadarnya dengan cara begibung. Demikianlah salah satu prosesi Gawe Urip yang dilaksanakan oleh masyarakat yang ada di Bayan. Di derah-daerah lain, secara umum puncak prosesi Selamet Gumi dilaksanakan pada malam harinya dengan melakukan acara pembacaan surat Yasin, dzikiran dan doa bersama. 

2. Nelung

Nelung berasal dari kata tiga, jadi yang dimaksud dengan Nelung  adalah peringatan tiga hari kematian seseorang. Dalam pelaksanan acara ini keluarga orang yang meninggal mengundang para Kiyai ataupun Penghulu untuk memimpin doa dalam acara ini, acara inti dalam pelaksanan Nelung ini adalah pemberkatan do’a pada air wangi yang telah disediakan oleh keluarga dalam sebuah Paso Tanaq (kendi) yang diisi dengan 40 keping Kepeng Tepong (uang bolong), bunga rampai, beras dan Lekesan/kelengkapan makan sirih.  Mulai Air wangi ini akan dituangkan di atas kuburan orang yang diniatkan pada setiap senjahari sampai hari ketujuh dengan tujuan supaya arwah yang diniatkan tidak mengalami kesulitan untuk menuju haribaan Tuhan. Makna pilosofis dari diadakannya acra ini adalah bahwa segala sesuatu itu harus mengalami tiga perkara yaitu lahir, besar dan ahirnya akan mati serta konsep kosmologi yang mengatakan bahwa bumi ini di penuhi oleh mahluk yang berasal dari tiga proses yaitu mentioq, menteloq, dan menganaq.

Menurut kepercayaan leluhur masyarakat Lombok acara Nelung berati memperingati tiga hari kematian seseorang, setiap orang yang meninggal dunia. Acara ini diselenggarakan sebagai peringatan bagi orang yang masih hidup bahwa semua orang pasti mengalami tiga proses dalam kehidupan yaitu dari dilahirkan, dibesarkan dan meninggal dunia. Makna lain dari acara ini adalah untuk mengingatkan kepada kita yang masih hidup bahwa manusia itu berasal dari ayah, ibu dan Alloh, selain itu nenek moyang suku Sasak juga mempercayai bahwa semua yang ada di muka bumi ini berasal dari tiga proses yaitu Mentiok, Mentelok dan Menganak. Konsep lain yang mendasari pelaksanaan ritual ini adalah kepercayaan masyarakat suku Sasak yang mengatakan bahwa  manusia diciptakan dalam tiga proses, yakni proses penciptaan ruh (Nur Muhammad) yang menjadi nyawa bagi seluruh manusia, malaikat dan jin, proses pendiptaan di alam rahim, dan proses kehidupan di dunia.

3. Dina Nituq

Dina Nituq adalah acara yang dilakukan pada hari ketujuh kematian seseorang, dibandingkan dengan acara Nelung, Dina Nituq ini lebih besar perayaannya. Pada acara ini dilakukan gawe dengan menyembelih seekor kerbau atau sapi untuk memperingati hari ketujuh kematian seseorang, pada upacara Nituq inilah dilakuakan selawat mayit yaitu penyerahan selawat orang yang telah mati kepada para kiyai yang diniatkan dan umumnya semua kiyai yang ada dilingkungan tempat tinggal almarhum semasa hidupnya.

Selawat ini diserahkan setelah para undanga selesai membaca selawat yang dipinpin oleh kiyai, selanjutnya barang-barang salawat tersebut dibawa keluar oleh rombongan yang sudah ditunjuk oleh keluarga yang dipinpin oleh Amaq Lokaq yaitu keluarga almarhum yang paling tua kemudian dibawa ke tempat dilakukannya selawat oleh para tamu undangan dan Kiyai yaitu di Berugak Kagungan setelah itu barulah Amaq Lokaq tersebut berhadapan dengan Kiyai Pengulu kemudian berjabat tangan sebagai penyerahan atau ijab dan qabul dari barang-barang salawat mayit yang terdiri dari perangkat kelengkapan hidup, setelah diterima oleh para Kiyai secara bergiliran maka dilanjutkan dengan pembacaan do’a salawat sebagi penutup dari rangkaian acara Nituq. Selanjutnya barang-barang tersebut di antarkan oleh masing-masing petugas kepada siapa saja yang tertulis namanya pada perangkat barang-barang tersebut.

Menurut kepercayaa nenek moyang suku Sasak percaya bahwa manusia itu hidup di dunia hanya dalam waktu tujuh hari (Dina) oleh sebab itulah setiap orang yang meninggal dunia harus dirayakan acara Nituq sebagai peringatan kepada kita yang masih hidup bahwa dalam tujuh hari kita harus bersiap-siap untuk menghadapi kematian. Selain itu mereka juga mempercayai bahwa manusia hidup di dunia yang terdiri dari tujuh lapisan dan setelah mati kita akan hidup di langit yang terdiri dari tujuh lapisan pula. Konsep lain yang mendasari pelaksanaan acara ini adalah kepercayaan bahwa setelah tujuh hari barulah arwah seseorang berlayar untuk menuju kepada yang kuasa dan acara ini diadakan dengan harapan supaya arwah keluarga yang meninggal dapat sampai dengan selamat dan diterima oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Barang-barang yang disiapka dalam pelaksanaan acara ini akan digunakan oleh arwah almarhum yang diniatkan sebagai bekal menghadapi hidupnya di alam baka, selain itu menurut kepercayaan nenek moyang suku Sasak, pada hari ketujuh ini arwah seseorang masih dalam perjalanan atau berlayar menuju alam baka, sehingga setiap 7 hari sekali yaitu hari yang bertepatan dengan hari wafatnya almarhum diadakan acara Pelayaran untuk memberikan bekal bagi pelayaran arwah orang yang telah meninggal.

4. Dina Nyiwaq

Acara ini diselenggarakan pada hari kesembilan setelah kematian seseorang tapi acara Dina Nyiwaq  ini tidak seperti pelaksanan Dina Nituq yang dilakukan dengan penuh prosesi dan dengan pesta yang lumayan besar. Pada pelaksanan Dina Nyiwaq  dilakukan dengan pembacaan do’a selawat saja sama dengan pada pelaksanan Nelung. Dalam pelaksanaan acara ini juga diadakan Pesilaan untuk memberikan doa kepada selawat mati yang akan diserahkan oleh keluarga kepada para Kiyai.

Sebagaimana acara lainnya, Dina Nyiwaq juga memiliki makna dan pesan luhur kepada kita yang masih hidup. Makna dari acar Nyiwaq ini adalah untuk memperingati bahwa setiap manusia memiliki sembilan lubang di dalam tubuhnya yang kesemuanya akan tertutup apabila kita sudah mati sehingga bagi kita yang masih hidup sebaiknyalah kita menggunakan kesembilan lubang itu untuk memperbuat hal-hal yang baik dan memeliharanya dari hal-hal yang tidak baik supaya kita terbebas dari siksa kubur dan siksa neraka.

Dengan demikian makna atau nilai filosofis yang dapat kita pelajarai dari dilaksanakannya acara Nyiwaq adalah manusia hidup di dunia dengan kelengkapan sembilan buah lubang pada tubuhnya, yaitu 2 lubang mata, 2 lubang telinga, 2 lubang hidung, 1 mulut, 1 lubang anus dan 1 lubang kemaluan. Ke sembilan lubang ini memiliki fungsi yang vital bagi kehidupan manusia dan apabila ke sembilan lubang itu tertutup maka matilah seseorang. Ke sembilan lubang tersebut juga sangat berpengaruh bagi seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik atau sebaliknya, sehingga keselamatan seseorang tergantung pada baik atau buruknya penggunaan ke sembilan lubang tersebut ketika nyawa masih dikandung badan. Dengan jagalah ke sembilan lubang tersebut sebab kesembilan lubang tersebut pasti akan tertutup yaitu dengan datangnya kematian.

5. Dina Matang Pulu

Acara ini diselenggarakan pada hari ke empat puluh terhitung sejak hari wapatnya. Pelaks acara Matang Pulu ini tidak jauh berbeda dengan acara Nituq, yang membedakannya dalah beberapa perelatan yang digunakan dalam pelaksanan acara ini dan acara Matang Pulu ini lebih besar dari pada acara Nituq sedangkan prosesinya sama saja.

Makna filosofis dari pelaksanan Dina Matang Pulu adalah kepercayaan bahwa manusi berasal dari empat unsur kejadian yaitu unsur tanah, air, api dan udara/angin. Selain itu nenek moyang suku Sasak mempercayai bahwa pada hari ke 40 arwah seseorang sudah berada dalam perjalanan yang cukup rumit yaitu arwah tersebut terus tertiup oleh angin yang entah kemana Ia akan dibawa, maka untuk menyelamatkannya perlu diberi bekal yaitu bekal salawat dan doa yang dibacakan oleh Kiyai bersama para undangan untuk memberinya kekuatan melanjutkan perjalanan. Mereka juga mempercayai bahwa pada saat seseorang berada di dalam rahim ibunya, ia mengalami perubahan pada setiap 40 hari, 40 hari pertama masih berbentuk darah, 40 hari kedua sudah berbentuk daging dengan tulang-tulang rwan, 40 hari ketiga mulai ditiupkan nyawa, 40 hari keempat sang janin mengambil perjanjian atas rizkinya berupa nafas, 40 hari ke lima badan sudah sempurna dan mengambil perjanjian atas rizkinya yang berupa air dan makanan, 40 hari ke enanam perjanjian atas rezeki yang berupa jodoh, dan 40 hari ketujuh adalah pengambilan perjanjian/kesepakatan tentang adzal.

6. Dina Nyatus Dan Nyiwu

Sesuai dengan namanya Dina Nyatus dilakukan pada hari keseratus terhitung dari hari kematian demikian pula dengan Nyiwu dilakukan pada hari keseribu terhitung dari hari kematian. Cara pelaksanannya sama dengan acara Nelung. Menurut kepercayaan nenekmoyang suku Sasak pada hari keseratus arwah keluarga mereka yang telah meninggal dunia sudah sampai pada setengah perjalanan, sedangkan pada hari keseribu (Nyiwu)  arwah tersebut sudah bebas atau telah sampai kepada tujuannya yaitu Sang Pencipta Alam Semesta beserta isinya disana arwah akan menjalani hidup barunya dengan segala bekal yang telah dibawa dan dikirimkan oleh keluarganya lewat selawat mati. Jika ia membawa bekal amal atau budi baik yang banyak maka syurgalah tempat tinggalnya dan apabila sebaliknya maka neraka adalah tempat tinggalnya. Dengan demikian nilai yang dapat diambil dari pelaksanaan Dina Nyatus dan Nyiu adalah pengejaran bahwa sesungguhnya kita semua akan mati dan terpisah dari seluruh apa yang kita cintai maka gunakanlah umur/hidup itu untuk berbuat kebaikan dan amal-amal saleh supaya kelak kita menjadi orang yang beruntung dan apabila sebaliknya maka kita aka menjadi orang yang sangat merugi.

Demikianlah paparan yang penulis jabarkan dengan berbagai kelemahan dan kekurangan, semoga isi artikel ini dapat menambah pengetahuan kita semua, terutama mengenai tradisi Gawe Pati yang dilaksaanakan oleh masyarakat Suku Sasak dan semoga pula kita semua dapat mengambil pelajaran dari nilai-nilai luhur yang tertanam dalam segenap rangkaian ritual Gawe Pati tersebut dan semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung di sisi Allah SWT, amin ya robbal alamin.... [] - 01

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru